logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Budaya

Hakikat Kebudayaan adalah Mengubah Kebiasaan


Ilustrasi hakikat kebudayaan

Tahukah Anda hakikat kebudayaan? Fungsi terbesar dari kebudayaan adalah membuat manusia peduli terhadap sesamanya yang berlandaskan cinta. Tidak memandang agama, jenis kelamin, ras, dan ideologi. Itu sebabnya, teknologi terbarukan terus tercipta dari hasil pemikiran dan kreasi-kreasi ahli. Semua berguna untuk menunjang kebutuhan manusia bukan untuk menggantikan fungsi manusia.

Hakikat kebudayaan

Secara ringkas, budaya terdiri dari suku kata yakni budi dan daya (akal). Dalam bahasa Inggris disebut culture yang berarti segala upaya dan kegiatan manusia untuk mengelola alam. Secara definitif, hakikat budaya memang kompleks karena mencakup ideologi, kepercayaan, moral, hukum, adat dan lain sebagainya.

 Kebudayaan jika dimaknai secara bebas adalah hasil cipta manusia, yang dilandasi dari kebiasaan, kepedulian yang dibangun dengan sentuhan karya seni, yang bertujuan menunjukan eksistensi sebuah komunitas masyarakat.   Kebiasaan –kebiasaan ini berlangsung sejak lama dan diteruskan dari generasi ke generasi hingga sekarang ini.

Ketika budaya tumbuh pada sebuah komunitas masyarakat, maka masing-masing anggota masyarakat wajib memelihara budaya tersebut agar identitasnya tak luntur.  

Sifat Kebudayaan

Berikut ini adalah beberapa hal yang merupakan sifat kebudayaan.

  • Terjadi karena perubahan perilaku kebiasaan (habit) manusia.
  • Cenderung berkembang dalam setiap zaman.
  • Tradisi tertentu masih perlu melakukan ritual tertentu karena menganggap ada kekuatan lebih besar selain dari manusia, yakni Tuhan.
  • Kebudayaan seperti musik cenderung abadi. Hal ini dibuktikan dengan masih banyaknya langgam-langgam lawas yang dirilis ulang.
  • Hukum dan budaya menghadapi persoalan yang serius. Hal ini sering terjadi ketika penentuan tanah berdasarkan hukum adat dan Undang-Undang Agraria Negara.

Budaya dan Kebudayaan

Budaya dan kebudayaan adalah hasil dari perbuatan sehari-hari yang kemudian tumbuh menjadi kebiasaan. Ingat, setiap budaya memiliki standar logika dan etika yang berbeda-beda. Budaya orang Sunda, Jawa, dan Sumatera, berbeda dengan budaya orang Kalimantan, Sulawesi atau Papua.

Apa yang menjadi lazim pada budaya tertentu belum tentu lazim pada budaya yang lain. Masih ingat acara di sebuah stasiun televisi, Etnic Runaway. Pada acara tersebut terkesan satu budaya (orang kota) kaget melihat budaya orang desa yang masih dianggap primitif, padahal lazim (lumrah) bagi orang desa. Jadi, kebudayaan memang tidak bisa dibanding-bandingkan. Hal ini dikarenakan setiap wilayah memiliki kearifan dan kebijaksanaan sendiri-sendiri.   

Budaya tidak melulu produk kebiasaan atau kesenian. Tetapi juga melahirkan teknologi digdaya yang berguna bagi kehidupan orang banyak. Contoh sederhana misalnya, ditemukannya listrik oleh Thomas Alva Edison.

Itu saja sudah membuat perubahan budaya dan melahirkan peradaban. Termasuk kecanggihan komputer dan internet yang membuat kita bisa terhubung dengan siapa saja dan di mana saja tanpa harus bertatap muka langsung. Bukan hanya teknologi, dunia medis pun mengalami percepatan pertumbuhan dalam menemukan obat-obat kimiawi dan kombinasi herbal alami.

Gelombang Budaya

Dahulu mungkin kebudayaan terpisahkan oleh ruang dan waktu. Tetapi, sekarang sudah tidak bisa lagi karena jagat dunia maya seakan menyatukan semua hal. Tidak usah jauh-jauh. Coba lihat Indonesia. Benar apa yang dikatakan Alvin Toeffler. Indonesia berada dalam tiga gelombang besar budaya sekaligus yakni: primitif, transisi, dan modern.

Artinya, di Indonesia masih ada masyarakat yang hidup dalam keserderhanaan dan inggal di tempat-tempat terpencil. Istilah primitif memang berkesan negatif dan kurang beradab. Padahal, masyarakat yang dianggap primitif justru terkadang tidak serakah dan menghormati hutan, gunung, dan lautan, karena itulah rumah mereka. Beda dengan masyarakat kota (modern) yang terlampau serakah mengelola dan menguras alam secara berlebihan.

Berdasarkan antropologi (ilmu yang mempelajari kebudayaan), kebudayaan disusun atas sifat kognitif, normatif, dan material. Kebudayaan bertumpu kepada kreasi, variasi, relatif, heterogen (majemuk), universal, dan budaya tandingan (counterculture). Manusia merupakan makhluk budaya yang senantiasa mencipta, merasa, dan berkehendak (karsa).

Faktor Berubahnya Sosial budaya

Eksistensi budaya sejatinya tak solid, dalam perjalanan waktu hakikat budaya yang telah dikembangkan oleh pendahulunya, ternyata bisa mengalami perubahaan sesuai dengan perkembangan zaman, atau bahkan terdegradasi lenyap dari kehidupan masyarakat.

Ada sejumlah faktor yang menyebabkan budaya tiba-tiba terdegradasi sehingga hilang dari komunitas aslinya.  Berikut ini merupakan penjelasan tentang faktor-faktor tersebut :

  • Masuknya kultur asing

Salah satu faktor yang menyebabkan sebuah budaya ditinggalkan masyarakat adalah masuknya pengaruh asing pada sebuah daerah.  Fenomena ini lumrah terjadi, karena prinsipnya manusia dalam berkomunikasi adalah saling mempengaruhi.  Peristiwa seperti ini sering terjadi di mana saja. Misalnya ketika budaya bertutur kata yang pada masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah dan Yogyakarta yang menerapkan kebiasaan berbicara bertingkat / unggah- ungguh misalnya kasar  atau ngoko, bahasa halus / kromo dan  bahasa sangat halus dan sopan / kromo inggil.  Kebiasaan ini sudah ada sejak bertahun-tahun dan diterapkan pada kehidupan komunikasi orang Jawa.  Bahasa merupakan bagia dari kebudayaan Jawa.

Namun sejak Indonesia merdeka dan ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi negara  atau bahasa pengantar, secara berlahan kultur asing ini melunturkan kebiasaan ngomong jawa pada generasi penerus. Degradasi bahasa  Jawa pada kalangan anak muda disebabkan karena gencarnya media massa yang menyampaikan informasi dalam bahasa Indonesia. Kemudian kebiasaan orang tua anak yang enggan mengajari berbicara bahasa Jawa kepada buah hatinya.   Akhirnya generasi penerusnya banyak yang tak mengerti bagaimana ngomong Jawa, apalagi mendalaminya.

  • Agama Samawi

Faktor kedua adalah masuknya ajaran spiritual yang dibawa oleh orang asing, dan diajarkan kepada masyarakat lokal.  Seperti agama samawi yang berasal dari Timur Tengah, ternyata mampu menggusur sejumlah kebudayaan lokal dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat.

Dahulu ketika Islam masuk ke Nusantara, ajaran Nabi Muhammad SAW dibawa oleh pedagang dari Gujarat.  Mereka sambil berniaga, mengenalkan bagaimana agama sempurna ini bisa membawa jalan terang bagi pengikutnya.  Orang-orang Nusantara, pelan-pelan tertarik dengan agama yang dibawa oleh sudagar Gujarat tersebut.  Akhirnya kebiasan-kebiasan lama mulai ditinggalkan karena mungkin bertentangan dengan ajaran Islam. 

  • Tak efektif

Manusia modern menuntut semua hal serba cepat, efesien dan realistis.  Mereka mulai enggan melakukan sesuatu yang sifatnya lama, menunggu dan ribet.  Alasan ini membuat sejumlah kebiasaan atau budaya terdegradasi. Misalnya sejak ada  SMS, Email dan HP, budaya korepondensi yang dahulu menjadi primadona komunikasi tertulis, sekarang sama sekali sudah pudar. Alasannya sudah tak efektif, menyita banyak waktu dan biaya mahal.  Sekarang di ganti dengan email, SMS dan Chating, yang kelebihannya lebih cepat sampai dan bisa dikerjakan kapan saja tanpa perlu repot-repot menulis dikertas.

  • Biaya mahal

Kegiatan budaya yang menelan biaya kelewat mahal, menjadi alasan mengapa ditinggalkan oleh komunitas tertentu.  Zaman yang serba mahal membuat orang  kesulitan memenuhi kebutuhan pokoknya.  Apalagi ketika disodorkan tentang kegiatan budaya yang biayanya tinggi, mereka akan berpikir dua kali untuk menyelenggarakannya, atau bahkan menolak mentah-mentah.

Misalnya saja disejumlah daerah dulu ketika  menggelar pesta pernikahan tradisional selalu meriah, dengan ritual prosesi yang panjang. Tentu biaya guna menyelenggarakan pesta seperti ini sangat mahal. Pesta pernikahan yang meriah, merupakan ajang untuk menunjukan eksistensi sebuah keluarga.  Bahkan dulu ketika menggelar pesta pernikahan ada berhutang demi sebuah gengsi. Budaya seperti  ini sekarang tak sudah ditinggalkan oleh sebagian masyarkat.

  • Pola pikir dan tingkat pendidikan

Modernisasi dan tingkat pendidikan mempengaruhi pola pikir manusia. Modernisasi yang mengharuskan manusia serba cepat, berpikir realistis dan pragmatis membikin budaya dan kebiasaan tradisional tersingkir.  Demikian juga faktor tingkat pendidikan semakin tinggi pada masyarakat, juga menyumbang pergeseran budaya. Mengapa demikian, pendidikan atau ilmu mengharuskan manusia berpikir realistis, semua hal harus didasari pada saint yang ilmiah.  Kebiasaan ini yang mematahkan kepercayaan tradisional yang berbasis mitos.

Padahal mitos yang berkembang pada suatu masyarakat merupakan bagian dari budaya itu sendiri.  Namun sekarang mitos hanyalah sebuah pepesan kosong yang tak bisa dibuktikan secara ilmiah.

Jadi, tidak usahlah jauh-jauh berteori ingin menjadi bangsa yang beradab. Perbaiki saja pola hidup kita sehari-hari. Misalnya, sudahkah kita membuang sampah pada tempatnya ?

Nah sekarang pertanyaannya apakah melakukan kegiatan budaya adalah sebuah kewajiban? Atau hanya sekedar bagian dari identitas saja?  Kalau memang budaya sebagai kewajiban, tentu kita mau tak mau harus melaksanakannya, walau terkadang tak lagi sesuai/ bertentangan dengan pola pikir manusia modern. Namun kalau hanya bagian dari identitas masyarakat, apa gunanya kita menjaganya? Tak melaksanakan budaya tersebut.

Demikianlah sedikit tentang hakikat budaya, yang menjadi bagian dari kehidupan manusia.   


Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Gerakan Tari Piring
  • Mengintip Aneka Ragam Budaya Indonesia
  • Seni Budaya Di Indonesia
  • Menyoal Papua Ingin Merdeka
  • Kubah Masjid - Desain yang Terinspirasi dari Bangsa Mediterania
  • Ucapan Selamat Idul Fitri
  • Bhineka Tunggal Ika - Pluralisme dan Persatuan Indonesia
  • Joglo - Keunikan Rumah Khas Masyarakat Budaya Jawa
  • Mengenal Kebudayaan Bugis yang Unik
  • Arti Budaya - Pakar Budaya, Bahasa, dan Makna Budaya
  • Habitus, Sebuah Teori Budaya
  • Pengaruh Baju Adat Badui Terhadap Baju Adat Banten
  • Pengertian Budaya - Lewati Jalan Damai dan Kekerasan
  • Toleransi, Pencetus Asimilasi Budaya
  • Mengenal & Memahami 7 Unsur Kebudayaan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA