Group Musik Halmahera, Menitipkan Kabar Lewat Bidadari

“Tak mungkin ‘ku pergi menjumpaimu walau ‘ku rindu
Kucoba mengerti, kar’na ku tahu kau tak sendiri
Biarlah ‘ku menanti sendiri berkawan sepi
Kuyakin ada satu rasa mengikat kita berdua
Titipkan saja kabarmu lewat mimpi atau bidadari”
[Apa Kabarmu, Halmahera, 1996]
Lirik lagu “Apa Kabarmu” seperti ucapan perpisahan—bukan pertemuan—group musik Halmahera untuk para penggemarnya. Seperti sebuah pamitan, dan pesan untuk menitipkan kabar lewat mimpi atau bidadari.
Memang, semenjak menelurkan album “Alam dan Seniku” pada tahun 1996 yang bermaterikan lagu “Apa Kabarmu,” hingga sekarang, Halmahera tak lagi menyapa pecinta musik Indonesia dengan alunan khas musiknya yang romantis dan melodius.
Besar di Panggung Kompetisi
Group musik Halmahera dibentuk tahun 1990 di Jakarta, dan memulai karirnya dari ajang kompetisi musik “Light Music Contest” atau “Band Explosion.” Ajang ini diprakarsai oleh perusahaan instrumen musik Jepang, dan telah mengorbitkan band-band fusion seperti Krakatau, Indonesia Enam, Kahitna, dan sebagainya.
Formasi awal Halmahera terdiri dari Tohpati Ariohutomo [gitar], Ari Darmawan [drum], Sonny [keyboard], Asep [Bass], dan Genky Gutawa [synthesizer]. Dengan formasi inilah Halmahera melaju hingga babak final kompetisi Band Explosion.
Halmahera memiliki ciri musikal dengan ornamentasi jazz fusion yang saat itu sedang digemari. Maka, walaupun tidak berhasil memenangi kompetisi, Halmahera mampu merebut perhatian pecinta musik tanah air.
Dalam perjalanan karirnya, Halmahera mengalami pergantian personel. Diawali dari keluarnya Asep dan digantikan Indro Hardjodikoro, menyusul kemudian masuknya Kemal Panigoro yang memberi warna tersendiri dengan ornamen musik piano.
Meramu Perbedaan
Kalau dicermati dari personelnya, Halmahera merupakan ramuan apik dari beberapa genre warna musikal yang berbeda. Sebutlah misalnya Tohpati memiliki corak musik fusion melodius, sementara cabikan bass Indro Hardjodikoro memanggungkan genre jazz rock bercorak funk yang dinamis dan agresif.
Namun, perbedaan itu terikat secara harmonis dalam benang pop fusion dipadu dengan aksentuasi jazzy. Inilah yang terlihat pada komposisi lagu di dua album Halmahera: “Kuyakini” (1995), dan “Alam dan Seniku” (1996).
Tahun 1995, dengan memakai label Ceepee Production, Halmahera melahirkan album “Kuyakini” yang disambut luar biasa penggemarnya. Album ini bermaterikan delapan lagu:
1. Trus Kucoba
2. Kuyakini
3. Itulah Engkau
4. Gundah
5. Takkan mungkin berubah
6. Sabtu Malam
7. Mungkin ada saatnya
8. Kembalilah kasihku
Respons pasar yang bagus membuat Halmahera kembali menyapa penggemarnya di tahun 1996 dengan album “Alam dan Seniku” yang bermaterikan delapan lagu juga, yakni:
1. Khayalanku
2. Kudekap Sayangmu
3. Sahabat
4. Pasti
5. Waktu
6. Apa Kabarmu
7. Oh Dunia
8. Alam Dan Seniku
Telah lama Halmahera hilang dari kancah permusikan Indonesia. Mungkin seperti dikatakannya dalam lirik lagu Apa Kabarmu, “Biarlah ‘ku menanti sendiri berkawan sepi,” Halmahera “tak mungkin menjumpai” penggemarnya lagi. Walaupun “ada satu rasa mengikat”-nya dengan mereka.
Tak ada salahnya, sebagai penggemar Halmahera, kita ikuti pesannya untuk menitipkan kabar “lewat mimpi atau bidadari.” Mudah-mudahan, di waktu yang akan datang Halmahera akan menyapa penggemarnya lagi.






