logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Pendidikan    Hambatan Dalam Komunikasi

Hambatan dalam Komunikasi Efektif

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Disadari atau tidak, hambatan dalam komunikasi antara satu orang dengan yang lainnya itu memang Ada. Hambatan dalam komunikasi tidak hanya dijumpai dalam lingkup sosial yang besar, sekelas masyarakat, tetapi dalam lingkup yang lebih kecil semacam keluarga pun bisa terjadi.

Sebagai gambaran bahwa hambatan dalam komunikasi bisa terjadi juga dalam lingkungan keluarga, berikut ini penulis berikan sedikit gambaran melalui cerita dalam sebuah rumah tangga.

Di mata sang istri, Pak Fulan bukan sosok suami ideal. Ada banyak hal yang kerap membuatnya kesal dan sakit hati. Salah satunya adalah sikap acuh dan tidak mau tahu walau menyangkut kebutuhan keluarganya sendiri.

Suatu hari, Pak Fulan duduk santai di depan rumah. Tiba-tiba istrinya menghampiri. “Pak, tolong dong betulin lampu di depan dari tadi nggak nyala terus!”

“Enak saja nyuruh-nyuruh, memangnya aku ini tukang listrik apa?” jawabnya ketus.

Dengan sedih sang istri pun kembali ke dapur. Namun, tidak lama kemudian si istri datang lagi. Dengan agak ragu ia berkata, “Pak tolong dong betulin keran air dari tadi macet terus. Saya jadi nggak bisa masak air nih!”

“Enak saja nyuruh betulin keran, memangnya aku ini tukang ledengmu!” kata Pak Fulan sambil ngeloyor pergi.

Ketika pulang sore hari, Pak Fulan merasa sedikit heran karena lampu di depan rumah sudah menyala. Begitu pula saat ke kamar mandi, keran air yang tadinya macet kini sudah berfungsi kembali.

“Siapa yang membetulkan lampu dan keran air?” tanya Pak Fulan.

“Tadi mantan pacar saya lewat di depan rumah. Langsung saja saya panggil untuk membetulkan lampu dan keran air. Syukur ia mau, tapi dengan dua syarat, dibuatkan roti atau saya tidur dengannya,” ujarnya tenang.

Pak Fulan kaget setengah mati. “Pasti kamu membuatkan ia roti, kan?” tanyanya cemas.

Apa? kata istrinya. “Enak saja! Memangnya saya ini tukang roti apa!”

Lemaslah lutut Pak Fulan mendengar jawaban itu. 

Bagaimana, sebuah cerita yang cukup menggelitik dan bikin Anda tertawa, bukan? Kejadian semacam cerita tadi sebenarnya bisa dihindari jika pasangan suami istri tersebut tidak memiliki hambatan dalam komunikasi. Namun Sayang karena sikap suami kurang peduli, maka sang istri memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri.

Yang jadi pertanyaan, mengapa ada hambatan dalam komunikasi, padahal komunikasi itu bukanlah hal yang sulit, bukan? Bagi sebagian orang memang demikian, namun tidak bagi sebagian orang lainnya. Ada sebagian orang yang merasa sulit untuk melakukan komunikasi. Apa alasannya? Berikut adalah penjelasan tentang faktor-faktor yang menjadi hambatan dalam komunikasi.

Hambatan dalam Komunikasi

Manusia memiliki sejumlah kebutuhan dasar dalam hidup. Salah satunya adalah kebutuhan untuk dihargai, diakui, diperhatikan, dan didengarkan oleh orang-orang di sekitarnya. Semua kebutuhan ini sejatinya berhubungan langsung dengan sebuah proses bernama “komunikasi”.

Dengan demikian, kualitas sebuah hubungan—khususnya yang bersifat interpersonal (antara dua individu atau lebih)—sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang terjalin. Harmoni akan terjadi apabila pola komunikasi berjalan baik.

Namun sebaliknya, disharmoni pun akan muncul apabila pola komunikasi berjalan buruk. Itulah mengapa, terjadinya kasus WIL (wanita idaman lain) atau PIL (pria idaman lain), biasanya berawal dari adanya hambatan dalam komunikasi antara suami istri.

Penelitian Debbie Layton-Tholl memperkuat hal tersebut. Dari sepuluh faktor penyebab perselingkuhan dan perceraian yang ia temukan, 80% di antaranya disebabkan oleh kegagalan dalam komunikasi. Adapun bentuk turunannya bisa bermacam-macam, mulai dari hilang rasa saling percaya, rasa saling menghargai, hingga akhirnya kesetiaan pun memudar—sebagaimana yang terjadi kepada istrinya Pak Fulan.

Pertanyaannya sekarang, apa saja yang mengakibatkan terjadinya hambatan dalam komunikasi tersebut terutama yang bersifat interpersonal? Setidaknya ada tiga penyebab.

1. Hambatan dalam Komunikasi - Tidak Ada Kepercayaan (Trust)

Sikap percaya adalah syarat pertama dalam membangun komunikasi yang baik. Ketika kepercayaan itu hilang, hilang pula efektivitas dari sebuah proses komunikasi. Sebagai contoh, ketika kita tidak percaya kepada seorang teman, mungkin karena ia tidak jujur atau kita merasa kalau ia akan berkhianat, biasanya kita pun akan menjaga jarak dengan dia, tidak terlalu membuka diri, berbicara pun hanya seperlunya. Akibatnya, hubungan komunikasi yang terjalin menjadi sangat dangkal dan tidak akrab.

2. Hambatan dalam Komunikasi - Sikap Defensif

Sederhananya, defensif memiliki makna bertahan. Sikap ini biasanya akan muncul ketika seseorang berlaku tidak jujur, menyembunyikan sesuatu, tidak menerima, dan kehilangan sikap empati terhadap lawan bicara. Orang yang defensif selalu mengalami hambatan dalam komunikasi karena dalam berkomunikasi cenderung untuk lebih banyak bertahan dan melindungi diri daripada berusaha memahami pesan yang disampaikan orang lain. 

Ada banyak hal yang menyebabkan seseorang berlaku defensif, baik yang bersifat situasional, misalnya perilaku komunikasi orang lain yang terlalu agresif, maupun yang bersifat personal, seperti sikap rendah diri, ketakutan, kecemasan, pengalaman yang buruk, dan sebagainya.

Kita ambil contoh, seorang suami yang takut perselingkuhannya terbongkar, cenderung untuk defensif ketika pembicaraan istrinya menyerempet pada tema perselingkuhan. Atau, seseorang yang dituduh mencuri, akan mati-matian mempertahankan diri bahwa ia tidak mencuri—ini faktor situasional.

3. Hambatan dalam Komunikasi - Sikap yang Tertutup

Hambatan dalam komunikasi interpersonal akan terjadi apabila satu pihak atau kedua pihak yang berkomunikasi tidak saling terbuka. Sikap ini akan timbul ketika seseorang menilai pesan yang disampaikan orang lain berdasarkan motif pribadinya.

Artinya, setiap pesan akan dinilai berdasarkan desakan dari dalam diri yang bersangkutan, misalkan karena merasa diri benar dan orang lain salah, merasa berkuasa atau ingin berkuasa, ingin bertahan dalam zona nyaman, egois, karena keyakinan, dan sebagainya. Pak Fulan, sebagaiman dalam kisah di atas, terlihat sangat tertutup dan kaku kepada istrinya karena ia merasa berkuasa dan tidak layak diperintah ini dan itu.

Sekarang coba Anda bayangkan, satu faktor saja sudah menjadi hambatan dalam komunikasi, bagaimana jika ketiganya bergabung? Ternyata, bergabungnya tiga sikap ini dalam proses komunikasi akan melahirkan sikap saling tidak mengerti, tidak menghargai, dan pada akhirnya akan menghancurkan hubungan interpersonal.

Selain hambatan dalam komunikasi yang telah dijelaskan di atas, seperti yang diungkapkan Leonard R.S. dan George Strauss dalam Stoner james, lalu A.F dan Charles Wankel sebagaimana yang dikutip oleh Herujito (2001),masih ada beberapa hambatan terhadap komunikasi yang efektif, di antaranya sebagai berikut.

  • Mendengar; Banyak hal atau informasi yang ada di sekeliling kita, namun tidak semua yang kita dengar dan tanggapi. Informasi yang menarik bagi kita, itulah yang ingin kita dengar.
  • Mengabaikan dan menilai sumber informasi; Kita cenderung mengabaikan informasi yang diutarakan oleh seorang anak kecil.
  • Persepsi yang berbeda; perbedaan persepsi antara si pemberi pesan dengan penerima pesan akan menghambat komunikasi, bahkan melahirkan pertengkaran.
  • Pengaruh emosi; Pada keadaan marah, seseorang sulit menerima informasi. informasi apa pun yang diberikan tidak akan ditanggapinya.
  • Gangguan; Gangguan iini bisa berupa suara yang bising saat  berkomunikasi, jarak yang terlalu jauh, dan lain-lain.
Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Metodologi Pembelajaran Creative Learning
  • Etika Pendidikan: Bersikap Keras Bukan Solusi
  • Program Akselerasi, Efisiensi Pendidikankah?
  • Benarkah Pendididikan Hanya untuk Orang Kaya?
  • Refleksi Dunia Pendidikan Kita
  • Definisi Pendidikan
  • Inovasi dalam Pendidikan: Pendidikan Anak Usia Dini
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA