logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Psikologi    Psikologi Sosial

Merenungkan Sebuah Harapan Indah


Ilustrasi harapan indah

Pernahkah Anda membayangkan sebuah harapan indah? Di sebuah sudut kamar yang gelap, aku pernah berpikir mengenai sesuatu yang sederhana, namun cukup  rumit menurutku. Sesuatu yang tidak pernah kita ketahui keabsahannya. Manusia sebagai makhluk yang berakal hanya bisa berpikir, namun tak bisa membuktikannya. Hal itu adalah harapan.

Berbagai pertanyaan mengenai harapan muncul menyerang otakku.  Adakah puncak dari sebuah harapan? Apakah puncak itu suatu keindahan? Benarkah harapan bukanlah sesuatu yang semu? Kenapa kita harus memiliki harapan? Adakah harapan indah yang masih tersisa untuk sebuah negeri yang memiliki penyakit kronis (korupsi)?

Harapan Indah Bukanlah Sesuatu yang Jatuh dari Langit

Seorang sastrawan Tiongkok, Lu Xun, pernah melukiskan “harapan” di dalam sajaknya, ia berkata bahwa “Harapan itu seperti sebuah jalan setapak di tengah hutan. Sebelumnya, jalan itu tidak pernah ada. Namun, ketika orang sudah sering melewatinya, maka terbentanglah jalan itu di hadapan mereka”.

Dengan demiikian, harapan itu bukanlah sesuatu yang jatuh dari langit. Harapan tidaklah sama dengan anugerah yang datang tak terduga. Untuk menggapai sebuah harapan indah, kita perlu sebuah keberanian, tekad dan ketekunan.

Kalau perlu kita harus menjadi orang pertama yang melewati hutan tak berjalan tadi. Melalui ketekunan dan keberanian tersebut untuk melakukan sesuatu yang baru, maka sebuah jalan (harapan) akan terbentang.

Sebuah harapan indah masih bisa dibentangkan. Namun, sebuah harapan indah tersebut tidak bisa terbentang tanpa adanya “tangan-tangan” yang membentangkannya. Harapan adalah sesuatu yang tidak akan pernah ada apabila tidak ada manusia sebagai pembuat harapan. Harapan merupakan bagian dari kehidupan manusia. Manusia selalu dikelilingi oleh harapan-harapan masa depan. Harapan mengenai kesuksesan dan eksistensinya di masa depan.

Pada dasarnya semua harapan itu mengacu pada keindahan, sehingga tidak perlu dibedakan ada harapan indah atau harapan yang lain. Pernahkah Anda mendengar mengenai sebuah harapan seseorang mengenai sesuatu hal yang buruk? Pasti Anda pernah mendengar.

Banyak orang-orang miskin atau orang yang sudah putus asa dengan kehidupan di dunia mengharapkan dirinya mati saja. Menurut orang lain yang mendengar harapan tersebut, harapan itu merupakan sesuatu yang konyol dan buruk. Namun, bukankah sesungguhnya bagi mereka harapannya untuk mati tersebut merupakan harapan indah?

Berkaitan dengan harapan indah yang untuk sebuah negeri yang memiliki penyakit kronis (korupsi), apakah masih ada?. Untuk memunculkan harapan tersebut dibutuhkan seseorang yang mampu membuka atau menggagas jalan di tengah hutan.

Dalam arti begini, dibutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan berani mengambil tindakan berdasarkan prinsip kebenaran, kejujuran dan keadilan. Tindakan tersebut mungkin akan mendapat pertentangan. Hal ini karena prinsip kebenaran, kejujuran dan keadilan mungkin sudah bukan menjadi prinsip yang dianut sehingga wajar apabila akan muncul pertentangan.

Di situlah dibutuhkan seorang pemimpin yang tegas dan berani. Lalu bersama-sama didukung oleh seluruh masyarakat. Dukungan ini bisa kita berikan dengan berbondong-bondong melewati “jalan” yang sudah dibentangkan tadi.

Harapan indah merupakan sebuah jalan untuk mencapai puncak keindahan yang kita tuju. Maka, untuk mencapai keindahan yang kita harapkan tersebut, “jalan” yang kita buat dan lewati haruslah jalan yang benar. Sebuah kebenaran dengan berbagai bentuknya pasti dapat membawa kita menuju puncak keindahan.

Harapan Indah dari Pandangan Absurdisme

Adakah puncak dari sebuah harapan? Benarkah harapan bukan merupakan sebuah bayang-bayang semu? Absurdisme memandang sebuah harapan sebagai sesuatu yang sangat berharga. Bahkan mereka mengatakan bawa ketika seseorang tidak lagi memiliki harapan-harapan, maka sebenarnya orang itu telah mati.

Albert Camus, pencetus absurdisme, mengatakan bahwa kehidupan ini absurd. Dalam artian kacau, tidak masuk akal. Manusia hidup hanya untuk mati, tanpa ada sebuah tujuan yang jelas. Lalu apakah makna sebuah harapan tersebut? Masih adakah harapan untuk harapan indah manusia?

Menurut Camus harapan merupakan sebuah energi yang dibutuhkan oleh manusia untuk bagkit dari keterpurukan dan menghadapi kehidupan yang absurd ini. Bisa dikatakan bahwa harapan adalah penyambung kehidupan manusia. Hal ini ia lukiskan dalam esai panjangya “Mitos Sisifus”.

Ia menggambarkan absurditas dan harapan pada perjuangan Sisifus yang dikenai hukuman untuk mendorong batu besar ke puncak gunung. Namun, ketika hampir sampai di puncak, tiba-tiba batu itu jatuh lagi ke bawah.

Ketika itu Sisifus hampir putus-asa, namun karena adanya suatu harapan untuk dapat mendorong kembali batu itu ke atas akhirnya Sisifus bangkit dan mendorong kembali batu tersebut. Lagi-lagi ketika hampir sampai di puncak, batu tersebut menggelinding lagi ke bawah. Ketika Sisifus hampir putus asa datanglah sebuah harapan untuk mendorong kembali batu tersebut ke atas dan begitulah seterusnya.

Dari ilustrasi di atas, dapat disimpulkan bahwa harapan merupakan suatu energi yang dibutuhkan oleh manusia untuk menghadapi kehidupan. Namun, harapan tersebut terbatas pada energi yang dapat memotivasi manusia.

Harapan tersebut tidak akan pernah tercapai. Harapan adalah sebuah gunung dengan jalannya yang berliku-liku dan penuh pemandangan indah. Jalan yang dikelilingi pemandangan indah tersebut membuat manusia tidak akan pernah berhenti untuk melewatinya.

Manusia juga akan berusaha mencapai puncak gunung, namun tanpa disadarinya jalan tersebut ternyata tak berujung. Itu merupakan intisari absurdisme. Untuk memberikan tanggapan aktif pada kehidupan yang absurd ini, manusia hanya perlu dengan menikmati keabsurdan ini.

Sebuah konsep mengenai harapan ini, juga muncul dalam karya-karya penulis besar lainnya, seperti Fyodor Dostoyevsky. Harapan itu muncul melalui penderitaan. Bisa juga dikatakan bahwa harapan itu akan tercipta dengan tidak adanya sebuah harapan. Harapan yang muncul secara langsung justru akan menimbulkan sesuatu yang lebih buruk apabila tidak tercapai.

Dalam salah satu karyanya, Kejahatan dan Hukuman, Dostoyevsky mengatakan bahwa penderitaan bisa mengantarkan pada sebuah pembebasan. Sebelum meraih sebuah pembebasan, yang muncul adalah harapan untuk mendapatakan pembebasan diri dalam kehidupan dan inilah yang dinamakan harapan indah.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa konsep harapan (indah) dari Dostoyevsky adalah penederitaan tersebut. Melalui penderitaan manusia akan mendapat pembebasan hidup. Kebahagiaan dan kemewahan yang ada hanyalah sebuah bayangan yang akan membawa pada penderitaan yang lebih dalam.

Di luar semu atau tidaknya sebuah harapan, yang perlu digaris bawahi adalah bahwa harapan memiliki suatu energi yang dibutuhkan manusia untuk menghadapi kehidupan yang rumit ini. Dari sebuah harapan itu juga manusia bereksistensi dalam kehidupan. Harapan indah yang ingin dicapai, entah tercapai atau tidak, membuat manusia lebih dapat bermakna dan memaknai kehidupan.

Dengan begitu, jangan takut untuk membuat sebuah harapan. Tercapai atau tidaknya sebuah harapan tersebut, itu hanya masalah pencapaian. Dalam hakekat sebuah kehidupan bukankah proses lebih diunggulkan daripada sebuah hasil?

Kehidupan merupakan sebuah proses dan hasilnya akan ditentukan di luar kewenangan manusia. Mengenai pandangan absurditas yang berasumsi bahwa harapan merupakan sesuatu semu yang tidak akan tercapai dapat dibenarkan.

Jika berdasar pada sifat manusia yang tidak akan pernah puas dengan pencapaiannya. Maka, setiap harapan indah akan muncul silih berganti. Namun, mereka juga mengatakan bahwa untuk menghadapi absurditas kehidupan ini, hanya perlu menikmati keabsurdan itu saja. 

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Psikologi Stress: Dari Stadium Awal, Menuju Tingkat Akut
  • Seluk Beluk Pengertian Gender
  • Beragam Cara Membaca Pikiran Orang
  • Mempelajari Artikel Psikologi Sosial
  • Memasuki Pikiran Bawah Sadar dengan Meditasi
  • Hentikan Kekerasan Sekarang Juga
  • Emosi Adalah Rangsangan
  • Gangguan Jiwa Tidak Selalu Gila
  • Kekuatan Diri dalam Sang Pemimpi
  • Pengendalian Emosi Jiwa
  • Apa Arti Cinta?
  • Keinginan Manusia: Muda Foya-Foya, Mati Masuk Surga
  • Cara Kelola Macam-Macam Emosi
  • Cara Gampang Menyelesaikan Soal Ujian Hidup
  • Diskriminasi Gender, Contoh Diskriminasi di Tempat Kerja
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA