logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Industri & Perdagangan    Pertambangan    Pertambangan Batu Bara

Meninjau Harga Batu Bara Di Pelataran Tambang Indonesia


Ilustrasi harga batu bara
Sampai saat ini harga batubara masih jauh lebih murah daripada harga minyak tanah. Meski kedua hasil tambang tersebut melampaui proses penambangan yang sama sulitnya dan menggunakan teknologi yang sama patennya. Batubara yang berlimpah ruah itu telah dianggap sebagai salah satu penunjang dana pembangunan di tanah air. Walaupun batubara tidak dipandang sebagai bahan bakar ramah lingkungan, masih sulitnya memproduksi bahan bakar ramah lingkungan, membuat batubara bagai emas hitam yang menarik minat banyak investor.

Efisiensi Batu Bara

Hingga akhir tahun 2012, diperkirakan harga batubara menurun. Menurut berita yang beredar, penurunan harta emas hitam ini karena begitu banyak cadangan batubara tetapi permintaan menurun. Tidak dapat dipungkiri bahwa permintaan batubara sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi baik ekonomi dunia pada umumnya maupun pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Satu ton batubara masih bertengger pada angka 97 dollar per tonnya. Cadangan yang begitu banyak, membuat investor tidak khawatir. Penurunan harga ini masih dianggap normal.

Banyaknya pihak yang bermain pada bisnis batubara ini telah membuat begitu banyak pergerakan demi pergerakan yang memungkinkan penambangan dilakukan secara besar-besaran. Para investor lokal dengan dana 50-100 juta juga ikut bermain di bidang yang cukup menggiurkan ini. Telah begitu banyak ladang batubara baru dibuka. Daerah penambangan yang cukup mudah dijangkau dengan cadangan batubara yang masih berada pada permukaan bumi, masih memudahkan pengambilan batubara dalam jumlah yang cukup besar.

Bila dibandingkan dengan minyak bumi, maka biaya menggunakan batubara masih lebih murah dan terjangkau. Batubara pun dinilai lebih efektif dan efisien dalam pemakaiannya. Meski belum menjadi pilihan utama  para pengusaha yang membutuhkan energi dalam skala besar,  batubara menjadi pilihan alternatif yang cukup baik. Seandainya pengelolaan dan pemasokan lebih baik, maka batubara akan menjadi lebih efektif dan efisien dari gas. Sayangnya, pengangkutan batubara dari daerah penambangan ke pelabuhan pun terkadang banyak mengalami kendala.


Transportasi Batubara – Sebuah Dilema

Bagi daerah yang kaya dengan batubara seperti Sumatera Selatan dan wilayah Kalimantan, keberadaan melimpahnya cadangan batubara di daerahnya menimbulkan dilema tersendiri. Mulai dari klaim tanah yang berujung perebutan tanah dan komisi dari penambang hingga jasa angkutan atau transportasi batubara yang menimbulkan kerugian di masyarakat. Kecelakaan demi kecelakaan yang melibatkan truk-truk ukuran besar yang mengangkut batubara hingga truk yang macet dan terguling yang membuat perjalanan terhambat hingga berjam-jam.

Untuk wilayah Sumatera Selatan sendiri, batubara ini menjadi momok yang dibenci. Pasalnya adalah bahwa pengangkutan batubara yang melalui jalan darat telah membuat kemacetan yang cukup panjang. Bila sebelum ada angkutan batubara, jarak Muara Enim – Palembang yang 197 km itu dapat ditempuh dalam waktu 3,5 – 4 jam, kini bisa mencapai 7 jam atau bahkan 8 jam. Persoalan transportasi ini cukup memusingkan banyak pihak.

Pemerintah Sumatera Selatan telah berusaha mengubah beberapa peraturan demi kelancaran transportasi batubara. Mulai dari penggunaan truk dengan tonase yang lebih sedikit (maksimal 8 ton) hingga membangun jalan khusus batubara yang melewati beberapa daerah perkebunan di Sumatera Selatan. Hasilnya belum maksimal. Malah ada beberapa pemilik perkebunan yang cukup keberatan wilayahnya menjadi tempat perlintasan truk batubara karena ketika musim hujan, jalanan yang licin dan masih tanah itu malah semakin rusak.

Semakin peliklah permasalahan batubara ini. Mau tidak mau alternatif pengangkutan melalui sungai mulai dirintis. Yang menjadi kendala adalah ketika musim kemarau, banyak aliran sungai yang tidak bisa dilalui oleh kapal tongkang dengan tonase yang luar biasa itu. Hanya sungi Musi yang masih mampu dilalui oleh kapal-kapal dengan muatan yang besar. Sedangkan sungai-sungai lain, seperti sungai Lematang, sungai Komering, dan sungai-sungai yang melalui wilayah dengan produksi batubara yang besar, tidak bisa dilalui.

Akhirnya, angkutan batubara ini tetap melalui jalan darat. Kalau lewat jalur sungai, akan banyak supir truk yang menganggur dan pemilik truk yang merugi. Tentu saja tenaga kerja yang diperlukan menjadi terbatas kalau melalui jalan sungai. Beda kalau melalui jalan darat. Sayangnya, supir truk sering tidak waspada dan hati-hati. Demi mengejar setoran, mereka malah menyelakakan orang lain. Inilah dampak perkembangnya industri. Batubara yang dianggap masih murah itu menjadi tumpuan banyak orang demi mengisi perut mereka. Batubara memang menjadi mutiara yang begitu menggiurkan.

Perkembangan ekonomi dunia, kebutuhan batubara masih mengalami pasang surut. Meski di Indonesia sendiri batubara tetap menjadi pilihan utama terhadap kebutuhan energi yang besar untuk menjalankan usaha. Contohnya adalah PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap). Walaupun PLN ternyata masih bertumpuh pada gas hingga mengalami defisit hingga 37 triliun rupiah (menurut BPK), batubara diharapkan bisa terus menjadi penjamin pasokan energi yang baik.

Beberapa kelebihan batubara dari minyak bumi adalah  bahwa batubara tidak menghasilkan polutan sebanyak minyak bumi.  Harganya lebih murah daripada minyak bumi. Pemakaian batubara tidak terbatas dalam penggunaan untuk energi saja, tetapi juga untuk industri. Inilah nilai lebih batubara yang tidak bisa dipungkiri.

Batu Bara di Bursa Saham

Kecenderungan pasar saham dewasa ini adalah melonjaknya harga saham perusahaan yang mempunyai kaitan erat dengan batubara, baik dalam pengadaan, pengolahan, pendistribusian ataupun pemakaian langsung, semua secara tak langsung berpengaruh pada harga batu bara. Kadang-kadang harga saham dapat menyentuh angka psikologis hingga di atas 3.000 (tiga point).

Dari sisi teknis kalori batubara yang dihasilkan oleh ranah tambang Indonesia masih berkelas medium. Hingga pasarannya masih mungkin untuk berkembang dan mendongkrak harga saham. Biasanya saham-saham yang dikeluarkan oleh perusahaan di pasar saham yang bergelut dengan usaha yang berhubungan dengan batubara – akan diserbu habis oleh para pemburu saham. Publik kini lebih pintar untuk meninjau dan menilai kecenderungan perekonomian yang ada.

Publik kini telaten untuk terus memantau prospek harga barang tambang batubara di lantai bursa. Dan menyerbu pasar-pasar perdana, meskipun saham batu bara belum lagi dicatat dalam pasar bursa. Tapi kadang-kadang para pemain bursa juga harus menunggu. Sekalipun saham-saham baru beterbangan – apalagi saham berbasis bursa yang menyerbu pasar perdana, atau istilah para pemain bursa adalah “saham yang sudah IPO-kan” . Maksudnya adalah saham yang sudah masuk ke pasar saham namun belum dicatatkan ke pasar bursa.

Harga emiten batubara cukup bagus. Banyak perusahaan pemilik saham yang usahanya berbasis batubara yang berada di Indonesia dewasa ini. Di antaranya adalah : Adaro Energy, Indo Tambang Raya Mega, Bumi Resources, ATPK Resources, Garda Tujuh Buana, Perdana Karya Perkasa, dan Resources Alam Indonesia. Dua perusahaan yang eksistensinya merambah sampai ke Indonesia Bagian Timur, seperti Petrosea Tbk, dan Darma Henwa.

Di antara yang biasa dikenal dan cukup populer di kalangan pemain bursa saham adalah  Tambang Batu Bara Bukit Asam serta Berau Energy. Gambaran harga perdana dan terkini emiten batu bara adalah sebagai berikut. Harga perdana tertinggi dilemparkan oleh Indo Tambang Raya Mega, dan terendah adalah ATPK Resources. Sedangkan Berau Energy membuka harga perdana pada nilai 400.

Harga Terkini dari Emiten Batu Bara ditutup dengan harga tertinggi oleh Indo Tambang Raya Mega dan terendah oleh Darma Henwa. Di mana ada pelonjakan terbesar oleh Indo Tambang Raya Mega. Sedangkan penurunan terbesar adalah pada Resources Alam Indonesia. Sedangkan Berau Energy belum melisting hasil akhir pada harga terkini. Namun justru publik menyerbu Berau Energy dengan terjangkaunya harga lembaran-lembaran saham yang dilepas dengan harga Rp 400,-/lembar.

Trendsetter saham batubara. Sampai kini, sayangnya saham-saham harga batubara yang dilempar ke publik masih belum terlalu menjadi kekuatan dan daya tarik bagi investor dalam negeri. Mereka yang antusias adalah para investor asing terhadap saham potensial seperti Berau Coal ini. Padahal PT. Berau Coal adalah lima besar produsen batu bara yang memasok kebutuhan dalam negeri terbesar. Selain harga saham yang terjangkau, produksi batu baranya yang berkelas medium, dan memiliki lahan konsesi terbesar di Indonesia.

Agaknya, publik harus mulai berpikir untuk segera melirik prospek saham dari emiten batubara. Harga batubara masih menjadi satu bidikan banyak orang. Mereka menanti perkembangan yang menyenangkan. Bila batubara ini terus dilirik dan dikembangkan, maka suatu saat batubara akan menjadi primadona.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Bagaimana Proses Terbentuknya Batu Bara?
  • Proyeksi Perusahaan Tambang Batu Bara
  • Batu Bara: Bahan Tambang yang Tidak Dapat Diperbaharui
  • Mengetahui Seluk Beluk Proses Pembentukan Batu Bara
  • Antara Inovasi Briket, Masalah Angkutan, dan Pembeli Batu Bara
  • Menyoal Pertambangan Batu Bara Kaltim
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA