Beragam Pilihan Harga Hp Second
Salah satu kebutuhan mewah yang telah beranjak ke tingkat kebutuhan hampir pokok adalah ponsel. Gejala naik pangkatnya kebutuhan ponsel tiga tingkat ini, bisa Anda tengarai dari menjamurnya tukang jual pulsa yang sama banyaknya dengan tukang jual beras. Dan lebih konkret dari si beras. Beras tidak pernah dijual yang second-second. Bila ada yang jual beras second maka polisi pun akan bertindak. Tapi jual hp second polisi pun ikut beli.. mas.
Inilah fenomena baru yang menjangkiti tanpa banyak cingcong manusia millenium. Mabuk hp alias ponsel alias handset. Harga hp yang baru, kelas paling bawah hanya setengah UMR pekerja pabrikan. Sementara harga hp second, bisa seperempatnya. Tidak heran dalam satu lingkup keluarga. Papah, mamah, kakak, adik, kakek, nenek, babu, pacar, atau pacar gelap, semuanya menenteng hp masing-masing. Semuanya hafal istilah roaming, dual sim, 3G, yang merupakan istilah sulit.
Anda punya hp, pertama-tama dilihat dulu modelnya. Saling membandingkan model. Bagaikan membandingkan para pacar masing-masing. Karena yang terpenting dalam dunia per-hp-an adalah, apakah si pacar eh si hp punya daya socialite tinggi. Daya socialite tinggi yang dimaksud di sini ada dua [1] berapa harga belinya? [2] berapa harga secondnya? Sederhana sekali. Merk belakangan bila negosiasi harga dinilai sudah mentok sementok mentoknya harga.
Second Lowend
Hp second akan pula terbagi sebagaimana dunia per-hp-an umumnya. Lowend, midend, dan highend. Yang lowend, artinya yang murah meriah dan kebanyakan digunakan insan insan di pelosok dan penjuru. Bila tegar hati, mereka memamerkannya di mall-mall, dengan chasing yang lebih bagus dibanding fiturnya, namun bila berdering terdengar nada monophonik yang sangat tidak menarik. Bila disinisi, buru-buru menangkis. “Bodo amat yang penting punya hp.”
Bila membeli baru kisarannya pada harga 300 ribu rupiah, sampai 800 ribu rupiah. Bila second, dan Anda sangat beruntung, harganya akan jatuh ke tingkat 50 ribu, sampai 150 ribu. Harga 200 ribu dianggap psikologis dari harga lowend. Tidak ada yang membeli second di kisaran itu dan tidak ada yang menjual baru di kisaran itu.
Second Midend
Hape midend, biasanya merupakan mangsa empuk para penjual fitur highend yang sudah lewat masa uji teknologinya. Kelas menengah ini memang kelasnya kaum coba-coba. Keluhan dari para pembeli hp dari kelas ini adalah sisi nanggungnya, dan bila menjual second akan terasa kerugiannya sampai ke ulu hati. Dikarenakan jatuhnya sampai jutaan.
Sebagai contoh yang menyakitkan, adalah merk semi os, alias memiliki sistem operasi berbasiskan android, windows, atau symbian, namun dalam versi 1.0 s/d 3.0 sementara pengenalan setiap versi itu bisa tiga kali perkwartal penjualan. Dalam kasus ini, ketika teknologi android cupcake [2.5] masih terasa gres, teknologi gingerbeard [6.0] telah dipasarkan. Harga spica misalnya, Rp3 juta anyar, bisa didodorkan sampai seharga Rp2 juta second. Direduksi sejuta, betapa menyakitkan.
Second Highend
Selalulah membuat lapisan kecurigaan super tebal dalam kasus penjualan kembali hp kelas Highend. Tidak ada Highend yang second, kecuali dalam kondisi berikut [a] penjualnya orang putus asa dan butuh uang. [b] Benda curian yang dijual secepat mungkin oleh pencurinya. [c] benda tangan kedua dari importir gelap, pada penjual terang.
Jika ada hp highend yang dijajakan second di toko-toko, anggap saja itu hp midend, karena bila penjualnya memaksa tetap dijual pada kisaran nilai highend untuk hp highend second, maka jelas penjualnya sedang kumat. Hp ini harga barunya ada di kisaran Rp4 juta ke atas. Sehingga, sulit menaksir harga second, bagi benda ini.
Bilamana dilepas pun, akan masuk ke dalam harga perdamaian, 2.5 juta. Namun, bila produknya punya nama, seperti kelas Blackberry torch atau kelas iPhone, harga 3 juta pas, cukup mulia bagi kantung pembelinya.






