Tujuh Tips Jitu untuk Mengontrol Hati dan Perasaan
Ilustrasi hati dan perasaan
Hidup di dunia yang penuh ketidakpastian, tidak dipungkiri pasti ada momen-momen dimana kita 'jatuh' dalam kesedihan, rasa duka, stres, kemarahan, frustasi, dan sebaginya. Bagaimana kita mengatasinya agar tidak berlarut-larut? Beberapa tips jitu berikut dapat membantu mengembalikan suasana hati dan perasaan Anda!
Prinsip #1: Jangan Sedih Sendiri
Ini sudah prinsip klasik yang wajib Anda patuhi. Terkadang memang ada momennya kita ingin ditinggalkan sendiri untuk merenungkan situasi kita, tapi jangan lama-lama. Biar bagaimana pun Anda harus memiliki minimal satu orang kepercayaan yang bisa diajak berbagi dan mencari solusi. Kesedihan berlarut-larut yang dihabiskan dalam kesendirian dapat berujung pada tindakan destruktif seperti percobaan bunuh diri loh!
Adanya orang lain akan mampu meringankan beban yang kita miliki ketika sedang bersedih. Terutama beban pikiran yang terasa amat berat apalagi jika harus ditanggun sendiri.
Kehadiran orang lain akan juga mampu membuat kita lupa akan kesedihan yang sebetulnya sangat memberatkan kita. Berat atau tidaknya masalah berasal dari alam pikir seseorang itu sendiri.
Semakin ia berpikir bahwa masalah yang dihadapinya adalah begitu berat maka pasti ia akan berlama-lama dalam keadaan yang tidak menentu tersebut. Saat seperti ini lah butuh adanya seorang teman yang selalu mengingatkan akan pentingnya berbagi.
Teman yang baik adalah teman yang mampu berbagi di kala suka dan duka. Bukan teman yang hanya datang di saat suka saja tetapi saat duka semua orang berusaha mengambil jarak. Tentunya teman seperti itu bukanlah teman yang baik.
Seorang teman yang memberikan support atau dukungan baik moral maupun spiritual akan meringankan beban pikiran yang membuat kita bersedih. Jadi jangan ragu untuk selalu berbagi masalah pada teman.
Tentunya, berbagilah dengan orang yang kita anggap tepat sebagai tempat untuk mencurakan segala penat pikiran yang selama ini membuat kita bersedih. Akan ada banyak sekali kejutan yang kita dapat saat berbagi tersebut. Dan dari kejutan itu ada solusi yang membuat kita kembali tersenyum setelah lama mendung karena sdih.
Prinsip #2: Ambil Waktu
Ketika suasana hati sedang kalut, jangan langsung bereaksi atau mengambil keputusan -itu berbahaya! Pernah melihat mainan snow globe yang baru dikocok? Seperti itulah otak Anda ketika sedang kalut. Maka, sama seperti snow globe yang membutuhkan waktu sampai serpihan saljunya turun ke bawah, demikian juga otak Anda membutuhkan waktu untuk jernih setelah ia 'dikocok' oleh masalah yang menimpa.
Memberikan ruang dan waktu untuk berpikir pada diri sendiri adalah hal yang baik. Tetapi yang perlu dicatat adalah hal yang berlebihan akan juga memberikan hasil yang kurang baik. Sebagaimana kita ketahui bahwa gula memiliki rasa yang manis.
Semua orang pasti suka gula karena memang rasanya yang memanjakan lidah. Namun jika terlalu banyak mengkonsumsi gula juga kurang baik bagi kesehatan. Berbagai penyakit bisa menghinggapi bagi orang yang terlalu banyak mengkonsumsi gula. Salah satu penyakit yang diundang tersebut adalah diabetes.
Sama seperti itu, memberikan sedikit ruang untuk berpikir sejenak agar pikiran menjadi tenang dan jenih adalah hal baik. Tetapi jika hal tersebut dilakukan terlalu lama juga akan berakibat kurang baik bagi diri sendiri.
Terlalu berlaru-larut dalam kesedihan akan menyebabkan seseorang menjadi stres dan semakin meninggalkan lingkungan dunianya yang sebenarnya. Hubungan sosial yang seharusnya terjalin pun semakin lama semakin pudar.
Cukuplah waktu yang diberikan untuk berpikir adalah mengenai apa dan bagaiamana solusinya. Jangan biarkan hal lain mempengaruhi atau terlalu lama berlarut dalam kesedihan.
Seperti air yang butuh mengalir untuk membuatnya selalu jernih. Jangan biarkan terlalu lama air itu berhenti dan mengendapkan kotorannya di dalamnya. Biarkan air itu mengalirkan kotoran itu ke tempat lain. Dengan demikian berbagai penyakit yang bisa diakibatkan oleh endapan air bisa hilang.
Jadi jangan terlalu lama berdiam diri untuk memberikan ruang waktu bagi diri sendiri untuk berpikir.
Prinsip #3: Berlari kepada Tuhan
Apapun agama yang Anda anut, iman akan membuat Anda lebih tenang dan damai. Maka milikilah iman di saat Anda down. Banyaklah berdoa, ceritakan beban kehidupan Anda pada Yang Di Atas dan jangan ragu untuk mencari solusi dari kitab-kitab suci.
Tidak ada tempat yang paling aman di dunia ini selain kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sang pemilik alam semesta dimana kepadaNya lah kita akan kembali.
Manusia membutuhkan tempat yang nyaman dan aman ketika menghadapi sebuah masalah yang sedang menimpa dirinya. Bahkan tidak jarang yang menyalahkan Tuhan Yang Maha Esa atas segala hal yang menimpanya. Padahal semua itu juga merupakan pilihan seseorang kenapa hal tersebut sampai bisa terjadi.
Dengan berlari kepada Tuhan Yang Maha Esa maka akan ada perasaan damai yang tidak pernah dirasakan pada perasaan lainnya. Manusia selalu membutuhkan tempat untuk berlari dan sebaik-baiknya tempat untuk berlari bagi manusia adalah kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Prinsip #4: Hadiahi Diri Sendiri
Beri semangat dan motivasi pada diri sendiri, misalnya buatlah komitmen untuk membeli seporsi besar makanan favorit Anda sebagai 'reward' setelah Anda berhasil mengatasi yang kini Anda hadapi. Tidak perlu muluk-muluk, yang penting bisa memicu semangat Anda.
Hadiah adalah langkah atau strategi jitu yang telah terbukti keampuhannya. Akan ada banyak sekali semangat yang bisa ditimbulkan dari adanya hadiah. Semangat yang sebelumnya loyo bisa menjadi menggebu-nggebu ketika tahu akan ada hadiah yang siap menyambut kita di depan.
Oleh karena itu, dengan memberikan hadiah bagi diri sendiri atas segala keberhasilan yang telah dicapai dalam mengontrol emosi dan perasaan merupakan hal yang sangat wajar untuk dilakukan. Cobalah cara ini ketika anda sendiri sedang berusaha mengendalikan emosi anda.
Prinsip #5: Berawal dari Pikiran
Definisikan kembali apa makna 'bahagia'. Terkadang kita menjadi drop hanya karena menargetkan sesuatu yang terlalu muluk-muluk untuk dicapai, padahal yang namanya kebahagiaan bukanlah sebuah tujuan yan memerlukan syarat tetapi a state of mind. Jika Anda berpikir bahagia, maka Anda akan bahagia.
Semua hal yang dimulai oleh manusia memang bersumber dari pikirannya itu sendiri. Perasaan senang, takut, dan juga sedih semuanya adalah berasal dari dalam diri manusia itu.
Contoh nyata yang paling besar adalah rasa takut manusia akan hantu. Manusia memang takut akan hal yang tidak bisa diinderanya, termasuk hantu yang tidak bisa dindera oleh mata manusia.
Bahkan tidak jarang karena ketakutannya tersebut manusia bertingkah amat aneh dan konyol. Walaupun tidak menafikan bahwa ada di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan oleh akal manusia.
Tetapi point yang diambil adalah rasa takut manusia yang berasal dari pikiran itu sendiri yang membuat manusia menjadi lebih ketakutan. Dalam kondisi yang sama yakni pada suatu bangunan rumah dengan keadaan yang gelap akan berbeda dengan keadaan yang terang.
Padahal kondisinya sama yakni masih berada di dalam bangunan tersebut. Tetapi rasa takut yang diberikan atau distumulus oleh otak atau pikiran manusia akan gelap membuat suasana rumah menjadi lain dan tingkah kita sebagai manusia juga menjadi lain.
Sama halnya dengan datangnya suatu masalah yang terus bertubi-tubi. Jika kita mampu mengatasi pikiran kita sendiri terlebih dahulu maka solusi yang akan dicari akan lebih mudah dan gampang. Namun bila kita terlalu lama berkutat pada pikiran maka bisa dipastikan solusi yang dicari tidak akan pernah ketemu.
Prinsip #6: Cari Pelepasan
Lakukan hal yang sudah lama tidak Anda lakukan, seperti menyetir ke Puncak dan makan jagung bakar atau membuat kerajinan tangan. Melakukan hal-hal repetitif seperti merajut, memasak, dll sangat bagus untuk mereduksi stress, loh!
Prinsip #7: Ekspresikan!
Siapa bilang kemarahan itu nggak boleh diungkapkan? Seringkali kita dibesarkan dalam budaya yang menabukan 'marah-marah'. Padahal dalam situasi tertentu, tidak ada salahnya Anda bersikap terus terang, ungkapkan ketidaksukaan Anda dengan cara yang tetap sopan. Dengan demikian aspirasi Anda tersalurkan dan kemungkinan diterima oleh lawan lebih besar karena Anda menyampaikannya dengan baik.

