Horor
Ilustrasi horor
Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar kata horor? Ya. Horor memang merupakan sebuah keadaan atau sesuatu yang memiliki sifat menakutkan. Lantas, hal apa yang sangat identik dengan sesuatu yang menakutkan itu? Tampaknya, jawaban pertanyaan tersebut cukup kompleks. Namun, horor dalam hal ini identik dengan ketakutan terhadap hantu.
Horor - Cerita yang Takpernah Kering Sensasi
Hantu -entah seperti apa wujudnya- memang selalu menghadirkan ketertarikan tersendiri bagi dunia hiburan. Khususnya, dunia perfilman. Cerita tentang hantu dan bentuk-bentuknya yang beragam selalu dihadirkan seolah nyata. Padahal, kita tak pernah benar-benar tahu wujud asli sesosok hantu.
Benarkah tokoh hantu di film-film itu ada wujud aslinya atau hanya ciptaan? Fenomena hantu ini menjadi horor bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Tapi, keberadaan hantu selalu menginspirasi banyak orang. Alasannya pun beragam, dan yang pasti penasaran menjadi satu hal yang pasti dirasakan oleh banyak orang.
Horor atau sesuatu yang dapat membuat manusia ketakutan atau ngeri pada kenyataanya cukup banyak mendapat perhatian dari masyarakat. Sensasinya yang horor ternyata tidak sebanding lurus dengan penikmatnya. Film horor atau apapun yang menawarkan aroma horor anehnya tidak pernah sepi peminat.
Kecenderungan itu semakin aneh ketika dibarengi dengan perasaan takut, tapi tidak beranjak pergi dari hadapan televisi atau layar bioskop. Menunjukan bahwa film horor memang tetap memiliki sensasi tersendiri di mata masyarakat.
Horor selalu mendatangkan keuntungan, sekaligus kengerian dan ketakutan luar biasa. Dua hal yang sebenarnya tidak cocok untuk disandingkan. Fenomena horor di masyarakat sendiri berkembang dengan kuatnya, bercampur dengan mitos yang beredar di masyarakat itu sendiri.
Fenomena Film Bertema Horor - Hantu Terkenal Melebihi Artis
Fenomena keberadaan hantu atau kisah-kisah horor sampai pada tahap eksplorasi. Dengan segala tujuannya, manusia seolah takpernah kehabisan akal untuk "mengorek" segala informasi yang beraroma mistis, hantu, horor dan lain sebagainya. Horor bahkan hadir dalam bentuk lain. Sebuah teror paling dekat dengan masyarakat, dunia hiburan.
Keberadaan kisah hantu atau horor dalam bentuk film memang bukan lagi hal yang baru. Ibaratnya, horor dalam perfilman Indonesia seperti lagu lama kaset baru. Pengemasannya yang berbeda, tapi isinya sama, hantu, meneror dengan cerita horor.
Tema horor atau hantu ternyata bukan hanya diminati oleh masyarakat Indonesia. Masyarakat luar negeri, seperti Thailand dan Jepang juga begitu terkenal dengan sensasi menyeramkan yang dihasilkan dari produksi film mereka.
Ya. Di jagat perhororan, eksistensi hantu memang memiliki daya tarik tersendiri. Hantu kadang lebih terkenal dibanding aktor dan aktris lainnya. Hanya dari judul film pun, hal ini sudah bisa dibuktikan. Judul film hantu di Indonesia memang selalu mengedepankan sosok hantunya dibanding pemeran manusia. Misalnya, Kuntilanak, Pocong, Suster Ngesot, Hantu Kereta Manggarai, dan Arwah Goyang Karawang.
Keberadaan film-film bernuansa horor tersebut, khususnya di Indonesia, memang bercampur dengan dongeng atau mitos yang beredar di masyarakat. Sebuah fenomena yang juga unik dalam film jenis ini, bahwa pemeran utama dalam film sepertinya tidak memiliki andil besar dalam menarik minat penonton. Sebagian besar masyarakat, justru tertarik dengan sosok hantu apa yang akan diceritakan.
Film Horor - Heboh dengan Adegan di Luar Skrip
Takbisa dipungkiri bahwa sensasi yang ditimbulkan dari film horor memang "ajaib". Bukan hanya cerita seram, tapi juga sensasi di luar itu dan cenderung tidak ada hubungannya dengan film itu sendiri.
Seperti film berjudul Arwah Goyang Karawang. Judul film horor ini merupakan sebuah film hantu yang dapat dikatakan bertabur sensasi. Film ini menghadirkan perseteruan dua aktris pemeran utama manusianya, yaitu Julia Peres dan Dewi Persik. Mendengar namanya saja, setiap orang sudah tahu karakter dan “ciri khas” kedua artis yang kerap mengundang sensasi ini.
Dalam beberapa scene, Jupe dan Depe memang beradegan berkelahi. Dalam hal ini, berkelahi ala perempuan, beradu omongan. Namun, percekcokan tersebut malah berlanjut pada penyerangan fisik berupa pukulan, cakaran, serta tendangan yang dilakukan Depe secara berulang-ulang. Kabarnya, perkelahian fisik itu sudah keluar dari skenario. Keduanya berkelahi secara nyata. Mereka menawarkan adegan yang "lebih horor" kepada penonton.
Adegan di luar skenario itu, bahkan, menjadi daya tarik dan ajang promosi tersendiri. Sebagai langkah promosi, adegan nyata itu digembor-gemborkan akan muncul dalam filmnya tanpa cut sama sekali. Hanya merapikan beberapa adegan “pengganggu”. Melihat hal ini, siapa yang tidak penasaran ingin menyaksikan perkelahian kedua artis sensasional itu.
Ternyata, janji promosi itu memang “benar”. Saat film diputar, pada adegan perkelahian tersebut terdapat sebuah catatan bahwa “adegan ini di luar skenario”. Benar atau tidaknya hal itu hanya mereka yang tahu. Tidak hanya itu, saat film telah berakhir, ada adegan-adegan di balik layar yang mempertontonkan sikap kedua artis pascaperkelahian.
Sama sekali tidak ada yang patut dibanggakan dari film ini. Mereka menampilkan adegan berkelahi demi mendapatkan antusiasme masyarakat guna kepentingan sendiri. Perilaku seperti itu lebih horor dibandingkan dengan sosok hantu itu sendiri.
Secara perlahan dan pasti, hal-hal seperti itulah yang membuat film horor Indonesia dicap kampungan. Belum lagi berbagai adegan sensual di hampir setiap scenenya. Sangat jauh jika dibandingkan dengan industri film Thailand dan Jepang ketika memproduksi film horor.
Titik berat mereka tidak pada bagian tubuh sensual yang dimiliki oleh pemeran utama wanita. Tapi pada jalan cerita dan alur yang memang pas. Sosok hantu yang diciptakan pun tidak dieksploitasi secara berlebih.
Tampaknya, kasus-kasus semacam ini sudah tak asing lagi di kalangan selebritas Indonesia. Setiap hal –sekecil apapun- pasti dilaporkan. Pengacara berseliweran saling mencela rival demi membela klien artisnya. Pak Polisi seolah dianggap menganggur hingga harus menanggapi berbagai kasus para seleb itu meskipun tak jarang hanya kasus fiktif. Fenomena ini sekali lagi, terlihat lebih horor dibandingkan dengan film horor itu sendiri.
Film horor yang mereka bintangi pada akhirnya berubah jadi sebatas jembatan untuk mendapatkan popularitas. Cerita horor yang ada dalam film horor tersebut menjadi angin lalu. Tidak berlebihan rasanya jika hal itu dikategorikan sebagai awal mula kehancuran dunia perfilman di Indonesia.
Keberadaan film horor model seperti ini di Indonesia memang tidak bisa disalahkan. Kembali pada ketertarikan masyarakat Indonesia yang sepertinya takpernah padam terhadap sensasi film horor tersebut.
Film Horor Indonesia - Kalah Saing dengan Film Horor Thailand dan Jepang
Benarkah film hantu Indonesia benar-benar horor? Tampaknya, masyarakat bisa menyimpulkan sendiri. Film horor Indonesia belakangan tidak lagi sehoror judulnya. Bahkan, boleh dibilang isi film horor Indonesia hanya sebuah tabir untuk menutupi berbagai adegan “panas” di dalamnya.
Hal ini nyata berbeda dengan film-film horor produksi Jepang dan Thailand yang sama sekali tidak menghadirkan adegan vulgar seperti yang terdapat dalam film horor Indonesia. Film horor Jepang dan Thailand mampu menghadirkan ketegangan luar biasa. Film horor Indonesia pun demikian, mampu menciptakan “ketegangan” yang lebih dari rasa takut.
Horor Masa Kini dan Masa Lalu
Film horor adalah film yang diproduksi, untuk membuat penontonnya merasa ketakutan setiap kali melihatnya. Ceritanya sendiri memang tidak jauh-jauh dari kematian, hantu, gangguan jiwa, dan hal-hal berbau supranatural lainnya.
Sejarah Film Horor
Film horor di dunia diproduksi sesuai literatur klasik yang mengandung tema horor legendaris dari negara Barat. Misalnya karakter Drakula, Frankestein, Mumi, dan sebagainya. Karakter-karakter menyeramkan ini sudah ada sejak lama dan “hidup terus” lewat film-film bertema serupa yang terus diproduksi.
Film horor pertama yang diproduksi di dunia adalah film bisu buatan sutradara Perancis, George Melies, yang merilis Le Manoir du Diable (Evil House) di akhir tahun 1890-an. Kesuksesan film ini diikuti berbagai sineas di dunia. Hollywood sendiri baru membuat film horor pertama di tahun 1931 lewat film Franskestein.
Sesudah industri perfilman lebih maju di masa pasca Perang Dunia II, mulai muncul 3 genre utama film horor di Hollywood. Ketiga genre itu adalah horor-psikologi seperti film Psycho yang dirilis tahun 1951, horor-teknologi yang cenderung memainkan efek-efek visual, dan juga horor-setan yang menampilkan tokoh-tokoh fiktif yang menyeramkan (contohnya film The Exorcist yang dirilis tahun 1973). Dalam perkembangannya, jenis ketigalah yang paling banyak diproduksi. Karakter fiktif menyeramkan itu pun banyak menginspirasi film Indonesia, sehingga lahirlah karakter pocong, kuntilanak, dan sebagainya.
Film Horor Masa Kini
Film horor awalnya dianggap sebagai film rendahan yang tidak berkualitas. Tapi seiring perkembangan waktu, Hollywood juga memproduksi film horor bekualitas yang memperhatikan aspek pembuatan film dan tidak hanya mengandalkan karakter menyeramkan. Sutradara yang banyak mendapat penghargaan dari film jenis ini adalah Alfred Hitchcock, yang dikenal piawai memainkan emosi penonton.
Mulai tahun 1970an film horor dengan genre baru juga mulai muncul. Ini karena para sineas semakin kreatif menggabungkan beberapa genre di satu filmnya. Sampai muncullah istilah film slasher, film thriller-psikologis, horror ilmiah, horror twist, dan masih banyak genre lainnya. Film-film seperti Psycho, Rosemary Baby, dan trilogy The Excorsit dianggap menjadi pionir. Sekarang, jumlah film horor di Hollywood tidak terhitung banyaknya.
Sementara di Indonesia sendiri, film horor sangat popular di tahun 1980an lewat karakter Suzanna yang memainkan beragam karakter menyeramkan dari Nyi Blorong, Pocong, sampai Kuntilanak. Meski sempat mati suri, film horror muncul lagi lewat film Jelangkung di tahun 2001, dan terus diproduksi sampai sekarang.

