Kenangan Akan Hutan Belantara Sumatera Selatan
Ilustrasi hutan belantara
Tahun 1980-an, kalau mau pergi ke makam yang hanya berjarak sekitar 3 km dari perumahan, harus mempersiapkan peralatan ‘perang’, seperti parang (sejenis golok) tajam, api, dan pisau. Kenapa? Harimau yang disebut ‘nenek’ masih banyak berkeliaran di area makam yang terletak agak masuk ke hutan belantara dengan pepohonan tinggi yang masih sangat rapat.
Jangan ditanya siamang, monyet, kadal, ular, dan binatang hutan lainnya. Mereka dengan santai dan asyiknya berpindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Nyamuk besar-besar dengan suara berdengung seperti tak hendak melepaskan diri dari orang-orang yang memasuki hutan belantara tersebut. Selain itu, para penjahat bajing loncat pun masih sangat banyak.
Pokoknya, pergi ke makam saja sudah menjadi petualangan yang sangat menegangkan. Bayangkan kalau menemui jejak-jejak si ‘nenek’ yang masih segar. Kuburan baru harus di kandang rapat agar tidak digali oleh hewan-hewan buas yang terus mengintai. Kini, di sisi makam itu sudah berdiri beberapa rumah.
Kenangan Hutan Belantara Sumatera Selatan
Jarak ke desa Perjito yang terletak di kecamatan Gunung Megang, kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan hanyalah sekitar 35 km dari pusat kota kabupaten. Tapi pada tahun 80-an itu, menempuh jarak sedekat itu seperti menempuh jarak ribuan kilometer.
Rasanya lama sekali dan mata harus selalu waspada. Perbekalan jikalau tersesat dan air minum bersih sudah dipersiapkan dengan saksama. Bagaimana tidak, sepanjang jalan menuju desa, yang terlihat hanyalah aliran sungai Lematang dan hutan-hutan dengan suara khas binatang hutannya.
Kadang ada rasa ngeri tapi karena begitulah medan yang harus dilalui bila hendak bersilaturrahmi dengan sanak- saudara di kampung, ya, semua tantangan itu harus dilalui. Jalan ke desa Perjito? Lumayanlah buat jalan kampung yang penuh lumpur berlubang di sana-sini dan sedikit berbatu. Perut rasanya terkocok-kocok.
Belum lagi kalau hari hujan. Lubang-lubang yang ada di jalan tidak terlihat. Kalau sudah begini, ban mobil terjebak dalam kubangan yang cukup dalam sudah biasa. Dorong mendorong mobil sudah menjadi pemandangan yang normal.
Kini dengan semakin banyaknya pabrik kelapa sawit, sudah semakin banyak pula hutan belantara itu yang berubah menjadi kebun-kebun sawit ribuan hektar serta kebun-kebun karet yang juga ribuan hektar. Tak ada lagi suara harimau yang melengking atau suara monyet dan siamang yang sedang bersenda gurau. Yang ada adalah suara mesin pabrik dan bau busuk kalau limbah sawit belum mengering dengan sempurna.
Jalanan masih banyak yang berlubang, tapi menatap langit rasanya lapang sekali. Dulu sulit sekali menatap langit karena terhalang dedaunan pohon-pohon setinggi gedung tingkat 6. Kini, jarang sekali bisa menemukan pohon-pohon setinggi itu. Kalaupun ada, pohon tersebut hanya tinggal menunggu waktu untuk ditebang.
Memang, pergi ke dusun Perjito bukan suatu yang menakutkan lagi. Tapi setelah tahu bahwa betapa pentingnya fungsi hutan belantara bagi kehidupan, rasanya ingin kembali ke masa di mana dapat memeluk batang pohon yang begitu besar. Ingin sekali berkata, “Aku sudah semakin besar karena aku bisa memeluk pohon ini dengan sempurna.”
Hutan Sumber Kehidupan
Hutan merupakan kumpulan pohon-pohon dan hewan yang berada dalam suatu kawasan yang saling berinteraksi, mereka hidup di atas tanah yang hidup dalam keseimbangan. Hutan ini akan tetap lestari bila kita mau melestarikannya.
Namun, apabila tidak dilestarikan, maka akan timbul kepunahan terhadap ekosistem hutan tersebut. Kepunahan atau kerusakan hutan ini salah satunya bisa disebabkan oleh penebangan hutan secara liar.
Zaman semakin berkembang, terutama di dunia industri teknologi. Populasi manusia pun semakin bertambah, sehingga kebutuhan sandang, pangan, dan papan bertambah pula.
Kebutuhan tersebut didapatkan dari sumber daya alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hasil tambang, lahan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, persediaan sumber daya alam tersebut semakin hari semakin menipis. Manusia terus mengambil sumber daya alam tersebut. Tentu saja, lama-lama akan berkurang apabila tidak dikembangkan lagi.
Itulah, mengapa penebangan hutan belantara di mana-mana sedang marak terjadi. Populasi manusia yang semakin meningkat menyebabkan lahan-lahan pertanian digunakan sebagai tempat tinggal. Industri yang semakin banyak juga semakin mengurangi lahan-lahan pertanian.
Fenomena tersebut sudah berlangsung sejak dulu. Lahan pertanian dan hutan-hutan semakin berkurang karena dipakai untuk tempat tinggal dan untuk pembangunan industri-industri.
Akibatnya, sumber daya alam semakin berkurang, terutama pepohonan. Daerah pegunungan saja sekarang sudah mulai diambil sumber daya alamnya. Pepohonannya di tebang dan tanahnya diambil sebagai bahan pembuatan bangunan-bangunan, sehingga banyak gunung yang sudah tidak ada karena hal tersebut.
Pepohonan ditebang karena manusia semakin membutuhkan kayu untuk kehidupannya. Membangun rumah, perabotan rumah tangga, kertas, dan barang-barang lainnya yang berasal dari kayu semakin dibutuhkan.
Program go green yang diusung beberapa tahun ini tidak terlalu dipedulikan. Penanaman seribu pohon untuk mengurangi global warming juga tidak terlalu mendapatkan respon dari masyarakat.
Padahal program tersebut sangat bagus, tapi karena tidak didukung penuh oleh masyarakatnya dan fasilitasnya kurang, maka program tersebut hanya sebagai bahan perbincangan saja. Hanya ada slogan-slogan yang dipampang di depan umum.
Program tersebut digembor-gemborkan, tapi penebangan pohon pun semakin banyak. Penggundulan hutan dan gunung terus meningkat, sedangkan penanaman kembali pohonnya tidak dilakukan.
Gunung yang gundul dibiarkan begitu saja, sehingga menjadi gersang dan tanahnya tandus dan global warming semakin meningkat. Pohon sebagai sumber yang dapat mengurangi global warming malah habis ditebang. Rumah-rumah kaca semakin banyak. Jadi, jangan heran jika keadaan bumi ini semakin hari semakin panas.
Daerah perkotaan yang jarang di tanam pepohonan dan banyaknya rumah kaca, hawanya panas dan tidak sejuk. Berbeda apabila di pedesaan yang keadaan alamnya masih banyak pepohonan dan rumah-rumah kaca masih jarang, hawanya itu sejuk dan segar.
Akan tetapi, di daerah pedesaan saja sekarang sudah mulai terasa sumpek. Populasi manusia yang semakin banyak dan ditambah pembangunan lahan industri di daerah pedesaan, membuat hawa pedesaan mulai tercemar dan tidak sejuk.
Jadi, di mana kita dapat menemukan tempat yang sejuk dan nyaman? Apakah masih ada tempat yang seperti itu di Indonesia? Kalaupun ada, itu hanya ada di beberapa tempat saja.
Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman memang sangat mempengaruhi keadaan sumber daya alam di Indonesia. Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris sudah mulai luntur karena lahan pertaniannya semakin sempit.
Hal tersebut memang harus segera diatasi, bagaimana pun bentuknya. Mulailah dari diri sendiri dengan mencintai lingkungan di sekitar kita. Menanam pohon di depan rumah dan merawatnya, itu sebagai salah satu bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan.
Hutan belantara yang kita miliki harus dilestarikan, sehingga anak cucu kita bisa menikmati hutan yang kita miliki. Kita tidak boleh memanfaatkan hutan secara sembarangan. Kalau hutan yang kita miliki habis, maka akan terancam bencana, seperti yang sudah dijelaskan di atas. Agar hutan kita tetap lestari, maka kita harus melestarikannya. Usaha-usaha yang dapat kita lakukan, misalnya dengan cara sebagai berikut.
- Menanam kembali hutan yang gundul atau dikenal dengan istilah reboisasi. Daerah-daerah yang gundul atau mengalami kekeringan akan dapat kembali hijau bila dilakukan reboisasi, yaitu dengan menanam kembali daerah yang gersang dengan menanam tanaman yang sesuai dengan kondisi hutan.
- Tidak menebang hutan secara sembarangan. Kita harus melakukan penebangan sistem tebang pilih, yaitu pada saat akan menebang pohon kita harus melihat terlebih dahulu ukuran yang sesuai dan mengganti dengan tanaman yang baru.
- Mengurangi pemakaian bahan-bahan yang berasal dari pohon. Misalnya, penghematan pemakaian kertas dan tisu atau mendaur ulang kertas bekas menjadi barang yang bermanfaat.
- Melakukan gerakan penanaman seribu pohon dan merawatnya, sehingga pohon tersebut tumbuh besar dan dapat bermanfaat untuk mengurangi global warming.
- Menjaga hutan dari penebang liar dengan menjadikan hutan belantara sebagai hutan lindung.
Masih banyak lagi yang dapat kita lakukan untuk mengurangi penebangan pohon. Dengan dimulai dari diri kita sendiri dan memberikan contoh kepada orang lain, sehingga secara tidak langsung kita mengajak kepada orang lain untuk bersikap peduli pada lingkungan.
Kalau bukan kita yang melestarikan sumber daya alam yang ada di negara ini, siapa lagi. Kita yang hidup di negara ini, yang melakukan dan merasakan akibatnya, yaitu kita sendiri. Untuk itu, marilah menjaga kelestarian negara kita ini bersama-sama. Ciptakan kembali negara Indonesia sebagai negara agraris dan terkenal dengan keindahan alam hutan belantara.

