Pelestarian Hutan Melalui Pembuatan Hutan Kota
Ilustrasi hutan kota
Orang yang pernah tinggal di Yogya, pasti tahu hutan buatan yang berfungsi juga sebagai hutan kota yang ada di kampus Universitas Gadjah Mada dekat Fakultas Kehutanan dan di dekat Rumah Sakit Sarjito. Rindang, sesekali burung elang terbang melintas. Keberadaan burung elang menandakan bahwa daerah sekitarnya masih bagus dengan vegetasi yang baik. Sejuk dan nyaman sekali rasanya.
Di daerah Magelang, ada hutan kota yang diberi nama “Hutan Tidar” yang berada di tengah kota. Saking lebatnya, hutan Tidar ini menjadi tempat latihan menembak bagi para taruna Akmil. Pohon cemara yang tinggi serta pepohonan yang lainnya begitu sejuk dipandang mata.
Seandainya ada 10 tempat saja di suatu daerah yang mempunyai hutan kota seperti yang ada di Yogyakarta dan Magelang, maka sejuklah kota tersebut. Dengan pembangunan yang semakin pesat, saat ini keberadaan hutan ini menjadi sangat terancam. Lihatlah Jakarta yang kini berjuang mati-matian menata kotanya agar dapat mengembalikan 30% ruang terbuka hijau.
Berapakah Luas Sebuah Hutan Kota?
Melihat pentingnya hutan kota sebagai paru-paru kota yang dapat membantu menetralisir pencemaran udara yang disebabkan oleh kendaraan bermotor, harusnya hutan tersebut minimal seluas 2 hektar.
Akan tetapi, mungkin agak sulit untuk membuat seperti Central Park, New York, yang begitu hijau dan luas dengan semua fasilitas umum bagi pengunjungnya. New York yang merupakan salah satu kota terpadat di dunia saja mempunyai lebih dari seribu taman.
Mengapa kota-kota di Indonesia yang tidak sepadat New York tidak mampu membuat hutan kota atau minimal taman kota yang cukup rindang? Atau mungkinkah setiap sudut kota atau setiap 10 km, ada hutan seluas seperempat hektar saja?
Bukankah pengaruh timbal terhadap otak bayi dan anak-anak sangatlah jahat. Timbal yang keluar dari knalpot kendaraan dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Paru-paru yang tidak baik juga akan membuat pertumbuhan fisik tidak normal.
Selain itu, akibat dari polusi udara adalah stres yang dirasakan oleh penghuni kota. Stres yang tak terkendali dapat merusak mental dan jiwa. Bila sudah terlalu stres, maka penggunaan narkoba akan merajarela dan tingkat kejahatan pun akan semakin meroket.
Pembuatan Hutan Kota
1. Kebun Binatang
Adanya kebun binatang merupakan sebuah anugerah bagi sebuah kota. Andai saja ada sepuluh kebun binatang besar, sedang, dan mini di setiap kota, maka sejuklah kota itu. Kebutuhan hewan akan lingkungan hijau mau tak mau membuat manusia berjuang keras untuk menyediakannya. Tapi mahalnya biaya perawatan hewan yang ada di kebun binatang menjadi kendala tersendiri yang menyebabkan sulitnya membuat kebun binatang di suatu kota.
2. Taman-Taman Perusahaan
Setiap perusahaan besar diwajibkan untuk membuat taman kota yang pada akhirnya dapat dijadikan hutan kota bila ditata rapi. Bila perlu, demi sebuah hutan seluas satu hektar saja, biaya pembuatan dan perawatan ditanggung oleh beberapa perusahaan.
Pohon yang ditanam pun bisa berupa pohon produktif sehingga suatu saat pohonnya dapat ditebang dan uangnya untuk pembelian bibit dan perawatan hutan selanjutnya. Pohon-pohon buah, seperti, mangga, rambutan, jambu air juga bisa ditanam di hutan.
Yang menjadi masalah adalah perawatan hutan kota. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat untuk memelihara fasilitas umum merupakan salah satu hal yang menghambat kemajuan pembangunan di Indonesia.
Hingga ada pameo yang beredar di masyarakat yang mengatakan bahwa rakyat Indonesia adalah rakyat pembangun, tapi tak mampu memelihara sehingga hasil pembangunan itu sia-sia saja tak mampu mendatangkan kesejahteraan kepada masyarakat itu sendiri.
Keadaan Populasi Hutan di Indonesia
Hutan merupakan kumpulan pohon-pohon dan hewan yang berada dalam suatu kawasan yang saling berinteraksi, mereka hidup di atas tanah yang hidup dalam keseimbangan. Hutan ini akan tetap lestari bila kita mau melestarikannya.
Namun, apabila tidak dilestarikan, maka akan timbul kepunahan terhadap ekosistem hutan tersebut. Kepunahan atau kerusakan hutan ini salah satunya bisa disebabkan oleh penebangan hutan secara liar.
Zaman semakin berkembang, terutama di dunia industri teknologi. Populasi manusia pun semakin bertambah, sehingga kebutuhan sandang, pangan, dan papan bertambah pula.
Kebutuhan tersebut didapatkan dari sumber daya alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hasil tambang, lahan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, persediaan sumber daya alam tersebut semakin hari semakin menipis. Manusia terus mengambil sumber daya alam tersebut. Tentu saja, lama-lama akan berkurang apabila tidak dikembangkan lagi.
Itulah, mengapa penebangan hutan di mana-mana sedang marak terjadi. Populasi manusia yang semakin meningkat menyebabkan lahan-lahan pertanian digunakan sebagai tempat tinggal. Industri yang semakin banyak juga semakin mengurangi lahan-lahan pertanian.
Fenomena tersebut sudah berlangsung sejak dulu. Lahan pertanian dan hutan-hutan semakin berkurang karena dipakai untuk tempat tinggal dan untuk pembangunan industri-industri.
Akibatnya, sumber daya alam semakin berkurang, terutama pepohonan. Daerah pegunungan saja sekarang sudah mulai diambil sumber daya alamnya. Pepohonannya di tebang dan tanahnya diambil sebagai bahan pembuatan bangunan-bangunan, sehingga banyak gunung yang sudah tidak ada karena hal tersebut.
Ironis sekali bukan? Bukan itu saja, sumber daya alam yang seharusnya dijaga dan dilestarikan malah dibabat habis tanpa ada pelestarian kembali. Alam menjadi rusak. Kebutuhan akan sumber daya alam semakin berkurang.
Kita tahu bahwa kebutuhan pokok masyarakat Indonesia adalah beras. Beras adalah makanan pokok. Sawah-sawah yang ada di Indonesia banyak sekali, tapi itu dulu. Bagaimana lahan pertanian sekarang ini?
Hal tersebut sudah dijelaskan bahwa lahan pertanian sudah mulai berkurang karena banyak faktor. Kebutuhan hasil pertanian semakin meningkat, tapi lahan pertaniannya semakin berkurang. Akibatnya, kebutuhan akan hasil pertanian tersebut menjadi langka dan otomatis mempengaruhi keadaan ekonomi di Indonesia.
Sekarang ini, kita sering mengalami kenaikan harga bahan pangan karena bahan pangan tersebut langka. Akibat kelangkaan tersebut, harga bahan pangan menjadi mahal dan apabila kekurangan, maka akan mengimpor bahan pangan tersebut dari luar. Sama saja, kita akan mendapatkan harga bahan pangan yang mahal.
Lahan pertanian dan hutan-hutan yang ada di sekitar kita semakin berkurang. Banyak perumahaan yang dibangun di lahan pertanian. Pembangunan pabrik dan perkantoran banyak dibangun dan menggunakan lahan pertanian. Hutan-hutan digunduli karena lahannya akan digunakan sebagai pembangunan rumah atau industri-industri.
Pepohonan ditebang karena manusia semakin membutuhkan kayu untuk kehidupannya. Membangun rumah, perabotan rumah tangga, kertas, dan barang-barang lainnya yang berasal dari kayu semakin dibutuhkan.
Program go green yang diusung beberapa tahun ini tidak terlalu dipedulikan. Penanaman seribu pohon untuk mengurangi global warming juga tidak terlalu mendapatkan respon dari masyarakat.
Padahal program tersebut sangat bagus, tapi karena tidak didukung penuh oleh masyarakatnya dan fasilitasnya kurang, maka program tersebut hanya sebagai bahan perbincangan saja. Hanya ada slogan-slogan yang dipampang di depan umum.
Program tersebut digembor-gemborkan, tapi penebangan pohon pun semakin banyak. Penggundulan hutan dan gunung terus meningkat, sedangkan penanaman kembali pohonnya tidak dilakukan.
Gunung yang gundul dibiarkan begitu saja, sehingga menjadi gersang dan tanahnya tandus dan global warming semakin meningkat. Pohon sebagai sumber yang dapat mengurangi global warming malah habis ditebang. Rumah-rumah kaca semakin banyak. Jadi, jangan heran jika keadaan bumi ini semakin hari semakin panas.
Daerah perkotaan yang jarang di tanam pepohonan dan banyaknya rumah kaca, hawanya panas dan tidak sejuk. Berbeda apabila di pedesaan yang keadaan alamnya masih banyak pepohonan dan rumah-rumah kaca masih jarang, hawanya itu sejuk dan segar.
Akan tetapi, di daerah pedesaan saja sekarang sudah mulai terasa sumpek. Populasi manusia yang semakin banyak dan ditambah pembangunan lahan industri di daerah pedesaan, membuat hawa pedesaan mulai tercemar dan tidak sejuk.
Jadi, di mana kita dapat menemukan tempat yang sejuk dan nyaman? Apakah masih ada tempat yang seperti itu di Indonesia? Kalaupun ada, itu hanya ada di beberapa tempat saja.
Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman memang sangat mempengaruhi keadaan sumber daya alam di Indonesia. Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris sudah mulai luntur karena lahan pertaniannya semakin sempit.
Hal tersebut memang harus segera diatasi, bagaimana pun bentuknya. Mulailah dari diri sendiri dengan mencintai lingkungan di sekitar kita. Menanam pohon di depan rumah dan merawatnya, itu sebagai salah satu bentuk kepedulian kita terhadap lingkungan dan menciptakan hutan kota.

