Akibat Alih Fungsi Hutan Rawa
Ilustrasi hutan rawa
Semakin hari, pohon gelam yang ada di hutan rawa semakin habis. Dahulu, pohon gelam dengan kayu berserabut keabuan itu terlihat dari ujung ke ujung cakrawala. Air rawa yang bening kini dipaksa kering dan dibuatkan saluran berupa sungai kecil. Akankah saluran air itu berfungsi baik hingga ratusan tahun?
Hutan rawa itu kini habis. Pohon gelam dan tumbuhan lainnya dibabat. Yang tua dijadikan bahan bangunan. Yang masih kecil terbuang begitu saja. Itulah kisah hutan rawa beberapa tahun lalu. Kini, hutan rawa sudah berubah menjadi perumahan-perumahan elit berharga selangit dengan semua fasilitas penunjangnya berupa ruko-ruko dan bangunan fasilitas umum lainnya.
"Amukan" Hutan Rawa
Ternyata, air yang dipaksa mengalir ke saluran buatan yang tidak terlalu besar (lebar 1-1,5 m) tidak mau lagi kompromi. Air itu muncul dari segala penjuru. Lalu, apa yang terjadi? Air menggenangi rumah-rumah mewah yang dipaksakan berdiri di atas tanah rawa yang notabenenya penuh dengan kubangan air.
Kejadian ini tidak hanya dialami oleh Perumahan yang berada di dekat aliran sungai Musi, Sumatra Selatan. Dialami juga oleh perumahan yang ada daerah hutan rawa di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan sekitarnya, dan masih banyak daerah lain yang selalu terkepung banjir saat hujan hanya gerimis sekalipun.
Bagi yang mempunyai dana, meninggikan tanah di sekitar rumah hingga satu meter adalah solusi yang terpaksa diambil walaupun akhirnya agak merusak keindahan estetika rumah tampak depan. Rumah terlihat pendek dan tidak menarik.
Pembangunan sia-sia
Bahkan, ada rumah dibangun dekat saluran buatan yang akhirnya telantar dan sangat sulit mencari pembeli rumah tersebut. Papan pengumuman yang menyatakan bahwa rumah tersebut dijual sudah rapuh dimakan usia saking terlalu lamanya berdiri di depan rumah itu.
Akhirnya pembangunan perumahan sia-sia belaka karena tak ada yang konsumen yang minat menghuni daerah rawa-rawa, dengan sanitasi yang minim. Sebenarnya perumah yang dibangun di atas rawa, menyalahi aturan dan amdal. Karena fungsi rawa hutan sebenarnya adalah daerah penyangga dan penampung air.
Solusi lainnya adalah membangun rumah panggung. Memang lebih mahal karena harga bahan bangunan semakin tinggi. Apalagi, bila akan membangun rumah tradisional khas Palembang yang serba kayu berkualitas nomor satu. Hanya orang-orang tertentulah yang bisa melakukannya.
Karakter Hutan Rawa
Hutan rawa merupakan salah satu hutan tropis yang berada di dataran rendah. Hutan basah ini memiliki karakter tanah yang berbeda dengan yang lain. Hutan rawa yang selalu tergenang tanahnya terdiri dari tumpukan sisa –sisa tumbuh yang mati dan tak membusuk secara sempurna. Akumulasi sampah organisme ini berlangsung sejak jutaan tahun silam. Sehingga menyebabkan kandungan kadar airnya yang asam.
Kandungan asam yang tinggi pada air, menyebabkan kadar oksigen dalam tak ada. Akibatnya menghambat pembusukan organisme seperti kayu, hewan, dan tumbuhan. Bahkan ada pohon yang sudah berabad-abad mati tapi kayunya tak lapuk, walau terpendam dalam tanah.
Warna air hutan rawa coklat kemerahan dan cenderung keruh. Warna merah dihasilkan dari reaksi kimia pembusukan sisa-sisa tumbuhan yang sudah mati. Kandungan air yang asam tak ada satu pun bakteri dan mikroorgansime yang bisa hidup di dalam air. Sehingga air gambut bisa langsung diminum oleh manusia.
Hanya sedikit jenis ikan yang bisa hidup di perairan hutan gambut. Sedangkan tumbuhan yang menghuni hutan gambut adalah pohon pohon gelam dan rumput ilalang saja yang bisa tumbuh subur di sana. Hutan gambut hanya dipakai untuk bersarang kawanan burung air yang tengah bermigrasi.
Fungsi hutan Rawa
Hutan rawa yang banyak terdapat dapat Sumatera dan Kalimantan, memiliki peranan yang tak penting dengan hutan hujan. Salah satunya adalah penyangga sirkulasi air, ketika musim hujan. Oleh karena itu hutan gambut tak boleh dirambah untuk dijadikan pemukiman penduduk. Berikut ini penjelasan tentang fungsi-fungsi hutan gambut :
- Menampung air
Fungsi pertama adalah sebagai penampung limbasan air hujan, banjir, agar tak menggenang pemukiman penduduk. Intensitas hujan di Sumatera dan Kalimantan lebih tinggi dari pada di Jawa, limbahan air hujan, bisa langsung di serap oleh tanah gambut, sehingga banjir bisa di kendalikan.
Selain itu hutan rawa bisa dijadikan sebagai cadangan air bersih bagi penduduk setempat. Namun air yang diambil dari hutan gambut, sebelum dipakai untuk keperluan manusia, harus disaring terlebih dahulu. Sistem penyaringan air asam menjadi air bersih menggunakan teknologi penyaringan sederhana.
- Habitat hewan liar
Fungsi hutan gambut yang berikutnya adalah sebagai tempat habitat alami hewan liar, misalnya burung air, monyet ekor panjang, hewan predator dan lain sebagainya. Burung air seperti bangau, belibis membuat sarang pucuk-pucuk pohon yang terlindung dari jangkauan manusia dan hewan pengganggu lainnya.
Ketika hutan gambut dirambah menjadi lahan pertanian, tentu dampak sampingnya merusak ekosistem di rawa. Keberadaan hewan liar makin terdesak.
- Fungsi ekonomi
Hutan rawa memiliki potensi ekonomi yang berguna bagi manusia. Hasil hutan yang paling banyak diambil adalah kayu gelam. Jenis kayu yang karakter batangnya yang kuat, lurus dan tak mudah lapuk karena serangga. Sehingga kayu gelam memiliki nilai jual yang tinggi di pasaran. Kayu ini dipakai untuk material membuat rumah, konstruksi bangunan.
Sedangkan lahan hutan gambut memiliki unsure hara yang tinggi, karena terdiri dari sisa-sisa organisme tumbuhan. Namun untuk menghasilkan lahan yang siap panen harus diproses terlebih dahulu agar kandungan asamnya berkurang.
Potensi lahan gambut
Luas lahan gambut di Sumatera mencapai 7 juta hektar yang tersebar di berbagai wilayah. Seperti Palembang, Jambi, Riau dan sekitarnya. Sedangkan di bumi Kalimantan, luas rawa gambut 5,7 juta hektar. Indonesia menduduki peringkat ke empat negara yang memiliki wilayah hutan gambut terluas di dunia. Lahan gambut yang awalnya hanya lahan terbengkalai, sebenarnya bisa dijadikan sebagai lahan pertanian yang potensial.
Lahan gambut di kedua pulau ini, bisa dijadikan sebagai cadangan lahan pertanian baru di Indonesia, mengingat lahan pertanian yang ada, terutama di Jawa semakin menyempit, karena berubah fungsi. Pertanian di pulau Jawa tak bisa lagi diharapkan sebagai lumbung padi nasional. Maka dari itu, pemerintah harus mencari lahan pertanian baru, agar swasembada pangan tetap dipertahankan.
Hutan gambut Indonesia yang luas, merupakan pilihan yang tepat untuk dijadikan sebagai lahan pertanian potensial. Para ahli pertanian membuktikan bahwa tanah gambut kaya akan unsure hara, yang bermanfaat menyuburkan tanaman pertanian. Ini berarti menghemat penggunaan pupuk kimia.
Proyek mencetak lahan pertanian baru
Program penyediaan lahan pertanian baru, sebenarnya sudah dicanangkan oleh presiden Soeharto, dengan proyek mencetak 1 juta hektar sawah baru, di Kalimantan Tengah. Nanti yang akan menggarap sawah tersebut adalah para transmigran dari Jaw dan Bali. Biaya proyek ini disokong oleh ABPN, tapi sayangnya mega proyek pertanian ini berhenti di tengah jalan, karena revolusi reformasi.
Padahal kalau berhasil, ada banyak jenis tanaman pertanian yang bisa dibudidayakan diatas lahan pertanian gambut, misalnya padi, bawang merah, bawang putih, kedelai dan palawija.
Ada baiknya pemerintah melanjutkan proyek ini, demi masa depan pangan Indonesia. Sudah saatnya Indonesia berhenti dari ketergantungan impor besar, kedelai dan jagung. Swasembada pangan adalah tujuan pembangunan nasional.
Hunian Yang benar
Hutan rawa yang mempunyai kondisi tanah sangat spesifik harusnya diperlakukan dengan sangat istimewa. Teknologi Belanda dalam bersahabat dengan air yang mengepung negaranya, patut dipelajari dengan saksama. Pemerintah Belanda membangun kanal-kanal air.
Seharusnya, untuk mendirikan sebuah perumahan, para pengembang di Palembang berpikir untuk membuat sebuah kota seperti Venesia. Saluran air yang dibangun tidak hanya satu, tetapi dibuat menjadi beberapa aliran. Mahal memang. Namun, cara ini mungkin akan efektif menangani "amukan" air di kemudian hari.
Pembangunan yang semakin pesat di kota Palembang demi memenuhi kebutuhan masyarakat akan rumah dan fasilitas umum lainnya, mau tidak mau harus berjibaku dengan tanah rawa yang ada di daerah ini. Yang dilakukan salah satu pengembang perumahan di kelurahan Talang Kelapa, Kecamatan Alang-alang Lebar, dengan membangun aliran air selebar 4 meter, mungkin bisa menjadi solusi.
Apalagi, aliran air itu dibuat seindah mungkin dan dipelihara sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para penghuni dan calon penghuni perumahan mewah tersebut. Selain itu, adanya kolam penampungan air yang ditata sedemikian rupa dan berfungsi sebagai taman indah tempat para penghuni komplek perumahan bersilaturahmi, mungkin juga dapat memberikan solusi bagi air yang tidak hendak berhenti mengalir. Demikianlah ulasan tentang penggunaan hutan rawa yang benar.

