Ibadah dalam Islam Menjadikan Hidup Lebih Indah
Siapa bilang agama Islam menyulitkan? Siapa bilang agama Islam itu mengekang? Mungkin banyak orang yang mengeluhkan dan mempertanyakan aturan-aturan dalam agama Islam, yang kata orang kebanyakan tidak modern (kolot). Melarang ini dan itu, mengharamkan ini dan itu, harus beribadah ini dan itu. Namun, di balik itu semua sebenarnya ada kebaikan di dalamnya.
Apa Itu Ibadah?
Secara pengertian bahasa, ibadah adalah tunduk, patuh, setia, dan taat. Itu artinya, ibadah keagamaan yang biasa dilakukan adalah untuk menunjukkan kepatuhan, kesetiaan, dan ketaatan kepada Sang Maha Pencipta.
Dan dalam Islam, kebanyakan orang menilai bahwa ibadah hakiki umat Islam adalah shalat, puasa, zakat dan naik haji. Padahal tidaklah demikian. Seperti yang tercantum dalam firman Allah Swt. bahwa manusia dihidupkan hanya untuk beribadah kepada-Nya. Sehingga apapun yang dilakukan selama hidup di dunia adalah bentuk ibadah kepada-Nya.
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah (menyembah) kepada Ku”. (Az-Zaariyaat: 56)
Kemudian, ayat tersebut dilengkapi oleh firman selanjutnya yang menunjuk manusia sebagai pemimpin (khalifah) di muka bumi ini.
“Dan Dialah yang menjadikan kamu khalifah (penguasa-penguasa) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa darajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu”. (al-An’aam: 165)
Maka, ibadah dalam islam tidak hanya sebatas hubungan antara manusia dengan Tuhan. Tetapi juga, antara manusia dengan makhluk ciptaan lainnya, seperti sesama manusia, hewan, dan tumbuhan. Inilah yang disebut dengan keseimbangan hidup.
Jadi, Melakukan Ibadah Hanya Seperti Itu Tadi Saja?
Tidak. Ibadah yang baik adalah ibadah yang diawali serta diniatkan untuk Sang Maha Kuasa. Artinya, apapun yang dilakukan oleh manusia, bila ingin dinilai sebagai ibadah haruslah berniatkan dan bertujuan untuk Allah Swt. Itulah salah satu syarat penilaian sebuah ibadah. Adapun syarat-syarat lainnya adalah sebagai berikut.
- Membenarkan niat
- Melaksanakannya sesuai dengan syari’at Islam
- Perkara yang dilakukan haruslah diperbolehkan oleh syari’at Islam
- Perkara tersebut memberi manfaat yang baik
- Tidak mengganggu dan meninggalkan ibadah utama kepada Allah Swt
Kelima syarat utama itu tadi adalah landasan sebelum melakukan kebaikan (ibadah) kepada sesama ciptaan-Nya. Karena sebagai makhluk zoonpoliticoon, manusia mau tidak mau akan saling membutuhkan satu sama lainnya, sehingga diharapkan dapat membentuk kehidupan yang harmonis. Hubungan inilah yang disebut dengan hubungan ibadah secara horizontal.
Contoh Ibadah Horizontal dalam Islam
Contoh ibadah dalam hal ini sebenarnya sederhana saja. Hanya saja kerap kali manusia terlalu angkuh dan enggan untuk memulainya atau mengawalinya terlebih dahulu.
Misalnya tersenyum, menyapa, memberikan salam, memaafkan, jujur dalam bertransaksi bisnis (berniaga), berpikir positif (tidak suudzon), menjenguk rekan atau saudara yang sedang terkena musibah, membantu orang-orang yang kurang beruntung, bermusyawarah (berpolitik), dan keseharian yang lainnya.
Itulah indahnya ibadah dalam Islam. Sehingga kehidupan yang rukun dan baik akan tercipta apabila semuanya dilandasi dengan rasa ikhlas dan karena Allah Swt. semata (lillahita'ala).






