Ibadah Haji
Dunia tempat kita berdiri bak labirin yang penuh jebakan. Ia bukanlah arena permainan yang asal-asalan untuk dijalani. Salah melangkah sedikit saja, bisa-bisa kaki akan terjerumus jauh dan sulit dilepaskan. Oleh sebab itu, memiliki kepribadian andal adalah satu kunci agar tidak mudah terperosok dalam labirin kehidupan. Bagi seorang muslim, sebagian sarana untuk meraih kepribadian ideal tersebut tersirat dalam ibadah haji. Ibadah haji adalah rukun Islam yang kelima.
Berdasarkan etimologi bahasa Arab, kata haji berarti qashd (tujuan, maksud, dan menyengaja). Sementara itu, berdasarkan istilah syara’, haji artinya menuju ke Baitullah dan tempat-tempat khusus untuk melakukan amalan-amalan ibadah tertentu. Tempat-tempat tertentu atau khusus di sini (selain Ka’bah dan Mas’a atau tempat sa’i) yaitu Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Ibadah haji juga dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang disebut sebagai bulan-bulan haji, yaitu dimulai dari bulan Syawal sampai sepuluh hari pertama di bulan Zulhijah. Ada juga amalan tertentu dalam ibadah haji, seperti thawaf, sa'i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain sebagainya.
Latar Belakang Ibadah Haji
Pada zaman jahiliah, Bangsa Arab sudah mengenal ibadah haji yang diwarisi oleh nenek moyang mereka dengan melakukan perubahan di sana-sini. Namun, bentuk keseluruhan pelaksanaannya masih tetap ada, misalnya thawaf, sa’i, wukuf, dan melempar jumrah. Di sisi lain, pelaksanaan ibadah haji ini pada waktu itu tidak sesuai dengan syariat yang sebenarnya. Oleh karena itulah, Islam hadir sekaligus memperbaiki kesalahan dan tetap melaksanakan aturan-aturan yang sudah sesuai dengan syariat.
Latar belakang ibadah haji ini pun didasarkan pada ibadah yang sama dan dilaksanakan oleh nabi-nabi dalam agama Islam, teruatama oleh nabi Ibrahim. Thawaf dilatarbelakangi oleh ibadah serupa yang dikerjakan umat-umat sebelum nabi Ibrahim. Sa’i pun dimaksudkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim saat mencari susu untuk anaknya (nabi Ismail). Wukuf di Arafah merupakan kegaiatan ibadah haji yang dilakukan untuk mengenang tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi (asal mula kelahiran umat manusia).
Setiap bulan Syawal hingga sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah, kaum muslim dari berbagai penjuru dunia bertemu dalam ritual ibadah haji. Rukun Islam kelima ini dilakukan oleh setiap muslim yang mampu, baik secara materi, fisik, mental, maupun keilmuan.
Ibadah Haji dan Kepribadian Seseorang
Dalam istilah syara’, haji berarti 'menuju Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan rangkaian amalan ibadah tertentu pula'. Ka’bah, Mas’a (tempat sa’i), Arafah, Muzdalifah, dan Mina merupakan tempat yang akan dikunjungi calon haji. Sementara thawaf, sa’i, wukuf, dan melempar jumrah adalah inti dari ibadah haji.
Lantas, bagaimana ibadah haji berjalin erat dengan kepribadian seorang muslim? Uraian berikut akan menjelaskannya untuk Anda.
Pertama, mengenakan pakaian ihram sama artinya menyingkirkan perbedaan status sosial, ekonomi, dan latar belakang setiap manusia. Semua itu harus dilakukan sepenuh kesadaran dengan hati suci, tanpa saling menyakiti. Mengapa? Sebab, Allah menciptakan manusia sebagai pemelihara bagi setiap makhluk-Nya, untuk memakmurkan bumi-Nya.
Kedua, mengunjungi Ka’bah —tempat Ismail pernah diasuh Siti Hajar—adalah upaya mengamini bahwa Allah tiada memandang hamba-Nya dari derajat, keturunan, atau warna kulit. Keinginan kuat untuk menggapai perbaikan diri dan kedekatan dengan Allah merupakan jalan untuk meraih cinta-Nya. Itulah yang pernah dimiliki ibunda Ismail (Siti Hajar) meski ia hanyalah budak berkulit hitam.
Ketiga, melakukan thawaf dan sa’i mendorong manusia untuk berusaha maksimal, tidak boleh menyerah. Bagaimanapun, kehidupan dunia dan akhirat adalah satu kesatuan yang tidak terpisah. Oleh karena itu, umat Islam wajib berupaya keras demi kebahagiaan dunia-akhirat, seperti Siti Hajar yang akhirnya menemukan mata air zamzam setelah susah payah berlari-lari.
Istri Nabi Ibrahim itu memulai pencariannya dari Bukit Shafa yang berarti kesucian dan ketegaran —perlambang kesucian dan ketegaran ketika mencari penghidupan— dan berakhir di Marwah yang menjadi petunjuk untuk bermurah hati dalam memaafkan sesama.
Keempat, menjadi arif dan paham atas jati diri manusia akan diraih kala berada di Arafah. Di sana, semua langkah diri dan dosa yang telah diperbuat seolah menampak begitu jelas. Lalu, segala yang dimiliki menjelma kosong di hadapan Allah hingga timbullah kesadaran betapa agungnya kuasa Allah atas seluruh makhluk. Kesadaran inilah yang menemani manusia di sepanjang perjalanan hidupnya.
Kelima, ritual melempar jumrah berarti menggerakkan jiwa-raga untuk membenci dan mengusir musuh utama manusia, yaitu iblis. Karena bujuk rayu dan godaan iblis, manusia menjadi lalai dan melanggar perintah Allah. Ritual ini menyiratkan agar kaum muslimin menghindari iblis dengan segala upaya busuknya untuk menjerumuskan manusia ke lembah dosa.
Keenam, seluruh rangkaian gerak dalam ritual ibadah haji mendidik umat muslim untuk terus aktif dan dinamis dalam menjalani hidup. Mereka dituntut meningkatkan amal saleh dengan segenap karunia-Nya, yang berupa fisik, akal, dan semangat. Dengan kata lain, seorang muslim dilarang menjadi fatalis yang mudah menyerah atau frustrasi ketika diombang-ambing cobaan hidup.
Ketujuh, ada kebersamaan, kekeluargaan, dan kepedulian yang terasah selama ritual ibadah haji. Semua itu terjalin di antara insan yang tengah menunaikan ibadah haji. Kebersamaan, kekeluargaan, dan kepedulian sangatlah penting untuk membangun sendi-sendi kehidupan kaum muslimin di seluruh dunia agar tidak mudah goyah dan diperalat kaum kafir.
Kedelapan, ibadah haji mengajarkan untuk berdisiplin diri dan tertib dalam kehidupan. Ritual yang disyaratkan dalam ibadah haji mewajibkan pelaksanaan secara disiplin dan tertib. Begitu pula dalam setiap aktivitas sehari-hari orang Islam, harus ada dua hal tersebut agar berhasil meraih kejayaan hidup.
Demikianlah ibadah haji mengajarkan revolusi kepribadian kepada setiap muslim. Ada spirit dan kemuliaan yang harus dipegang teguh kendati telah usai menunaikan ibadah haji. Bagaimanapun, kaum muslimin adalah umat yang diharapkan menjadi panutan.
Jadi, teruslah bergerak menuju perbaikan diri sebab dalam gerak terdapat jiwa Islam. Jangan hanya berdiam diri atau sekadar menjadi penonton pasif dalam percaturan dunia. Diam adalah kematian yang akan merenggut Islam dari peradaban umat.
Lantas, bagaimana agar ibadah haji yang ditunaikan membawa keberkahan sempurna? Berikut ini tipsnya.
- Perbanyaklah sedekah, sebelum maupun saat beribadah haji. Sedekah adalah penolong bagi Anda, di mana pun Anda berada.
- Pahami dengan baik ritual ibadah haji beserta maknanya. Hafalkan setiap doa dan tata caranya. Jangan sampai Anda disibukkan oleh catatan.
- Utamakan amalan inti dari ibadah haji daripada amalan sunnah. Ingatlah akan waktu dan energi yang terbatas.
- Jaga kondisi fisik dan psikologis, sebelum dan ketika beribadah haji. Ikhlaskan segala yang telah terjadi agar tiada beban. Berpikirlah positif atas apapun yang akan dijelang.
- Mengonsumsi makanan bergizi, buah, dan air putih. Jangan lupakan obat-obatan. Paspor dan surat penting lainnya jangan sampai hilang.
- Jaga kekompakan kelompok agar kepedulian tetap terjaga.
- Hafalkan setiap tempat dan rute yang hendak Anda kunjungi agar tidak tersesat.
Ingatlah bahwa Anda tengah beribadah haji, bukan piknik. Jagalah sikap dan tutur kata Anda selama menjalankan ibadah suci itu.

