Idul Adha
Idul Adha merupakan salah satu hari raya keagamaan umat Islam. Di Indonesia, Idul Adha dikenal juga dengan istilah Hari Raya Haji. Salah satu hari besar umat muslim ini memiliki kekhasan berbeda dengan hari raya umat muslim lain. Hari raya satu ini selalu khas karena disertai dengan ritual penyembelihan hewan kurban.
Idul Adha dan Niat Berkurban
Seperti hari besar umat muslim lain, perayaan Idul Adha selalu diawali dengan sholat sunnah berjamaah. Sholat sunnah hari Raya Haji ini dilakukan sebanyak dua rakaat. Diawali dengan gema takbir yang berkumandang pada malam sebelum perayaan. Sholat Idul Adha biasanya dilakukan di lapangan yang luas, agar semua umat muslim bisa ikut sholat secara berjamaah.
Waktu melakukannya lebih pagi daripada waktu sholat hari Raya Idul Fitri. Hal ini karena setelah sholat akan diadakan penyembelihan dan pembagian daging kurban. Penyembelihan itu sendiri sebenarnya boleh dilakukan secara sendiri-sendiri oleh yang akan berkurban. Tetapi bisa juga dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat agar makan berkurban bisa lebih dirasakan. Terutama untuk maksud sebagai wahana pendidikan bagi generasi yang lebih muda. Keterlibatan anak-anak dalam penyembelihan dan pembagian hewan kurban tentunya akan menjadi satu pengalaman yang terbenam dalam hati mereka.
Penyembelihan yang bersama-sama ini juga akan menambah nilai kekeluargaan dalam diri masyarakat di lingkungan tersebut. Apalagi bila setelah itu ada acara memasak dan makan bersama. Kumpul-kumpul sekampung itu seolah menjadi pesta rakyat. Selain tentu saja, semua orang bisa menikmati daging kurban. Siapa tahu makan daging merupakan satu hal yang sangat jarang didapatkan oleh sebagian besar masyarakat sekitar.
Mahalnya harga daging memang merupakan satu hal yang menjadi penghalang sulitnya masyarakat tak mampu untuk bisa menikmati daging. Padahal bagi sebagai orang, protein hewani itu adalah salah satu jenis protein yang sangat dibutuhkan untuk mendapatkan pertumbuhan tubuh yang baik. Bagi anak-anak dalam masa pertumbuhan, hal ini memang sangat penting. Memang keadaan ekonomi orangtua tidak selalu baik. Perjuangan mendapatkan rezeki itu terkadang begitu sulitnya hingga untuk mendapatkan nasi sekilo saja susahnya minta ampun.
Bagi keluarga miskin, memperolah daging adalah angurah yang begitu besar. Itulah mengapa Allah Swt memerintahkan orang-orang yang mampu untuk melakukan kurban. Sulit terkadang untuk berkurban terutama ketika harga sapi sangat mahal hingga Rp 1,8 juta untuk setiap orang yang harus berkurban. Harga perorang yang tinggi ini membuat ciut sebagian orang yang telah berniat untuk melakukan kurban. Beda dengan orang-orang yang telah terbiasa berkurban. Bagi mereka, saat berkurban adalah saat yang sangat dinantikan karena pada saat itu mereka bisa berbagi. Saat berbagi itulah yang menjadikan jiwa mereka ketagihan untuk melakukannya lagi dan lagi.
Mereka tahu bahwa begitu banyak pahala yang tersimpan dalam ritual penyembelihan kurban itu. Doa-doa yang dipanjatkan ketika berkurban dengan ikhlas itu tentunya akan menambah kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Bahkan banyak yang akan berkurban telah menabung selama bertahun-tahun hanya untuk berkurban walau hanya sekali seumur hidup. Mereka rela mengikuti program menabung untuk kurban.
Mereka bukan orang mampu tetapi keinginan dan niat untuk berkurban itu telah memberikan semangat yang luar biasa untuk berkurban. Akhirnya ketika Allah Swt mengabulkan niatan untuk berkurban, hanay rasa syukur dan air mata yang menetes. Malah terkadang mereka tak berharap makan daging kurban. Mereka menerima pembagian sebagai orang yang berkurban, namun, daging itu diberikan kembali kepada orang yang mereka anggap lebih miskin dari mereka. Orang-orang seperti ini mungkin saja miskin harta tetapi hati dan jiwa mereka sangat kaya. Satu cita-cita untuk berkurban yang sangat mulia.
Idul Adha dan Tradisi
Tradisi penyembelihan hewan kurban pada setiap perayaan Idul Adha diawali dengan cerita yang terjadi pada zaman Nabi Ibrahim. Cerita mengenai Nabi Ibrahim as terkandung dalam Al quran. Saat itu, Allah tengah menguji ketaatan Nabi Ibrahim kepada-Nya. Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.
Nabi Ibrahim berada pada keadaan yang sangat sulit. Beliau dihadapkan pada dua pilihan yang tidak bisa ia pilih. Dua-duanya adalah kecintaannya. Nabi Ibrahim mencintai Allah dan anak lelakinya. Namun, dengan kekuatan hati, Nabi Ibrahim akhirnya bersedia untuk mengorbankan Ismail. Ismail pun demikian. Beliau rela disembelih oleh Ayahnya karena Allah Swt.
Kekuasaan Allah pun diperlihatkan. Keajaiban pun terjadi. Nabi Ismail yang sudah menyerahkan hidup dan matinya ditangah Nabi Ibrahim mendadak dan secara ajaib digantikan dengan seekor domba. Nabi Ismail lalu ditempatkan oleh Allah di tempat terindah, surga.
Berakar dari cerita itulah tradisi menyembelih hewan kurban dalam perayaan Idul Adha sudah merupakan hal yang wajib dilakukan. Berkurban atau menyembelih hewan kurban yang dagingnya dibagikan untuk masyarakat umum yang lebih membutuhkan. Di Indonesia, hewan yang biasa dijadikan kurban adalah domba, kambing, dan sapi. Di negara-negara Timur Tengah, hewan onta juga bisa dijadikan hewan kurban.
Penyembelihan hewan kurban biasanya dilakukan setelah sholat Idul Adha selesai dilakukan. Masyarakat biasanya akan ramai menyerbu lapangan tempat penyembelihan hewan kurban. Di Indonesia, pembentukan panitia hewan kurban biasanya dilakukan secara swadaya. Mereka bertugas mendapat hewan kurban, memotong, dan membagi-bagikannya pada warga.
Dengan berkurban, Anda bisa mendapatkan dua nilai baik sekaligus. Nilai yang pertama datangnya pasti dari Allah, sedangkan nilai yang kedua datang dari sesama. Berkurban dan membagi-bagikan dagingnya pada masyarakat sekitar sama dengan berbagi kebahagiaan dengan mereka. Sama seperti hakikat puasa yang mengajarkan kita bagaimana susahnya menahan lapar, berkurban pun demikian. Daging kurban yang dibagikan bisa membuat mereka ikut merasakan kenikmatan yang Anda rasakan.
Selain adanya acara penyembelihan hewan kurban, di beberapa tempat seperti di wilayah Sumatera Selatan, waktu hari Raya Haji adalah waktu berkumpul dengan keluarga dan waktunya bersilaturrahmi dengan keluarga yang lain. Hal ini sama dengan ketika merayakan hari Raya Idul Fitri. Ada juga kue dan makanan khas lebaran lainnya. Yang berbeda memang adalah ucapan selamat hari Raya. Terkadang mereka bahkan menyamakan dengan pengucapan ketika harai Raya Idul Fitri.
Acara makan-makan itu membuat suasana lebaran benar-benar meriah. Tetapi di tanah Jawa biasanya waktu hari Raya Haji ini hanya diisi dengan penyembelihan dan makan bersama. Tidak ada kemeriahan lainnya atau saling silaturrahmi seperti hari raya Idul Fitri. Bahkan kalau di wilayah Sumatera Selatan, hari Raya Haji ini sebagai satu waktu untuk mengunjungi keluarga yang ketik aIdul Fitri tak sempat disinggahi.
Tanggal Pelaksanaan Idul Adha
Idul Adha dilakukan setiap tanggal 10 Dzulhijah menurut penanggalan Hijriah. Untuk lebih mudahnya, Idul Adha dirayakan setelah 70 hari perayaan Hari Raya Idul Fitri. Pada hari menjelang perayaan Idul Adha, umat muslim diharamkan berpuasa. Hari yang mengharamkan umat muslim berpuasa adalah hari Tasyrik.
Pada tanggal 10 Dzulhijah, para jemaah haji yang melakukan ibadah haji tengah melakukan lempar jumrah. Lempar jumrah adalah salah satu ritual keagamaan yang harus dilakukan oleh para jemaah Haji. Lempar jumrah dilaksanakan di Kota Mina.
Pada ritual keagamaan ini, para jemaah haji diwajibkan untuk melempari tiga buah tiang yang terbuat dari batu dengan menggunakan batu. Ketiga tiang batu itu melambangkan iblis yang memang harus dihukum. Acara lempar jumrah itu merupakan acara ritual puncak yang dilakukan oleh para jamaah haji dalam rangkaian ibadah hajinya.
Sering juga waktu pelaksanaan hari Raya Haji ini berbeda di satu tempat dengan tempat yang lain. Sebagian masyarakat sangat berpatokan dengan apa yang terjadi di Arab Saudi. Ketika yang berhaji telah berada di Padang Arafah, yang tidak berhaji melakukan puasa Arafah. Sehari setelah puasa Arafah, mereka melakukan sholat Idul Adha.
Sebaliknya, ada juga masyarakat yang lebih melihat tanggal yang ada di kalender. Untuk tidak mempertajam perbedaan, biasanya yang telah berpuasa berdasarkan apa yang terjadi di Arab Saudi, keesokan harinya mereka tidak langsung memotong kurban atau sholat ied. Mereka akan melakukan ritual itu berbarengan dengan masyarakat Indonesia yang lebih berpedoman dengan kalender. Hal inilah yang membuat perbedaan penetapan Idul Adha tidak terlalu pelik atau tidak terlalu menonjol dibandingkan ketika penetapan hara Raya Idul Fitri.

