logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Fantasi

Iklan Film sebagai Penarik Minat Penonton


Ilustrasi iklan film

Saat ini industri perfilman di Indonesia bisa dikatakan sedang meningkat. Umumnya, film dikategorikan bagus bila menarik banyak perhatian penonton dan laris di pasaran. Lalu bagaimana agar masyarakat tertarik untuk menonton film tertentu? Jawabannya tentu saja promosi lewat iklan film.

Promosi film adalah tugas dari semua kru yang terlibat dalam pembuatan film tersebut, mulai dari sutradara sampai pada pemainnya. Salah satu promosi yang sangat efektif untuk memperkenalkan film adalah iklan film. Iklan film yang dimaksud bisa dilakukan dalam berbagai bentuk.

Jenis Iklan Film

Berikut ini beberapa macam iklan film berdasarkan media yang dipakai:

• Media elektronik

Pihak produsen film biasanya membuat suatu iklan film dengan cara membuat suatu trailer dari film tersebut. Trailer adalah suatu iklan film singkat berisi cuplikan-cuplikan film sehingga masyarakat tahu garis besar cerita dari film tersebut.

Trailer ini bisa ditayangkan di televisi, di bioskop (sebelum pemutaran film lain), maupun di dunia maya.

• Media cetak

Iklan film bisa juga dilakukan di media cetak, misalnya majalah, koran, atau tabloid. Umumnya yang dicantumkan adalah sinopsis film beserta para pemainnya. Promosi film lewat media cetak tak hanya sebatas itu, bisa juga dengan membuat poster-poster film yang biasanya ditempelkan atau diperkenalkan oleh bioskop-bioskop.

Tips Membuat Iklan Film

Sebuah iklan film tak bisa hanya sekedar membuat iklan berupa trailer, poster, atau yang lainnya. Iklan adalah media promosi, jadi iklan film haruslah benar-benar bisa menarik perhatian masyarakat agar mereka merasa tertarik untuk menontonnya.

  • Untuk trailer film yang akan ditayangkan di televisi maupun media lain, harus menampilkan cuplikan film yang benar-benar mewakili isi cerita. Misalnya pada film komedi, tampilkan salah satu cuplikan terlucu yang bisa membuat masyarakat tertawa dan membuat mereka berpikir bahwa film tersebut benar-benar layak untuk ditonton.
  • Jangan menunjukkan akhir cerita film, baik pada sinopsis film di media cetak maupun memunculkan adegan penutup pada trailer film. Hal ini hanya akan membuat siapapun akan malas menontonnya. Buatlah masyarakat penasaran akan akhir cerita, sehingga mereka akan berbondong-bondong ke bioskop untuk mencari tahu seperti apa jalan cerita film tersebut.
  • Untuk iklan film dalam bentuk poster, pastikan bahwa poster film dibuat semenarik mungkin dan benar-benar eye catching atau menarik perhatian orang. Misalnya pada film horor, tampilkan kesan mistis pada gambar poster sehingga masyarakat ingin tahu lebih jauh tentang film itu.
  • Jangan memplagiat iklan film lain. Di Indonesia sendiri, cukup banyak poster film yang hampir mirip bahkan serupa dengan poster film dari luar negeri. Contohnya, poster film Hanya Untukmu (diubah menjadi Ada Kamu Aku Ada ) mirip dengan poster film Korea berjudul Ditto. Atau poster film Pulau Hantu 2, mirip dengan film luar berjudul Lost. Terlepas dari benar-benar menjiplak atau tidak, hal seperti ini kadang membuat minat masyarakat untuk menonton film tersebut menjadi turun.
  • Jargon film merupakan hal yang cukup penting dalam pembuatan iklan film. Jargon film adalah kata-kata pendek yang menggambarkan film tersebut dan mudah melekat di benak masyarakat. Contoh jargon film adalah your worst nightmare is their reality (film horor Keramat, 2009).

Kalimat-kalimat tersebut haruslah mengungkapkan sebuah konflik film secara jelas dan mampu mengundang rasa penasaran masyarakat.

Iklan Film dalam Konsep AIDCA

Dalam Mulyanah (2003) Iklan baik yang muncul dimedia cetak, radio, televisi, ataupun bioskop pada umumnya mempunyai persamaan yakni ingin mendekati khalayak sasaran tersebut. Caranya bermacam-macam, mulai dari menampilkan paras sang model yang cantik, kata-kata manis yang cerdik dan penuh siasat, bahkan penuh kelucuan.

Tata warna yang kontras sampai terlihat mencolok mata, pakaiannya yang beraneka warna, sampai musik atau efek suara yang tidak jarang terdengar cukup aneh ditelinga normal serta adanya penambahan unsur-unsur animasi yang dibuat agar lebih menarik.

Kenyataanya, iklan-iklan yang tampil dengan berbagai atribut aneh seperti itu memang barhasil menarik perhatian khalayak sasaran. Bagaimanapun proses dan teknik pembuatannya, iklan-iklan itu tidak mungkin dibuat beegitu saja secara spontan.

Tetapi hasil kreatif dan kerjasama para pembuat iklan (biro iklan), salah satu cara yang digunakan agar iklan bisa menarik perhatian khalayak sehingga khalayak mau menerima pesan-pesan yang disampaikan adalah dengan mengunakan konsep AIDCA. Dimana konsep-konsep ini merupakan konsep dasar dalam membuat iklan agar menjadi komunikatif. AIDCA merupakan kependekan dari:

  1. Attention (menimbulkan perhatian)
  2. Interest (harus dapat membangkitkan minat)
  3. Desire (harus dapat memunculkan keinginan untuk memiliki)
  4. Convection (harus menanamkan rasa percaya)
  5. Action (adanya tindakan untuk memiliki barang atau jasa) (Kasali, 1995:83)

1. Attention  Iklan film harus menarik perhatian khalayak sasarannya baik pembaca, pendengar atau pemirsa. Untuk itu iklan memerlukan bantuan, antara lain air time untuk media penyiaran, penggunaan warna (spot atau full colour), tata letak (layout), jenis-jenis huruf (tipografi) yang ditampilkan, serta berbagai suara khusus untuk iklan pada radio dan televisi. Seperti halnya yang terjadi pada pembuatan iklan animasi.

Disamping itu, ada hal lain yang sama pentingnya dengan alat-alat bantu tersebut untuk memberikan kontribusi yang saling menunjang dalam overall effect. Hanya iklan yang mampu menarik perhatian sajalah yang akan dibaca oleh calon pembeli. Dengan demikian iklan yang tidak menarik pada prinsipnya pemborosan.

Beberapa penulis naskah iklan mempergunakan trik-trik khusus untuk menimbulkan perhatian calon pembeli, seperti:

  1. Menggunakan unsur-unsur animasi  Contoh: Iklan animasi BII versi Lucky Dot, Cheethos dan tahapan BCA versi kapal laut maupun kereta api.
  2. Menggunakan slogan yamng mudah diingat. Slogan ini digunakan sebagai headline atau pun isi dalam naskah tersebut. Banyak iklan dewasa ini yang menggunakan rangkaian kata-kata penutup berupa suatu slogan seperti: “Terus terang Philips terang terus”. Iklan lampu Philips  “Pakai Daia lupakan yang lain”. Iklan Daia
  3. Menonjolkan/menebalkan huruf-huruf tentang harga (bila harga merupakan unsur penting dalam mempengaruhi orang untuk membeli) Contoh: “Ongkos cuci Attack Jauuuuh lebih murah”. Iklan detergen Attack “ Mencuci bersih cuma gope “. Iklan deterjen So klin
  4. Menggunakan warna yang kontras atau mencolok mata.
  5. Menonjolkan kata-kata yang menjual, misalnya: ‘gratis’, ‘obral’, dan lain-lain

2. Interest:  Setelah perhatian calon pembeli berhasil direbut, persoalan yang dihadapi sekarang adalah bagaimana mereka berminat dan ingin tau lebih jauh. Perhatian harus dapat segera ditingkatkan menjadi minat sehingga timbul rasa ingin tahu secara lebih rinci didalam diri calon pembeli. Untuk itu mereka harus dirangsang agar mau mengikuti pesan-pesan yang disampaikan.

Dengan demikian penggunaan kata-kata kalimat pembuka sebaiknya dapat merangsang orang untuk tahu lebih lanjut.

3. Desire Tidak ada gunanya menyenangkan calon pembeli dengan rangkaian kata-kata gembira melalui sebuah iklan, kecuali iklan tersebut berhasil menggerakan keinginan orang untuk memiliki atau menikmati produk tersebut. Kebutuhan/keinginan mereka untuk memiliki, memakai, atau melakukan sesuatu harus dibangkitkan. Contoh, “Yang penting rasanya bung…….!” (iklan Djarum Super).

4. Convection Sampai pada tahap ini sejumlah calon pembeli sudah mulai goyah dan emosinya sudah mulai tersentuh, namun demukian timbul perlawanan dalam diri calon pembeli berupa keragu-raguan, untuk menimbulkan rasa percaya diri calon pembeli sebuah iklan dapat ditunjang berbagai kegiatan peragaan. Seperti, testimonial atau pembuktian, membagi-bagikan contoh secara gratis dan menyodorkan pandangan positif dari tokoh-tokoh masyarakat, selebritis atau orang-orang yang dapat dipercaya serta pengujuan dari pikah ketiga.

Contohnya, test cuci Attack yang dilakukan terhadap ibi-ibu atau remaja putrid yang dibawakan oleh Tika Panggabean, untuk mengiklankan bubuk detergen Attack.

5. Action  Akhirnya sampai pada upaya terakhir untuk membujuk calon pembeli agar sesegera mungkin melakukan suatu tindakan pembelian atau bagian dari itu. Bujukan yang dilakukan berupa harapan agar calon pembeli segera pergi ke toko, melihat-lihat di show room terdekat, mengambil perontohan, mengangkat telepon, mengisi formulir pesanan atau setidak-tidaknya menyimpan dalam ingatan mereka sebagai catatan untuk membelinya kelak.

Banyak kata yang sering digunakan dalam naskah iklan film yang merupakan kata perintah, kata-kata itu diantaranya:

  • Beli
  • Ambil
  • Hubungi
  • Cicipi
  • Kirimkan
  • Tanyakan, dll

Kata-kata itu atau kombinasinya masih perlu dirangkai lagi dengan kata-kata lain sedemikian rupa sehingga terdengar lebih sopan dan manis. Sehingga dengan mudah dapat diterima oleh penonton iklan, dan secara tidak langsung penonton dapat merasa dihargai.

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Menyikapi Dampak Negatif dan Positif dari Film Anime Naruto
  • Artikel Film Transformers, Pertarungan Pasukan Robot
  • Kung Fu Panda Film Animasi Sarat Nasihat
  • Petualangan The Last Airbender
  • Film Pelajar Yang Mencerahkan
  • Film Twilight Saga
  • Kartun Kura-Kura Ninja yang Unik
  • Si Tupai yang Terkenal
  • Keteladanan Dalam Film Kera Sakti
  • Animasi Kura Kura Bernama Franklin
  • Kapten Jack Sparrow dan Perjalanan Menjadi Seorang Muslim
  • Power Ranger, Candu bagi Anak-Anak
  • Serba-serbi Film Spider Man Terbaru
  • Hermione -- Penyihir yang Pintar
  • Sinopsis Film Darah Garuda
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA