Membongkar Istilah Ilmu dan Pengetahuan
Sejak dari SD hingga sekarang mungkin Anda terus belajar untuk mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang berguna dalam hidup Anda. Pentingnya ilmu dan pengetahuan ini bukan hanya untuk karier, tetapi juga untuk menjalani hidup yang lebih bermakna.
Kenapa kata ilmu dan pengetahuan dipisahkan, atau bahkan dalam bahasa Indonesia kata itu digabung menjadi ‘ilmu pengetahuan’? Apakah keduanya memiliki perbedaan atau sama sekali tidak ada bedanya antara ilmu dan pengetahuan. Saya ingin awali tulisan ini dengan membicarakan pengetahuan terlebih dahulu.
Pengetahuan
Ketika ada seseorang di jalan bertanya kepada Anda, “Maaf saya mau tanya, kalau di Bandung, tempat makan ikan laut yang enak dimana ya?” Lalu, Anda menjawab, “Owh.. di daerah Setiabudi Bandung ada restoran ikan yang enak, kamu bisa coba ke sana”.
Informasi yang Anda berikan kepada orang yang bertanya merupakan pengetahuan yang Anda miliki tentang tempat makan yang enak. Atau ketika saya berkata; “Anton itu orangnya tinggi, kurus, dan ikal rambutnya”, itu juga termasuk sebuah pengetahuan. Pengetahuan saya tentang diri Anton. Jadi pengetahuan secara sederhana dapat dikatakan sebagai segala suatu hal yang kita ketahui.
Bagaimana jika informasi yang kita berikan kepada orang lain itu salah? Ternyata di Setiabudi tidak ada restoran ikan, atau ternyata Anton itu pendek dan gemuk. Kalau memang demikian, berarti kita belum mencapai pada kebenaran pengetahuan. Di sana kita masih keliru dalam memaparkan apa yang kita ketahui. Untuk mencapai pengetahuan yang benar, maka perlu ada jalan.
Jalan Pengetahuan
Ada beberapa sumber yang bisa kita jadikan jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Sumber itu bisa berupa data empiris, bisa berupa logika rasionalis, bisa pula melalui wahyu teologis, atau melalui otoritas seseorang.
Jalan pengetahuan itu hampir tidak jauh berbeda dengan rute ketika kita akan menuju ke sebuah tempat. Ketika Anda di Bandung dan akan pergi ke Jakarta banyak jalan yang bisa Anda gunakan. Mau pakai jalan Cipularang, lewat jalur Puncak, atau jalan alternatif lain yang Anda ketahui.
Kita tidak bisa menyalahkan orang yang pergi ke Jakarta melewati jalur Puncak karena kita memilih lewat Cipularang. Kita juga tidak bisa menghakimi bahwa jalan A lebih baik daripada jalan B. Semua kembali pada kecenderungan masing-masing individu.
Begitulah manusia dalam memperoleh pengetahuan. Ketika kita ingin mendapatkan pengetahuan tentang Tuhan misalnya, kita tidak bisa menganggap orang rasionalis lebih baik pendekatannya daripada empirisme, atau teologis lebih baik daripada jalan rasionalis menuju Tuhan.
Perdebatan mengenai jalan menuju pengetahuan hingga saat ini masih terus berlangsung. Namun, jika kita mau mencoba satu-persatu jalan yang ada, tentu pengetahuan kita mengenai sesuatu akan lebih banyak dan tidak menjadi sempit atau taklid.
Ilmu
Setelah pengetahuan itu berkumpul atau berakumulasi, maka pengetahuan itu kemudian disusun menjadi lebih sistematis yang kita sebut ilmu. Pengetahuan dasar kita tentang manusia, sifat dan kodrat manusia atau perilaku, kemudian menghasilkan apa yang disebut ilmu psikologi. Begitu pula dengan ilmu-ilmu yang lainnya. Pada mulanya hanya sekadar serpihan pengetahuan-pengetahuan yang belum diintegrasikan.
Dalam terminologi bahasa Inggris, ilmu bisanya disebut science. Dalam hal ini ada yang berbeda dengan pemahaman yang ada di Indonesia. Yang disebut ilmu atau science di Barat adalah yang berhubungan dengan fisik (kealaman). Science itu hanya meliputi fisika, biologi, kimia, dan segala yang eksakta. Jadi sosiologi, antropologi, atau komunikasi lebih masuk ke dalam humaniora.






