logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Ilmu Pendidikan

Kajian Ilmu Komunikasi: Telusur Bahasa Ababil


Ilustrasi ilmu komunikasi

              Daftar Isi
  1. Ababil dan Ilmu Komunikasi
  2. Deteksi Ababil melalui Tulisan
  3. Fenomena Ababil
  4. Bahasa sebagai Kontrol Sosial
  5. Bahasa dan Pelecehan Bangsa

Ilmu komunikasi merupakan salah satu kajian yang menitikberatkan pada pengetahuan mengenai peristiwakomunikasi.

Tak hanya itu, peristiwa komunikasi yang menjadi kajian ilmu komunikasi ini pun harus diperoleh melalui suatu penelitian tentang sistem, proses, dan pengaruhnya. Penelitian ini harus dilakukan secara sistematis dan rasional, serta kebenarannya dapat diuji dan digeneralisasikan.

Pengertian ilmu komunikasi pada dasarnya tak jauh berbeda, bahkan memiliki ciri-ciri yang sama dengan pengertian ilmu secara umum. Yang membedakan hanya objek kajiannya saja. Seperti yang telah disebutkan di atas, objek kajian ilmu komunikasi lebih difokuskan pada peristiwa-peristiwa komunikasi yang terjadi antarmanusia.

Beberapa pakar ilmu komunikasi bahkan memiliki pengertian atau batasan tersendiri mengenai ilmu komunikasi. Beberapa di antaranya adalah Carl I. Hovland menyebut bahwa ilmu komunikasi adalah upaya yang sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi serta pembentukan pendapat dan sikap individu.

Berbeda dengan Hovland, Ms. Agustina Zubair memberikan batasan ilmu komunikasi sebagai struktur ilmu pengetahuan yang meliputi aspek aksiologi, epistimologi, dan ontologi. Dimensi ulilitas yang meliputi faedah, peranan, dan kegunaannya dipertanyakan dalam aksiologi. Norma-norma yang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membenarkan dirinya sendiri dijelaskan secara gamblang melalui epistimologi. Sedangkan struktur material dari ilmu pengetahuan dibahas dalam ontologi.

Berdasarkan pengertian-pengertian tentang ilmu komunikasi tadi, apakah kita bisa meneliti sebuah fenomena bahasa ababil yang tengah ngetrend saat ini dengan ilmu komunikasi? Dapatkah bahasaababil ini dimasukkan ke dalam salah satu bentuk komunikasi? Untuk mengetahuinya, melalui artikel ini penulis akan mengajak pembaca untuk menelusur bahasa ababil yang seakan sudah mengindonesia di tanah air ini.

Ababil (ABG Labil) dan Ilmu Komunikasi

Beberapa tahun belakangan, remaja-remaja di Indonesia seolah berkomunikasi melalui bahasa mereka sendiri. Mereka berbicara maupun menulis layaknya remaja yang sama sekali tidak pernah mengenyam pelajaran sekolah, khususnya Pelajaran Bahasa Indonesia. Ya, cukup mudah mendeteksi seseorang termasuk ke dalam kelompok ABG-ABG Labil (ababil). Salah satunya dari bahasa, baik gaya lisan maupun tulisan. 

Sekilas, aktivitas mereka masih termasuk dalam kajian ilmu komunikasi, karena mereka melakukan komunikasi antarmanusia. Namun, yang jadi pertanyaan, apakah kejadian tersebut dapat masuk ke dalam keprihatinan dari sisi ilmu komunikasi atau justru merupakan sebuah perkembangan dalam ilmu komunikasi? Sebelum menjawabnya, mari kita sama-sama menelusur fenomena ababil ini.

Mendeteksi Ababil melalui Tulisan

Bahasa yang 'gampangan' mudah diciptakan budah pula di campakan.

Ilmu komunikasi tak hanya mempelajari komunikasi yang diucapkan saja, tetapi juga komunikasi tertulis. Oleh karena itu fenomena tulisan ababil bisa dijadikan sebagai salah satu kajian ilmu komunikasi.

Secara bahasa tulisan, kelompok "ababil" ini paling gampang terdeteksi ketika mereka mengetik kalimat di layar komputer atau telepon seluler.

Umpamanya, tulisan direkayasa sedemikian rupa dengan huruf besar-kecil (contoh, gAoL), kata-kata disingkat bebas kilat semaunya (rmhx, untuk menyebut kata rumahnya), atau menggunakan ejaan tak lazim (B3b4s, berarti bebas). Sungguh lelah harus susah-payah bertenaga membaca maksudnya.

Bagi remaja sekomunitasnya, mungkin tidaklah sulit untuk mengejawantahkan maksud dari tulisan. Namun, apakah harus seperti itu mengkomunikasikan sebuah maksud? Memang, bahasa merupakan lambang bunyi yang arbitrer, tapi bahasa tak pernah membuat seseorang pusing untuk menangkap maksudnya.

Ilmu Komunikasi Tentang Fenomena Ababil

Fenomena ababil mengingatkan saya pada perspektif seorang pakar ilmu komunikasi, Peter L. Berger.

Ia mengatakan bahwa sesuatu bahasa adalah hasil dari sejarah yang panjang mengenai kecerdikan, imajinasi, dan bahkan kedengkian manusia.

Paling tidak, yang terjadi kini, bahasa yang digunakan tengah tereksploitasi oleh membanjirnya berbagai istilah atau simbol-simbol bahasa yang bertendensi hegemonik, ekspansif. Bahkan, destruktif sehingga cenderung menjerat orang.

Teknik penindasan dalam jangka panjang. Yakni, monopoli terhadap alat komunikasi. Dalam hal ini, memonopoli bahasa berarti memonopoli alat komunikasi terpenting.

Bahasa tidak ditujukan secara netral pada manusia, objek, tempat, dan peristiwa, tetapi merupakan suatu sikap. Dalam konteks ini, bahasa ababil jelas menunjukkan sikap mereka sendiri. Kata-kata yang digunakan oleh suatu komunitas atau komunikator dapat dipastikan mencerminkan sikap mereka terhadap suatu fenomena.

Dalam kaitan ini, bisa melihat sekelompok anak muda ABG yang terombang-ambil dalam segala hal untuk mencari jati diri. Dalam ilmu psikologi, pada usia 14-18 tahun, manusia memasuki fase awal pencarian karakter. Jadi, ia masih gampang berpindah-pindah selera (labil), pun dengan cara mereka berkomunikasi. mereka akan memilih cara yang mereka anggap paling enak.

Ilmu Komunikasi - Bahasa sebagai Kontrol Sosial

Bahasa dan Pelecehan Bangsa

Dalam Ilmu komunikasi, fenomena bahasa ababil tidak lain adalah teks yang secara sosial menjadi cermin ekspresi bahasa batin ke dalam bahasa praksis. Ketika praktis tidak sejalan dengan ekspresi batin, yang terjadi adalah pelecehan terhadap kesadaran batin itu sendiri.

Karena itu, pelecehan bahasa sama artinya dengan pelecehan terhadap martabat dan peradaban manusia itu sendiri. Ignas Kleden berargumen bahwa kecerdasan suatu bangsa mungkin akan diukur dari kecerdasannya berbahasa yang dilakukan oleh seluruh warga negaranya.

Bahasa yang kabur sekaligus membuat dan menggambarkan pikiran orang mejadi kabur. Apabila anak muda terbiasa menggunakan kata-kata dan istilah-istilah kosong (umumnya dengan karakter aneh), pikiran orang itu terlatih untuk tidak bekerja.

Jadi, jelaslah sudah jika dalam ilmu komunikasi, bahasa ababil itu dapat digolongkan kedalam sebuah kemunduran. Mereka yang menggunakan bahasa ababil boleh jadi merasa keren, mengikuti zaman, dan lainnya.

Sebenarnya, pengguna bahasa ababil bukan hanya merendahkan martabat mereka sendiri, tetapi juga turut merendahkan derajat bangsanya sendiri. So, masih tertarik untuk menggunakan bahasa ababil?  

Ilmu komunikasi bergantung pada penggunaan bahasa. Di sini, bahasa berfugsi sebagai instrumen bagi pemiskinan makna.

Bahasa tidak hanya mengontrol apa yang harus dipikirkan oleh masyarat, tetapi bahasa juga menjadi alat untuk mengendalikan apa yang harus dipikirkan orang terhadap kenyataan yang ada dalam masyarakat itu.

Antara kata dan sikap muncul kesenjangan. Yakni, ketika bahasa tidak mencerminkan sikap, saat itu pula sebuah bahasa kehilangan kredibilitasnya. Ababil dalam konteks ini tidak konsisten memiliki sikap.

Pemakaian bahasa pun akan luntur kredibilitasnya di mata publik. Bahasa yang tampil akhirnya hanya sebagai slogan, simbol kosong yang lambat laun mengendap menjadi mitos bahasa ababil. Bahasa yang ‘gampangan’. Mudah diciptakan, mudah pula dicampakkan.

Dalam keadaan demikian, bahasa menjelma menjadi instrumen harmonik yang memangkas elemen-elemen kritis dari masyarakat sehingga terjadilah semacam involusi kreativitas (perluasan ke dalam) yang dengan perlahan tapi pasti malah melunturkan basis yang menopang daya hidup kebudayaan.

Kembali ke asumsi semula, kontrol bahasa merupakan kontrol pikiran. Kontrol bahasa, biasanya, menuju dalam restriksi penggunaan kata yang bersumber dari masyarakat. Bahasa juga harus distandardisasikan demi pemenuhan kebutuhan mesin pembangunan.

Karena keterbatasan pikiran sebagian besar disebabkan keterbatasan bahasa, kata-kata kosong, nggak penting, justru dibiarkan hidup dengan leluasa dan perkembangannya terus menyeruak.

Meminjam istilah Orwellian di balik Pemabrikan Kesadaran(manufacturing consiousness), bahasa ababil lebih lanjut dapat bersifat sangat buruk (pervasif) dibanding yang lainnya. Bahasa yang telah mengalami polesan ini dapat menjadi instrumen. Bukan hanya sebagai manajemen informasi, melainkan manajemen pemikiran.

“Kami menghancurkan kata-kata, menghitungnya, ratusan kata, setiap hari. Kami memangkas bahasa sampai ke tulang-tulangnya. Mengapa? Tidakkah Anda lihat bahwa keseluruhan tujuan bahasa baru adalah untuk mempersempit batas pemikiran?” ujar Syme, sebuah karakter dalam novel Orwell, 1984.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kaligrafi Arab - Gambaran Keindahan Kalam Illahi
  • Pengertian Lingkungan Hidup dan Perawatannya
  • Penjelasan Seputar Logo
  • Mengenal Huruf Dasar Aksara Jawa dan Eksistensinya
  • Lembah Sungai Kuning - Legenda, Sejarah, dan Peradaban Sungai Kuning
  • Pengertian Riset Operasi: Berkenalan Lebih Dekat
  • BPPK dan Sejarah Pembentukannya
  • Ciri-Ciri Ilmu yang Bermanfaat
  • Beragam Jenis Bahan Kain
  • Cara Praktis Menemukan Kode Pos Indonesia
  • Sejarah Pramuka di Dunia dan Indonesia
  • Pengertian Penerbitan Beserta Divisi-divisinya
  • Fajar: Fase Sebelum Matahari Terbit
  • Membincang Definisi Paragraf dan Bentuknya
  • Dasar-Dasar Pengetahuan: Lezatnya Ilmu Pengetahuan
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA