logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Agama & Kepercayaan    Islam    Syiah

Dua Belas Imam dalam Syiah - ANNEAHIRA.COM


Ilustrasi imam

Syiah merupakan salah satu sekte Islam yang cukup besar pengaruhnya. Tidak hanya di timur tengah, paham ini juga sudah banyak pengikutnya di Indonesia. Banyak paham-paham di dalam Syiah itu sendiri. Salah satu yang terbesar adalah Syiah Itsna Asyariyyah atau Syiah Imam Dua Belas.

Sejarah Syiah Imam Dua Belas

Paham Syiah itu merupakan paham yang dianut di negara Iran modern ini. Syiah merupakan sekte besar dalam Islam selain Sunni. Sunni diklaim memiliki pengikut 90% dari total umat muslim di dunia. Sedangkan Syiah memiliki 10% pengikut. Tentu di dalam Sunni dan Syiah itu nantinya terpisah dalam beberapa mahzab dan aliran lainnya.

Syia’h banyak diambil dari kata syi’ah Ali, artinya para pengikut Ali. Namun Syiah sendiri banyak mengklaim bahwa mereka sebenarnya pengikut Ahlul Bait. Syiah muncul ketika perselisihan antara Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abu Sofyan dalam menyikapi kematian Ustman bin Affan, dan siapa khalifah umat Islam selanjutnya.

Muawiyah menuntut keadilan untuk menghukum pembunuh Usman. Sebelum hukum ditegakkan, ia tidak mau mengakui Ali sebagai Khalifah, sedangkan Ali sudah dibaiat oleh sebagian kaum sebagai Khalifah menimbang lain.

Jika hukum ditegakkan dengan tegas, maka bisa terjadi perang saudara hebat dalam Islam. Hal ini bisa merugikan agama, karena Islam ibarat kekuatan baru di Timur Tengah dan Afrika sebelah utara waktu itu. Lagipula pembunuh Usman belum jelas siapa pelakunya.

Perselisihan ini menajam ketika keduanya memiliki pasukan yang kuat. Muawiyah yang menjabat pemimpin Syiria didukung oleh negarawan licin seperti Amru bin Ash. Sedangkan Ali memiliki dukungan kuat dari wilayah Irak dan Persia. Peperangan tidak dapat dihindari dan meletuslah Perang Shiffin. Perang saudara dalam Islam yang ditakuti Ali ternyata tidak bisa dihindari.

Setelah peperangan itu, muncullah empat kubu. Kubu yang mendukung Muawiyah dan menentang Ali, kubu yang netral dan tidak menentang siapapun, kubu pendukung Ali, dan kubu yang mengafirkan Ali serta Muawiyah. Kubu pendukung Ali ini muncul dalam bentuk Syiah.

Kubu Syiah ini selalu menolak mengakui kekuasaan Sunni, kubu yang tidak mendukung Ali dalam perseteruan itu. Permusuhan makin meruncing ketika imam mereka, Hasan dan Husein, cucu Rasulullah, dibantai oleh penguasa Islam waktu itu. Karena itu, Syiah tumbuh dalam nuansa pertentangan dengan Sunni, sampai sekarang ini.

Syiah Istna Asyariyyah sendiri merupakan salah satu sekte terbesar dalam Syiah. Pada intinya, mereka percaya bahwa ada dua belas imam yang memimpin umat Islam setelah kematian Nabi Muhammad SAW. Mereka ini ibaratnya khalifah dalam paham Ahlussunnah Waljamaah dan harus diimani oleh umat Syiah keberadaannya. Mereka dipercaya dapat membawa umat Syiah terbebas dari dosa dan memiliki wewenang penuh dalam menginterpretasikan ayat-ayat Al Qur’an.

Dalil Imam Dua Belas

Umat Syiah memiliki beberapa dalil dalam meneguhkan kepercayaan ini. Syiah sendiri mengambil hukum syariatnya dari Al Qur’an dan Hadits. Bedanya, mereka hanya merujuk hadits yang diriwayatkan oleh keluarga Nabi Muhammad SAW. Berikut beberapa hadits yang dipercaya umat Syiah menjadi bukti adanya imam dua belas:

1. Dari H. R. Bukhari:

“Sesudahku ada dua belas amir (pemimpin)”. Kemudian beliau mengatakan suatu kalimat yang aku tidak mendengarnya. Kemudian ayahku berkata bahwa Nabi SAW bersabda: “Mereka semuanya dari suku Quraisy.”

2. Dari H.R. Al Juwayni:

”Sudah pasti bahwa wakil-wakilku dan Bukti Allah bagi makhluk sesudahku ada dua belas. Yang pertama di antara mereka adalah saudaraku dan yang terakhir adalah anak (cucu) ku.” Orang bertanya: “Wahai Rasulullah, siapakah saudaramu itu?” Beliau menjawab: “Ali bin Abi Thalib.” Lalu beliau ditanyai lagi: “Dan siapakan anak (cucu) mu itu?” Nabi yang suci (SAW) menjawab: ”Al-Mahdi. Dia akan mengisi bumi dengan keadilan dan persamaan ketika ia (bumi) dipenuhi ketidakadilan dan tirani. Dan demi Yang Mengangkatku sebagai pemberi peringatan dan memberiku kabar gembira, meski seandainya masa berputarnya dunia ini tinggal sehari saja, Allah SWT akan memperpanjang hari itu sampai diutusnya (anakku) Mahdi, kemudian ia akan disusul Ruhullah Isa bin Maryam (a.s.) yang turun ke bumi dan berdoa di belakangnya (Mahdi). Dunia akan diterangi oleh sinarnya, dan kekuatannya akan mencapai hingga ke timur dan ke barat.”

3. Dari H.R. Muslim:

Rasulullah SAWtelah bersabda, “Agama ini akan tetap berdiri sampai 12 khalifah, yang semuanya dari golongan Qurays, memerintah atas kamu.”

4. Dari H.R. Abu Daud:

“Agama ini akan tetap agung sampai datang dua belas Imam.” Mendengar hal ini, orang-orang mengagungkan Allah dengan berkata, “Allahu Akbar” (Allah maha besar) dan menangis keras. Kemudian beliau mengatakan sesuatu dengan suara yang pelan. “Aku bertanya pada ayahku, ‘Apa yang beliau katakan?’ ‘Mereka semua dari golongan Qurays,’ jawabnya.”

Hadits-hadits di atas memiliki perawi yang juga diakui oleh Ahlussunnah Waljamaah. Banyak kesamaan dalam isi, namun menurut Syiah, setiap hadits di atas memiliki perbedaan sanad. Karena itu menurut umat Syiah dalil yang mengemukakan bahwa umat Islam harus mempercayai imam dua belas adalah sebuah kepastian. Namun seperti biasa, memang ada interpretasi yang berbeda terhadap ayat-ayat ini.

Sejarah Syiah sendiri yang membuat interpretasi hadits-hadits di atas berbeda dengan Ahlussunnah Waljamaah. Syiah menganggap imam umat Islam setelah Rasulullah wafat adalah Ali bin Abi Thalib. Sedangkan umat di luar Syiah menganggap kekhalifahan harus dipilih dengan demokratis.

Abu Bakarlahyang terpilih menjadi khalifah utama. Hal ini banyak membuat pendukung Ali kecewa. Hal ini membuat sebagian Syiah membenci dan mengafirkan tiga khalifah sebelum Ali. Ali sendiri akhirnya menurut Sunni mengangkat baiat terhadap Abu Bakar dan semua khalifah setelahnya.

“Telah menceritakan kepada kami Yahya yang berkata telah menceritakan kepada kami Jarir dari Hasan bin Ubaidillah dari Abi Dhuha dari Zaid bin Arqam yang berkata Nabi SAW bersabda “Aku tinggalkan untuk kalian yang apabila kalian berpegang-teguh kepadanya maka kalian tidak akan sesat yaitu Kitab Allah azza wa jalla dan ItrahKu Ahlul Baitku dan keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadaKu di Al Haudh.”

Riwayat dari Abu Dhuha ini dituliskan lagi oleh Yaqub bin Sufyan Al Fasawi dalam Ma’rifat Wal Tarikh.

“Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaq dan Da’laj bin Ahmad Al Sijziiy yang keduanya bekata telah memberitakan kepada kami Muhammad bin Ayub yang menceritakan kepada kami Al ‘Azraq bin Ali yang menceritakan kepada kami Hasan bin Ibrahim Al Kirmani yang berkata menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah bin Kuhail dari Ayahnya dari Abu Thufail bin Watsilah yang mendengar Zaid bin Arqam RA berkata “Rasulullah SAW berhenti di suatu tempat di antara Mekkah dan Madinah di dekat pohon-pohon yang teduh dan orang-orang membersihkan tanah di bawah pohon-pohon tersebut. Kemudian Rasulullah SAW mendirikan shalat, setelah itu Beliau SAW berbicara kepada orang-orang. Beliau memuji dan mengagungkan Allah SWT, memberikan nasehat dan mengingatkan kami. Kemudian Beliau SAW berkata ”Wahai manusia, Aku tinggalkan kepadamu dua hal atau perkara, yang apabila kamu mengikuti keduanya maka kamu tidak akan tersesat yaitu Kitab Allah dan Ahlul BaitKu, ItrahKu. Kemudian Beliau SAW berkata tiga kali “Bukankah Aku ini lebih berhak terhadap kaum muslimin dibanding diri mereka sendiri. Orang-orang menjawab “Ya”. Kemudian Rasulullah SAW berkata” Barangsiapa yang menganggap aku sebagai maulanya, maka Ali adalah juga maulanya.”

Hadits Zaid bin Arqam riwayat Abu Thufail disebutkan dalam Al Mustadrak Al Hakim dan Juz Abu Thahir.

Riwayat di atas adalah salah satu dasar yang digunakan Syiah yang menyatakan bahwa Ali adalah Khalifah Islam selanjutnya. Hal ini karena Ahlul Bait setelah Rasulullah hanya Ali. Karena itu, mereka menghitung imam dua belas itu semenjak kepemimpinan Ali. Sedangkan Sunni yang mengakui hadits mengenai imam dua belas ada yang menganggap yang pertama adalah Abu Bakar.

Imam dua belas menurut Syiah Itsna Asyariyyah adalah sebagai berikut :

  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), disebut juga dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), disebut juga dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), disebut juga dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), disebut juga dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676–743), disebut juga dengan Muhammad al-Baqir
  6. Jafar bin Muhammad (703–765), disebut juga dengan Ja'far ash-Shadiq
  7. Musa bin Ja'far (745–799), disebut juga dengan Musa al-Kadzim
  8. Ali bin Musa (765–818), disebut juga dengan Ali ar-Ridha
  9. Muhammad bin Ali (810–835), disebut juga dengan Muhammad al-Jawad atau Muhammad at Taqi
  10. Ali bin Muhammad (827–868), disebut juga dengan Ali al-Hadi
  11. Hasan bin Ali (846–874), disebut juga dengan Hasan al-Asykari
  12. Muhammad bin Hasan (868), disebut juga dengan Muhammad al-Mahdi

Imam yang terakhir inilah yang dipercaya Syiah Itsna Asyariyyah sebagai Imam Mahdi. Muhammad bin Hasan menghilang dan muncul lagi nanti di akhir zaman dengan melawan Dajjal. Paham ini masih dipercaya dan diimani umat Syiah Itsna Asyariyyah sampai sekarang. Islam Sunni sebaliknya tidak mengakui imamah seperti di atas.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sejarah Syiah dan Sunni di Era Kekhalifahan
  • Mengenal Bahaya Syiah
  • Mengkaji Kebenaran Syiah tentang Imam Mahmdi dan Imam Ali
  • Tentang Syiah - Sejarah dan Aliran-alirannya
  • Apa Itu Syiah? Pertanyaan Sederhana yang Sangat Sensitif
  • Sejarah dan Konsep Ajaran Syiah
  • Sekilas tentang Islam Syiah
  • Aliran Syiah: Lahir dari persoalan politik Mewarnai Keragaman Doktrin Islam
  • Kajian Sederhana Islam Sunni dan Syiah
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA