Industri Jepang: Toyota Way (Berpikir Cara Toyota)

Siapa yang tidak mengenal pabrikan otomotif satu ini. Sebagai salah satu industri Jepang dan pabrikan otomotif terbesar di dunia, Toyota dapat memanjakan konsumen setianya dalam setiap produk yang mereka keluarkan. Tapi tahukah Anda, Toyota memiliki perencanaan dan sistem manajemen dasar tersendiri. Mereka menyebutnya sebagai The Toyota Way. Mengapa harus Toyota Way?
Karena sistem tersebut merupakan panduan cara berpikir mereka dalam berbisnis. Mereka membagi prinsip kerja mereka ke dalam empat bagian besar, yang keempat bagian tersebut dibagi lagi menjadi 14 filosofi dasar kerja Toyota. Mari kita tengok prinsip-prinsip yang mereka kembangkan.
Bagian 1: Berpikir Jauh ke Depan
1. Tekankan semua kebijakan yang diambil dalam bisnis sehingga memiliki dampak yang baik di masa depan. Filosofi ini akan memberikan panduan bagaimana seharusnya perusahaan melangkah, tidak hanya membebek terhadap perusahaan lain. Toyota menekankah pentingnya perencanaan jangka panjang meskipun kebijakan yang diambil sifatnya dalam waktu beberapa bulan saja.
Misalnya, Anda akan menginvestasikan sejumlah uang tertentu terhadap lini bisnis Anda. Anda sebenarnya sedang memikirkan apa risiko dan manfaat yang bisa Anda ambil di masa yang akan datang.
Bagian 2: Proses yang Baik akan Menghasilkan Produk yang Baik
Bagian ini menekankan pentingnya manajemen meninjau ulang proses bisnis mereka ketika terjadi masalah. Asumsi dasar yang diambil pada bagian ini adalah proses yang baik tentu saja tidak akan menghasilkan produk yang jelek. Berikut ini prinsip-prinsip yang termasuk dalam bagian ini (lanjutan dari poin di atas).
2. Ciptakan proses kerja berkelanjutan untuk mengetahui letak akar masalah sebenarnya. Dalam meneliti atau menemukan akar dari suatu masalah, Anda hendaknya meninjau masalah tersebut dalam satu kesatuan yang berkelanjutan.
3. Gunakan prinsip produksi tarik untuk menghindari adanya produksi yang berlebihan. Berbeda dengan sistem produksi konvensional, Toyota memproduksi produk sesuai dengan permintaan pasar. Artinya, produk akan diproduksi jika pasar memang meminta.
4. Samakan beban kerja. Beban kerja yang tidak seimbang akan merusak aliran kerja secara keseluruhan (Heijunka).
5. Hentikan proses kerja sesaat ketika ditemukan adanya masalah. Hal ini dilakukan untuk menemukan masalah secepat mungkin. Selain itu, dengan ditemukannya masalah secepat mungkin, kualitas produk pun akan terjaga dengan baik.
6. Standarkan waktu dan metode kerja. Standardisasi kerja ini penting dilakukan agar tidak terjadi perbedaan waktu antarpekerja yang mengerjakan suatu pekerjaan yang sama. Standardisasi waktu kerja juga akan memudahkan manajemen dalam menetapkan target produksi yang tidak memberatkan pekerja.
7. Berikan label dan pengecekan secara visual. Pelabelan dilakukan agar faktor-faktor produksi seperti mesin terjaga dan dapat difungsikan dengan baik. Selain itu, dengan melakukan pelabelan dan penataan mesin-mesin dan peralatan lainnya akan memperkecil penggunaan area produksi.
8. Gunakan mesin-mesin yang memang berkualitas.
Bagian 3: Jalin Hubungan dengan Karyawan dan Rekan Kerja Sehingga Memberikan Nilai Tambah terhadap Performansi Organisasi
9. Berikan kesempatan pada pekerja untuk tumbuh sehingga menjadi pemimpin dan dapat mengajarkannya kepada rekan kerja.
10. Kembangkan dan bina orang-orang Anda sehingga sesuai dengan filosofi perusahaan.
11. Berikan penghargaan kepada rekan kerja dan pemasok, berikan pula bantuan kepada mereka untuk bisa berkembang.
Bagian 4: Secara Terus-Menerus, Selesaikan Akar dari Suatu Masalah, bukan Masalah yang Tampak di Permukaan Saja.
12. Lihat dan turun langsung ke lapangan untuk mengetahui permasalahan secara jelas (Genchi Genbutsu).
13. Bermusyarah dalam menyelesaikan masalah dan implementasikan solusi secara cepat dan seksama (Nemawashi).
14. Lakukan perbaikan secara terus-menerus, jangan pernah berhenti untuk memperbaiki (Kaizen).






