Industri Tekstil

Industri tekstil adalah industri yang paling parah terkena dampak krisis global. Berdasarkan analisis Institute for Development Economics and Finance (Indef) dan Badan Pusat Statistik, krisis global dapat menimbulkan efek pengangguran akibat melemahnya industri tekstil.
Penyebab terguncangnya industri tekstil banyak perusahaan yang berorientasi ekspor, tidak memperpanjang kontrak pekerja dan terlalu dini melakukan PHK. Industri tekstil masih menguntungkan, karena Indonesia memiliki pebisnis ulung di bidang industri tekstil yang sudah berkecimpung selama puluhan tahun.
Pebisnis tekstil generasi kedua lebih berpendidikan maju sehingga mampu memanajerial dengan lebih baik. Sebagian industri tekstil sudah menggunakan energi batubara daripada solar dan ini mengurangi beban produksi perusahaan.
Prioritas utama memperbaiki industri tekstil adalah mempercepat penyelesaian infrastruktur. Kompetitor Cina mulai melemah menyusul naiknya biaya produksi di negara tersebut akibat kebijakan nilai tukar mata uang negara yang terbuka dan biaya buruh meningkat.
Menteri Perindustrian MS Hidayat saat membuka Musyawarah Nasional Asosiasi Pertekstilan Indonesia mengatakan, melambatnya industri tekstil ini disebabkan munculnya banyak negara pesaing, seperti Vietnam, Bangladesh, Thailand dan Cina, yang menggunakan teknologi baru.






