Institut Agama Islam Negeri di Indonesia
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) secara resmi berdiri pertama kali pada 1960 di Yogyakarta, dengan satu cabang di Jakarta. IAIN pertama tersebut adalah IAIN Sunan Kalijaga. Sebelum menjadi IAIN, awalnya bernama Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri.
Latar Belakang
IAIN didirikan dengan maksud untuk memfokuskan pembelajaran agama Islam di Perguruan Tinggi. Karena pada saat itu, belum ada perguruan tinggi (negeri) yang fokus untuk mempelajari keilmuan Islam, juga sangat sedikit sekolah tinggi yang berafiliasi kepada islam sebagai bahasan utamanya.
Oleh karena itu, didirikanlah IAIN untuk menampung minat mahasiswa di bidang ke-Islaman dan keilmuan Islam. Kebutuhan akan tenaga-tenaga fungsional di Departemen Agama pun menjadi salah satu latar belakang penting berdirinya perguruan tinggi agama Islam tersebut. Selain itu juga dengan mempertimbangkan dukungan dan hasrat yang besar dari rakyat dan Pemerintah terhadap pendidikan dan pengajaran agama Islam tingkat Universitas menjadi alasan utama didirikannya IAIN.
Sebelum adanya IAIN, sangat sedikit pelajar tingkat lanjut yang berminat untuk melanjutkan belajarnya di perguruan tinggi agama Islam. Hal ini terjadi karena keraguan mereka akan tenaga pengajar yang dinilai kurang mumpuni dan juga fasilitas yang sangat minim karena tidak adanya dukungan dari pemerintah. Namun setelah menjadi IAIN, minat para pelajar tingkat lanjut untuk belajar di perguruan tinggi agama Islam semakin meningkat.
Mata Kuliah
Komposisi mata kuliah pada saat itu terdiri atas bahasa Arab, Ilmu Kalam, Tasawuf, Fiqh dan Ushul Fiqh, Pengantar Ilmu Agama, Tafsir, Hadits, Filsafat, Mantiq, Akhlaq, dan lain-lain. Namun seiring berjalannya waktu, IAIN berkembang dengan pesat. Jika dulunya yang dipelajari di IAIN hanyalah ilmu agama (Islam) semata, IAIN mulai membuka diri dengan ilmu-ilmu umum, misalnya ilmu ekonomi, akutansi, kedokteran, Etnologi, Sosiologi, dan lain sebagainya.
Dengan dipelajarinya ilmu umum tersebut, IAIN kini semakin menunjukkan tajinya dalam menciptakan lulusan yang memiliki daya saing tinggi dan bermanfaat bagi masyarakat. Jika dahulu IAIN hanya dipandang sebelah mata, kini IAIN mulai dilirik pada akademisi untuk menjadi media pengembangan dirinya.
Perkembangan IAIN
Keseriusan tersebut dibuktikan dengan semakin banyaknya IAIN yang berkembang menjadi Universitas, yaitu Universitas Islam Negeri (UIN). Konversi dari IAIN ke UIN tersebut menunjukkan betapa pesatnya perkembangan IAIN.
Di dalam negeri sendiri, IAIN memang sudah mendapatkan perhatian, khususnya dalam berbagai terbitan dari IAIN sendiri dan dari Departemen Agama. Sampai saat ini di Indonesia terdapat sebanyak 14 IAIN dengan 90 fakultas.






