Belajar Interaksi Sosial Masyarakat dari Anto Baret
Ilustrasi interaksi sosial masyarakat
Interaksi sosial masyarakat bisa di pahami sebagai praktik dan bisa di pahami sebagai suatu teori yang menjelaskan bagaimana manusia saling berhubungan, demi suatu maksud, entah itu goofing around atau kebersamaan yang lebih produktif. Dalam hal ini kita pahami dulu interaksi sosial masyarakat sebagai suatu teori.
Gillin dan Gillin pernah mengadakan penggolongan yang lebih luas mengenai proses sosial yang timbul sebagai akibat adanya interaksi sosial, yaitu : Proses yang asosiatif (processes of association) yang terbagi ke dalam bentuk khusus lagi, yakni:
- Akomodasi . Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti yaitu untuk menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menunjuk pada suatu proses. Akomodasi yang menunjuk pada suatu keadaan, berarti adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat.
- Asimilasi dan akulturasi. Asimilasi merupakan proses sosial dalam taraf lanjut. Ia ditandai dengan adanya usaha-usaha mengurangi perbedaan-perbedaan yang terdapat antara orang perorangan atau kelompok-kelompok manusia dan juga meliputi usaha-usaha untuk mempertinggi kesatuan tidak, sikap dan proses-proses mental dengan memperhatikan kepentingan-kepentingan tujuan-tujuan bersama.
Interaksi Sosial sebagai Faktor Utama dalam Kehidupan Sosial
Bentuk umum proses sosial adalah interaksi sosial oleh karena interaksi sosial merupakan syarat utamanya terjadi aktivitas – aktivitas sosial. Bentuk lain dari proses sosial hanya merupakan bentuk- bentuk khusus dari interaksi sosial. Adapun yang dikutip oleh Soerjono Soekanto dari Gillin dan Gillin mengenai interaksi sosial adalah sebagai berikut, “ interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang perorangan, antara kelompok- kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia.
” Apabila dua orang bertemu, interaksi sosial dimulai pada saat itu.
Mereka saling menegur, berjabat tangan, saling berbicara atau bahkan mungkin berkelahi. Aktivitas-aktivitas semacam itu merupakan bentuk-bentuk interaksi sosial. Walaupun orang- orang yang bertemu muka tersebut tidak saling bicara atau tidak saling menukar tanda-tanda, interaksi sosial telah terjadi, oleh karena masing-masing sadar akan adanya pihak lain yang menyebabkan perubahan dalam perasaan dan orang-orang yang bersangkutan, yang disebabkan oleh misalnya bau keringat, minyak wangi, suara berjalan dan sebagainya.
Interaksi sosial hanya berlangsung antara pihak-pihak apabila terjadi reaksi dari kedua belah pihak. Interaksi sosial tak akan mungkin terjadi apabila manusia mengadakan hubungan yang langsung dengan sesuatu yang sama sekali tak berpengaruh terhadap system syarafnya ,sebagai akibat hubungan termaksud ( Soekanto, 1990).
Faktor- faktor yang Menyebabkan Terjadinya Proses Interaksi
Berlangsungnya suatu proses interaksi didasarkan pada berbagai faktor, antara lain, faktor imitasi, faktor sugesti, faktor identifikasi dan faktor simpati. Faktor – faktor tersebut dapat bergerak sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam keadaan tergabung. Adapun faktor-faktor tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
- Faktor Imitasi Faktor ini memiliki peranan penting dalam proses interaksi sosial. Salah satu segi positifnya adalah bahwa imitasi dapat mendorong seseotang untuk mematuhi kaidah-kaidah dan nilai yang berlaku. Namun demikian imitasi mungkin pula mengakibatkan terjadinya hal-hal negatif yang menyimpang.Selain itu imitasi juga dapat melemahkan atau bahkan mematikan pengembangan daya kreasi seseorang.
- Faktor Sugesti Faktor ini berlangsung apabila seseorang memberi suatu pandangan atau sesuatu sikap yang berasal dari dirinya yang kemudian diterima oleh pihak lain. Proses ini hampir sama dengan dengan imitasi akan tetapi titik tolaknya berbeda. Sugesti berlangsung apaabila pihak yang menerima dilanda oleh emosi, hal mana menghambat daya berpikirnya secara rasional.
- Faktor Identifikasi Faktor ini merupakan kecenderungan-kecenderungan atau keinginan-keinginan dalam diri seseorang utnuk menjadi sama dengan pihak lain. Identifikasi sifatnya lebih mendalam dibandingkan dengan imitasi, karena kepribadian seseorang dapat terbentuk melalui proses ini. Proses identifikasi dapat terjadi dengan sendirinya ( secara tidak sadar ), maupun dengan disengaja. Walaupun dapat terjadi secara tidak sadar, proses identifikasi berlangsung dalam suatu keadaan di mana seseorang yang beridentifikasi benar-benar mengenal pihak lain yang menjadi idealnya.
- Faktor Simpati Proses ini merupakan suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain. Dalam proses ini perasaan memegang peranan sangat penting. Namun dorongan utama pada simpati adalah keinginan untuk memahami pihak lain yang dianggap kedudukannya lebih tinggi dan harus dihormati karena mempunyai kemampuan dan kelebihan tertentu yang patut dijadikan contoh ( Soekanto, 1990).
Adapun terlepas dari teori di atas, secara riil interaksi sosial juga di Indonesia akhir akhir ini dirasa belum menyeluruh dan terkesan pilih-pilih. Perhatikanlah terminal, pasar, halte, dan stasiun. Disana dengan mudah kita temukan para preman, anak jalanan, pengamen, komunitas punk dan sebagainya yang kerap disebut kaum marjinal, masyarakat miskin kota dan entah stempel apalagi yang diberikan pada mereka, tapi yang pasti hanya sedikit orang yang peduli pada mereka. Kebanyakan orang memilih menghindar dan sebagian lagi memilih tidak peduli.
Kehidupan jalanan sudah kadung identik dengan dunia hitam seperti kekerasan, maksiat, dosa, dan neraka, sehingga membuat orang-orang mapan perkotaan menganggap mereka tidak lebih dari sekedar “sampah” yang harus dibuang dan dilupakan. Tapi, apakah memang demikian? Kalau anda termasuk yang setuju saya akan mengajak anda melihat dari sisi yang berbeda.
Anto Baret dan Anak Buahnya
Saya bangga dengan apa yang dilakukan oleh sahabat sekaligus guru saya Mas Anto Baret terhadap komunitas jalanannya di Bulungan. Saya mengenal beliau karena memang rumahnya persis di sebelah rumah saya ditambah lagi sekolah saya di SMA dulu tepat bersebelahan dengan “markas”nya di Bulungan.
Apa yang dilakukan oleh Mas Anto Baret? Ia selalu siap menampung orang-orang yang dicap sebagai preman, pengamen, gelandangan, dan anak jalanan lainnya. Mereka yang hidupnya luntang-lantung di Jakarta karena merantau dan jauh dari daerah asalnya. Ya, dia mampu menjalin interaksi sosial dengan mereka yang hidup di jalanan.
Sebagai tetangganya saya melihat rumah beliau selalu ramai siang malam oleh orang yang aneh-aneh berpenampilan seram. Sewaktu saya bertandang ke rumahnya yang dipenuhi berbagai macam “benda-benda seni yang menakutkan” dengan mantap Mas Anto mengatakan bahwa sejelek-jeleknya orang, pasti ada sisi baiknya dan dia berusaha untuk menggali sisi baik yang ada pada setiap “anak asuh”nya.
Ia punya kiat nyleneh untuk menundukkan anak jalanan yang diasuhnya tersebut. Bila ada yang merasa kuat dan jagoan berkelahi, maka Mas Anto akan mempersilahkannya untuk bertarung melawannya, jika menang, maka Mas Anto akan bersedia menuruti kemauan anak asuhnya tersebut, tapi bila kalah maka ia harus tunduk dan patuh kepadanya.
Dan ternyata sampai saat ini tidak ada yang bisa mengalahkan Mas Anto untuk urusan “adu pukulan”. Atau bila ada yang merasa kuat mabuk-mabukan maka Mas Anto akan mengajaknya adu minum, sampai ada yang menyerah dan tak kuat lagi untuk melanjutkan. Dan untuk urusan yang satu ini, Mas Anto juga tak pernah kalah!
Alhasil mereka menaruh hormat dan segan kepada pimpinannya. Setelah berhasil menundukkan mereka, barulah Mas Anto melihat dan mengasah potensi yang ada di setiap anak asuhnya.
Berkat tangan dinginnyalah lahir para seniman sekelas Iwan Fals, Henri Lamiri, Kuntet Mangku Langit, Mbah Surip (alm), dan ratusan penggiat seni lainnya yang hidup mandiri sebagai pemusik, penulis lagu, pelukis, pemain teater, pelatih tari, pelatih bela diri, sampai petinju profesional!
Jadi, masihkah Anda menganggap para preman, pengamen, gelandangan, dan anak jalanan lainnya sebagai sampah masyarakat yang harus dibuang?
Saya memilih berteman dan menjadi sahabat bagi mereka, bagaimana dengan pemahaman Anda sendiri terhadap Interaksi Sosial Masyarakat?

