Belajar Interaksi Sosial Masyarakat dari Anto Baret
Interaksi sosial masyarakat dirasa belum menyeluruh dan terkesan pilih-pilih. Perhatikanlah terminal, pasar, halte, dan stasiun. Disana dengan mudah kita temukan para preman, anak jalanan, pengamen, komunitas punk dan sebagainya yang kerap disebut kaum marjinal, masyarakat miskin kota dan entah stempel apalagi yang diberikan pada mereka, tapi yang pasti hanya sedikit orang yang peduli pada mereka. Kebanyakan orang memilih menghindar dan sebagian lagi memilih tidak peduli.
Kehidupan jalanan sudah kadung identik dengan dunia hitam seperti kekerasan, maksiat, dosa, dan neraka, sehingga membuat orang-orang mapan perkotaan menganggap mereka tidak lebih dari sekedar “sampah” yang harus dibuang dan dilupakan. Tapi, apakah memang demikian? Kalau anda termasuk yang setuju saya akan mengajak anda melihat dari sisi yang berbeda.
Anto Baret dan Anak Buahnya
Saya bangga dengan apa yang dilakukan oleh sahabat sekaligus guru saya Mas Anto Baret terhadap komunitas jalanannya di Bulungan. Saya mengenal beliau karena memang rumahnya persis di sebelah rumah saya ditambah lagi sekolah saya di SMA dulu tepat bersebelahan dengan “markas”nya di Bulungan.
Apa yang dilakukan oleh Mas Anto Baret? Ia selalu siap menampung orang-orang yang dicap sebagai preman, pengamen, gelandangan, dan anak jalanan lainnya. Mereka yang hidupnya luntang-lantung di Jakarta karena merantau dan jauh dari daerah asalnya. Ya, dia mampu menjalin interaksi sosial dengan mereka yang hidup di jalanan.
Sebagai tetangganya saya melihat rumah beliau selalu ramai siang malam oleh orang yang aneh-aneh berpenampilan seram. Sewaktu saya bertandang ke rumahnya yang dipenuhi berbagai macam “benda-benda seni yang menakutkan” dengan mantap Mas Anto mengatakan bahwa sejelek-jeleknya orang, pasti ada sisi baiknya dan dia berusaha untuk menggali sisi baik yang ada pada setiap “anak asuh”nya.
Ia punya kiat nyleneh untuk menundukkan anak jalanan yang diasuhnya tersebut. Bila ada yang merasa kuat dan jagoan berkelahi, maka Mas Anto akan mempersilahkannya untuk bertarung melawannya, jika menang, maka Mas Anto akan bersedia menuruti kemauan anak asuhnya tersebut, tapi bila kalah maka ia harus tunduk dan patuh kepadanya.
Dan ternyata sampai saat ini tidak ada yang bisa mengalahkan Mas Anto untuk urusan “adu pukulan”. Atau bila ada yang merasa kuat mabuk-mabukan maka Mas Anto akan mengajaknya adu minum, sampai ada yang menyerah dan tak kuat lagi untuk melanjutkan. Dan untuk urusan yang satu ini, Mas Anto juga tak pernah kalah!
Alhasil mereka menaruh hormat dan segan kepada pimpinannya. Setelah berhasil menundukkan mereka, barulah Mas Anto melihat dan mengasah potensi yang ada di setiap anak asuhnya.
Berkat tangan dinginnyalah lahir para seniman sekelas Iwan Fals, Henri Lamiri, Kuntet Mangku Langit, Mbah Surip (alm), dan ratusan penggiat seni lainnya yang hidup mandiri sebagai pemusik, penulis lagu, pelukis, pemain teater, pelatih tari, pelatih bela diri, sampai petinju profesional!
Jadi, masihkah Anda menganggap para preman, pengamen, gelandangan, dan anak jalanan lainnya sebagai sampah masyarakat yang harus dibuang?
Saya memilih berteman dan menjadi sahabat bagi mereka, bagaimana dengan Anda?






