Kajian Sederhana Islam Sunni dan Syiah
Ilustrasi islam sunni dan syiah
Apakah Islam Sunni dan Syiah berbeda? Sebenarnya, tidak. Kedua aliran tersebut sama-sama berpedoman pada kitab yang sama, nabi yang sama, dan bahkan ibadah yang sama pula. Perbedaan Sunni dan Syiah hanya terletak pada luka akibat peristiwa politik yang diderita Syiah.
Siapakah Sunni dan Siapakah Syiah?
Seperti yang kita ketahui, Sunni adalah aliran mayoritas umat Islam. Penganut Sunni dari empat mahzab (Hambali, Syafii, Maliki, dan Hanafi) mencapai 90% umat Islam, sedangkan Syiah hanya sisanya, sekitar 10% kurang.
Akan tetapi, Syiah tampaknya lebih mendominasi pemberitaan mengingat mereka terkumpul dalam satu titik negara, Republik Islam Iran, yang kebetulan sangat berani melawan tindakan sepihak Amerika Serikat dalam mengadili dunia.
Mengapa Syiah Berbeda dari Sunni?
Akar perbedaan Sunni dan Syiah dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad SAW. Saat itu, terjadi kekosongan kepemimpinan. Setelah 2 hari menunggu, akhirnya, bekerjasama dengan Umar bin Khattab, Abu Bakar Ash Shiddiq sukses ditunjuk sebagai khalifah pengganti Rasulullah. Akan tetapi, bukan berarti semua orang menyukai keputusan tersebut.
Hampir puluhan hingga ratusan tahun kemudian, kaum Syiah mengklaim telah terjadi peristiwa pengangkatan Ali di Ghadir Kum. Kabarnya, saat itu Nabi Muhammad dan para sahabat sedang beristirahat. Kemudian, Nabi mengangkat Ali dengan perkataan,
“Wahai saudaraku kaum muslimin, aku dan dia (sambil menunjuk Ali) bagaikan Musa dengan Harun. Jika sesudahku masih ada nabi, maka dialah orangnya. Namun, karena tidak ada nabi sesudahku, maka dialah penerusku. Kalian saksikankah ucapanku ini wahai sekalian manusia?”
Syiah menuntut hak Ali sebagai khalifah. Artinya, menurut Syiah, semua keturunan Ali-lah yang berhak memangku jabatan tersebut. Keadaan diperparah dengan sikap Syiah atas kematian Hussein, cucu Nabi Muhammad SAW sekaligus putra Ali.
Syiah menuntut “pembalasan dendam” karena Hussein dan seluruh keluarganya dibantai oleh Muawiyah, khalifah pertama Dinasti Umayyah, di padang Karbala.
Kejadian tersebut sangat melukai Syiah karena Muawiyah seperti sengaja melenyapkan semua penerus Ali (Muawiyah khawatir mereka mendapat dukungan politis dari umat Islam pada kemudian hari jika masih hidup). Entah kebetulan atau tidak, sejak saat itu, keturunan Nabi melalui jalur Ali (satu-satunya jalur) memang ditakuti dan disingkirkan oleh dinasti-dinasti yang mengaku sebagai dinasti Islam.
Hal ini jelas memperpanjang luka politik Syiah sehingga kemudian mereka mengagung-agungkan imam-imam mereka, anak-cucu Ali, dan kadang sangat berlebihan.
Konsistensi Syiah pada Imam Mahdi
Dibandingkan dengan Sunni, Syiah sangat loyal dengan imam-imam mereka. Bahkan, salah satu cita-cita Mahmud Ahmadinejad, presiden Iran saat ini adalah “mempercepat kedatangan Imam Mahdi karena dunia sudah dipenuhi kelicikan AS dan sekutu-sekutunya”.
Konsep Imamah dan Syiah
Keyakinan akan munculnya Imam Mahdi memang diakui oleh seluruh kelompok-kelompok yang ada di dalam Islam, bukah hanya syiah saja. Namun yang diragukan kebanyakan orang tentang kebenaran Syiah adalah dalam permasalah imamahnya.
Secara umum, imamah berfungsi sebagai perangkat tinggi hukum yang mentransformasikan nilai-nilai keadilan bagi semua lapisan masyarakat. Namun dalam keyakinan Syiah, imamah merupakan diskursus teologi (akidah) yang berseberangan secara diametral dengan golongan mayoritas ulama Islam lainnya. Yaitu, ulama yang menganggap hal tersebut bagian dari diskursus parsial normatif (fikih): yang secara prosedural pengangkatan imam (khalifah) diserahkan kepada rakyat. Sedangkan dalam sekte Syiah, imamah (kepemimpinan) berdasarkan nash dan wasiat dari nabi Muhammad Saw.
Dari sini dapat dipahami, Syiah berkeyakinan bahwa agama dianggap sebagai fundamental agama, di samping kewajiban shalat, zakat, puasa dan haji. Bahkan di dalam kitab al-Kafi dicantumkan perkataan Abu Ja’far yang bernada, “Islam didirikan dalam lima pondasi. Yaitu, shalat, zakat, puasa, haji dan wilyah. Belum ada seruan untuk wilayah maka manusia hanya mengambil empat pondasi pertama dan mengabaikan yang terakhir.”
Di dalam kitab “ ‘Aqaa’id al-Imaamiyah al-Itsna al-‘Asyariyah” dicantumkan oleh Zanzani bahwa kelompok Syiah imamiyah memiliki keyakinan ihwal imamah adalah kepemimpinan agama dan dunia, dan merupakan jabatan ketuhanan yang dipilih oleh Allah dengan memberikan perintah kepada Nabi Saw. untuk memberi isyarat keimamahan dengan memiliki legalitas kewajiban untuk mematuhinya setelah Nabi Saw.
Makanya Ahmad Haris Suhaimi menuliskan di dalam bukunya “Tawtsiq as-Sunnah baina asy-Syi’ah al-Imamiyya wa Ahlus Sunnah fi al-Ahkaam wa Nikah al-Mut’ah”, Bila dipahami dari penjelasan konsep imamah Syiah, maka setiap muslim yang meninggal dunia tanpa mengetahui imam yang lagi berkuasa di masanya, kematiannya dianggap bagaikan kematian dalam pra-Islam (jahiliyah).
Di sinilah kita menjadi paham, bahwa mayoritas ulama Syiah berpendapat bahwa pengingkaran terhadap imamah maka pelakunya dianggap kafir melebihi pengingkaran terhadap kenabian.
Keyakinan inilah yang memaksa pengikut Syiah beriktikad tentang kemaksuman imam yang menyebabkan pengakuan mereka kepada akidah al-bada’ wa at-taqiyyah. Karena realitas imamah tidak sesuai dengan asumsi kemaksuman; yang apabila terjadi kontradiksi dalam setiap fatwa mereka (imam); mereka mengatakan dengan al-aada’ dan attaqiyyah.
Begitu juga keyakinan terhadap akidah imamah yang menyebabkan mereka mengatakan akidah lain dengan sebutan akidah al-gha’ibah (akidah asing) dengan alasan logis bahwa setiap masa tidak lepas dari alasan (hujjah) bagi Allah. Maka, keabsenan imam yang ke-12 dijadikan akidah untuk beralasan bagi Allah. Lantas, masihkah kita kliam kebenaran syiah yang merasa kelompoknya paling benar?
Mengkaji Riwayat Buku Mir’atul Uqul
Tak salah rasanya bila penulis mencantumkan di dalam artikel yang mengupas tentang seperti apa kebenaran syiah ini ihwal kitab Mir’atul Uqul yang memuat hadis-hadis yang diklaim otentik oleh kelompok Syiah.
1. Al-Majlisi. Ia adalah penulis buku Mir’atul Uqul yang mengakui hadits yang dianggap lemah (dhoif) olehnya dalam buku al-Kafi, tetapi sifat kelemahan yang dimiliki oleh hadis tersebut masih bisa diaplikasikannya.
Sebenarnya al-Majlisi tidak melilrik ke mata rantai periwayat an sich, sebagain bagian dari keabsahan suatu hadis, tetapi isi hadis bila sepadan dnegan akidah yang dianut, maka hadis tersebut dapat diaplikasikan.
2. Buku hadis mir’atul uqqul tidak dapat digolongkan dalam buku takhrij, yaitu buku yang ditulis untuk memberi elaborasi terhadap kedudukan hadis. Karena buku hadis ini tidak merinci alasan kelemahan suatu hadis. Tugas yang dilakukan al-Majlisi di sini terbatas sebagai taqiyyah untuk memperlihatkan kontradiksi periwayatan buku al-Kafi.
3. Di dalam Ushul al-Kafi sendiri semua periwayat bersifat mun’an’an, tanpa ada satu riwayat yang ditulis dengan haddatsana…akhbarana… sami’na… dan lainnya seperti yang terdapat di dalam buku-buku hadis ulama sunni.
4. Takhrij yang dilakukan oleh al-Majlisi sebenarnya mengikuti jejak langkah guru-gurunya, yaitu al-Tasturi yang memiliki buku hadis bernama al-Akhbar ad-Dakhilah dan Qadha ‘Ali. Dalam buku yang terakhir ini, penulisnya banyak memberi periwayatan dan mitos yang bersambung sampai kepada Ali bin Abi Thalib.
Kenapa Syiah Mengagungkan Ali bin Abi Thalib?
Ali bin Abi Thalib adalah ikon yang dijadikan tentang kebanaran syiah oleh banyak para ulama Syiah. Para ulama sunni, mengakui Ali sebagai khulafaurrasyidin setelah Abu Bakar, Umar bin Khattab dan Ustman Bin Affan. Berbeda dengan Syiah, yang hanya mengakui Ali sebagai pengganti Rasulullah Saw. Tidak ada khalifah selain Ali bin Abi Thalib.
Bahkan ada kelompok Syiah yang mengklaim Ali setera Nabi Muhammad Saw. Bahkan sebagian besar kaum Syiah juga mengkafirkan sebagian besar pembesar-pembesar sahabat Nabi Saw. yang telah Allah muliakan derejat mereka melalui kitab suci.
“Dan para pendahulu (sahabat Rasul) dari Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, maka Allah meridhai mereka dan mereka pun ridha. Dan disediakan buat mereka surga yang mengalir anak-anak sungai di bawahnya serta kekallah mereka di dalamnya. Demikian itu, kemenangan yang cukup besar”. (QS. At-Taubah: 100)
Tak hanya sampai di situ, bahkan sebagian mereka mengklaim salah seorang imam mereka adalah nabi terakhir dan mereka golongkan kepada ulul azmi minarrusul. Untuk lebih jelasnya baca artikel “Apa Itu Syiah? Sebuah Pertanyaan Sederhana yang Sangat Sensitif”.
Kesatuan Islam
Sementara itu, Sunni tidak bersikap antipati seperti Syiah. Sunni yang berpedoman pada empat mahzab (Hambali, Syafii, Maliki, dan Hanafi) lebih “toleran” terhadap penguasa yang saat itu represif.
Sejauh ini, perbedaan Sunni dan Syiah hanya terletak pada masalah politik. Oleh karena itu, sudah sepatutnya permasalahan tersebut tidak diperluas atau diperkeruh karena Islam sendiri terjamin Al-Quran tidak akan pernah mampu dihancurkan.
Inilah kajian sederhana Islam Sunni dan Syiah. Semoga bermanfaat.

