logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Sosial    Konflik Sosial

Konflik Israel vs Palestina dari Masa ke Masa


Ilustrasi israel vs palestina

Konflik Israel vs Palestina seolah tidak pernah berakhir. Ribuan jiwa telah menjadi korban dan belasan perjanjian damai serta gencatan senjata tidak dipedulikan. Bagaimana awal mula munculnya konflik Israel vs Palestina ini? Awal Mula Konflik Israel vs PalestinaMengulas asal mula konflik Israel vs Palestina berarti membicarakan konflik yang sudah berumur puluhan tahun; banyak hal yang harus diulas.

Oleh karena itu, agar lebih ringkas dan terarah, simaklah rentetan kejadian-kejadian penting yang mengawali konflik politis ini. Rentetan kejadian-kejadian ini sedikit banyak dapat menggambarkan keterkaitan peristiwa sejarah satu dengan lainnya terkait dengan konflik yang melanda tanah Palestina.

1. Lahirnya Zionisme

Awal mula konflik Israel vs Palestina konon disebabkan oleh berdirinya gerakan Zionisme. Gerakan zionisme merupakan suatu bentuk gerakan untuk mempersatukan seluruh kaum Yahudi di dunia agar kembali ke ‘kampung halaman’ mereka di bukit Zion, Yerusalem.

Didirikan sejak abad ke-19, gerakan ini sering kali mengadakan kongres secara berkala.Pada kongresnya yang pertama (tahun 1897), seorang tokoh Yahudi bernama Theodor Herzl mendoktrin paham Zionisme alias paham negara Yahudi.

Awalnya, negara Yahudi akan didirikan di Afrika tetapi kemudian diputuskan untuk membentuk negara Yahudi di Palestina. Saat itu, Palestina yang dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman Turki merupakan negara kuat dan stabil.

2. Deklarasi Balfour 1917

Selama bertahun-tahun, gerakan Zionisme tidak pernah padam; bahkan semakin berkembang. Di masa Perang Dunia I, gerakan ini mendapat dukungan dari Inggris. Dukungan tersebut berupa sepucuk surat dari Menteri Luar Negeri Inggris saat itu, Arthur J. Balfour, kepada pimpinan komunitas Yahudi di Inggris, Lord Rothschild tertanggal 2 November 1917.

Surat yang disebut Deklarasi Balfour ini berisi pernyataan simpati dan keinginan untuk mendukung gerakan Zionisme selama tidak merugikan hak-hak penduduk di tanah Palestina.Deklarasi Balfour dianggap sebagai dukungan penuh dan janji Inggris untuk membangun tanah air untuk kaum Yahudi di Palestina.

Setelah surat ini diturunkan, para aktivis Zionisme semakin aktif mengkampanyekan gerakan dan idealismenya; serta turut terlibat dalam Perang Dunia I. Kemenangan sekutu dalam Perang Dunia I membawa kekalahan pada pihak Kekaisaran Utsmaniyah, yang menguasai tanah Palestina.

3. Mandat Inggris atas Palestina

Selepas Perang Dunia I, Palestina mengalami kekosongan kekuasaan karena kalahnya Kekaisaran Utsmaniyah. Oleh karena itu, Liga Bangsa-Bangsa (LBB) memberi mandat kepada Inggris untuk mengambil alih kekuasaan. Pengambilalihan kekuasaan oleh Inggris melalui mandat ini membuka jalan untuk terlaksananya migrasi kaum Yahudi secara besar-besaran ke kawasan Palestina; yang merupakan bagian dari gerakan Zionisme.

Mandat Inggris atas Palestina berjalan sejak tahun 1920 (selepas Perang Dunia I) dan berakhir pada tahun 1948 (saat Zionisme mendirikan negara Israel di atas tanah Palestina).

4. Revolusi Arab

Kepemimpinan Inggris dan migrasi besar-besaran kaum Yahudi memicu terjadinya gerakan massa Palestina yang disebut Revolusi Arab. Revolusi ini terjadi pada tahun 1936 -1939. Revolusi ini bisa dianggap sebagai awal mula perjuangan Palestina dalam konflik Israel vs Palestina.Revolusi Arab dibagi menjadi dua fase.

Fase pertama adalah revolusi yang terjadi pada tahun 1936. Fase yang dipenuhi oleh kegiatan protes dan pemogokan kerja ini dipimpin oleh kaum elit dan masyarakat perkotaan Palestina. Pada akhir 1936, pemerintah Mandat Inggris atas Palestina berhasil melumpuhkan Revolusi Arab fase pertama.Selanjutnya di akhir tahun 1937, fase kedua Revolusi Arab muncul.

Kali ini, para aktivis revolusi menunjukkan protesnya dengan melakukan tindakan-tindakan kekerasan dan gerakan perlawanan yang dipimpin oleh kaum petani. Tentara Inggris yang bertugas di Palestina menjadi target utama fase kedua Revolusi Arab.Pemerintah Mandat Inggris di Palestina menanggapi fase kedua Revolusi Arab dengan lebih brutal.

Melalui tentara Inggris dan pasukan polisi Palestina, gerakan Revolusi Arab ini dibasmi tanpa ampun, 2.000 orang Palestina (Arab) dibunuh dalam penyerangan, 108 orang dihukum gantung, dan 961 tewas akibat serangan terorisme. Inggris saat itu menekankan kekerasan dan teror kepada para aktivis Revolusi.

Pada akhirnya, usaha bangsa Palestina untuk mempertahankan negaranya dari pemerintah Mandat Inggris untuk Palestina dan dari migrasi besar-besaran kaum Yahudi gagal.

5. Pembentukan Negara Israel

Selama masa pemerintahan Inggris di Palestina, para aktivis Zionisme berhasil memasukkan lebih dari 100.000 orang Yahudi ke tanah Palestina. Mereka berhasil meminta simpati negara-negara lain dan PBB untuk menduduki tanah Palestina dengan menjadikan tragedi Holocaust sebagai alasan utamanya.

Puncaknya, di tahun 1947 PBB membagi tanah Palestina menjadi 2 negara, yakni negara Arab dan negara Arab. Segera setelah itu, pada 14 Mei 1948 aktivis Zionisme memproklamasikan pendirian negara Israel. Mereka menyatakan Yerusalem sebagai ibukota negara mereka; yang sayangnya tidak diakui oleh banyak negara di dunia dan oleh PBB.

Pendirian negara Israel memicu memanasnya situasi di Timur Tengah, sehingga pecahlah Perang Arab-Israel. Pembentukan negara Israel juga meletupkan perpecahan di antara kaum Yahudi yang mendukung dan menolaknya.

6. Perang Arab-Israel

Sehari setelah para Zionis memproklamasikan pendirian negara Israel, negara-negara Arab seperti Suriah, Lebanon, Mesir, Irak, dan Palestina menyerbu Israel. Inilah perang pertama dalam konflik Israel vs Palestina. Perang ini dimenangkan oleh Israel, sehingga oleh para penduduknya disebut Perang Kemerdekaan” atau “Perang Kebebasan”.

Di sisi lain, bagi bangsa Palestina perang ini adalah bencana. Kekalahan perang mengakibatkan banyaknya warga yang tewas. Kemenangan Israel dalam perang ini otomatis memperluas wilayah kekuasaannya di tanah Palestina. Mau tidak mau, banyak warga Palestina yang harus mengungsi karena tanah tempatnya tinggal diambil paksa oleh bangsa Israel.

Israel pada masa itu, seperti halnya pada masa sekarang, gencar melakukan penyerangan-penyerangan militer dan pembunuhan besar-besaran ke daerah pemukiman warga sipil. Mereka yang berhasil hidup memilih untuk mengungsi karena tidak sanggup hidup dalam ketakutan dan teror pemerintahan Israel.

Sejarah mencatat lebih dari 80% penduduk Palestina (atau sekitar 711.000 - 725.000 jiwa) meninggalkan tanah airnya. Perang Arab - Israel juga menyebabkan ketidakpastian pemerintahan Palestina dan ketidakstabilan berbagai aspek. Perang Arab-Israel diakhiri dengan perjanjian gencatan senjata antara negara-negara yang terlibat.

Perjanjian yang ditandatangani pada tahun 1949 mampu mempertahankan kestabilan situasi di tanah Palestina selama 19 tahun. 19 tahun setelahnya, yakni tahun 1967, meletus Perang Enam Hari yang diikuti serangan-serangan militer lainnya hingga kini.Israel vs Palestina KiniSemenjak berdirinya negara Israel di atas tanah Palestina, penyerangan demi penyerangan terus berlanjut.

Aksi-aksi Israel yang mengangkangi rakyat Palestina sering kali menuai protes dari negara-negara lain. Sayangnya, tak ada satu pun yang berhasil memperbaiki keadaan. Pada tahun 1975 silam, PBB sempat mengeluarkan Resolusi 3379 yang menyatakan bahwa gerakan Zionisme adalah gerakan diskriminasi rasial.

Akan tetapi, atas berbagai alasan resolusi ini dicabut kembali di tahun 1991, sehingga Zionis Israel tetap merajalela. Dalam proses perdamaian, perjanjian demi perjanjian telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Akan tetapi, tidak ada perjanjian yang bertahan lama. Keduanya sering kali melakukan penyerangan kepada satu sama lain.

Dalam hal penyerangan militer, tidak dinyana bahwa Israel memiliki peralatan yang jauh lebih canggih daripada para pejuang Palestina. Namun rakyat Palestina tidak pernah berhenti berusaha meraih kedaulatannya kembali.Salah satu konflik Israel vs Palestina yang terbesar di tahun 2000-an adalah serangan Israel ke Gaza di tahun 2008 - 2009 silam.

Penyerangan ini diduga berlandaskan motif politik, di mana saat itu partai-partai politik Israel berusaha meraih hati rakyatnya dan melakukan propaganda dengan menyerang rakyat sipil di Gaza. Serangan militer Israel di Jalur Gaza berhenti pada Januari 2009.

Semakin hari, Israel semakin ‘buas’ dan terang-terangan dalam melakukan serangan militernya. Tidak hanya melakukan penyerangan demi penyerangan, mereka juga menambah penderitaan warga Gaza dengan membangun tembok ‘penjara’ di sekelilingnya sehingga warga Gaza kehilangan akses ke dunia luar.

Para politisi Israel juga membuat rakyat Palestina di Gaza menggantungkan diri pada Israel dengan memasok bahan makanan dan kebutuhan lainnya ke dalam ‘penjara’ tersebut secara berkala. Entah kapan konflik Israel vs Palestina akan berakhir. Meski wilayah Palestina semakin hari semakin digerogoti oleh pemerintah Zionis Israel, mereka menolak untuk menyerah.

Berbagai usaha tidak henti mereka lakukan, mulai dari usaha penyerangan militer hingga usaha meraih simpati PBB seperti yang dilakukannya tahun 2011 silam. Walaupun usaha Palestina saat itu nyaris berhasil, mereka belum mampu menyelesaikan konflik Israel vs Palestina ini secara damai.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pentingnya Manajemen Konflik dalam Kehidupan
  • Berbagai Kasus Konflik Antar Negara
  • Akar Konflik Sosial Masyarakat
  • Serba-serbi Islam vs Kristen
  • Konflik Sosial Budaya Sebagai Proses Pendewasaan
  • Konflik - Masalah Sosial yang Wajar
  • Tragedi Bintaro - Melihat Skenario Takdir Kematian
  • Poso - Kapankah Tak Berdarah Lagi?
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA