Kenapa Israel Dibenci?

Perang yang sampai sekarang masih berkecamuk di kawasan Timur Tengah tak bisa dilepaskan dari eksistensi negara satu ini. Israel berdiri tiga tahun setelah Indonesia merdeka, yaitu pada 1948.
Sejak berdirinya, di negara ini sampai sekarang, masih terjadi kontak senjata, baik yang terjadi antara Israel dan negara-negara Arab (seperti dalam Perang Arab-Israel), maupun antara Israel dan kelompok-kelompok perlawanan, di antaranya HAMAS di Palestina.
Sejarah
Sejarah berdirinya Israel tak bisa dilepaskan dari Kongres Zionisme Internasional pada akhir abad ke-19 di Basel, Swiss. Dalam kongres yang diprakarsai oleh Theodor Hertzl ini diputuskan untuk mendirikan negara bagi bangsa Yahudi yang tercerai-berai. Ide itu dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Negara Yahudi” (Der Judenstaat).
Setelah kongres itu, lobi Yahudi pun aktif berkampanye demi pendirian negara di tanah Palestina. Awalnya, ada beberapa negara yang menjadi pertimbangan, seperti di salah satu tempat di Afrika dan Amerika. Namun, kaum Yahudi lebih menyetujui pendiriannya di tanah Palestina.
Selanjutnya, lewat bantuan Inggris dan PBB, kaum Yahudi pun berhasil membentuk Negara Israel di Palestina. Tanah ini awalnya dikuasai oleh Inggris, namun kemudian diberikan kepada kaum Yahudi.
Pada 14 Mei 1948 itulah akhirnya berdiri Negara Israel. Perang demi perang pun berkecamuk. Batas-batas negara ini juga begitu absurd. Ibaratnya dari sejengkel, lama-lama Israel mencaplok tanah Palestina hingga sedepa, semeter, kilometer, dan seterusnya.
Batas ini yang masih tidak jelas hingga kini. Kabarnya, Israel meyakini bahwa batas negara mereka berada dari Sungai Eufrat di Irak hingga Sungai Nil di Mesir. Artinya, dari hari ke hari, termasuk dengan pendirian pemukiman Yahudi, tanah bangsa ini akan meluas.
Mengapa Dibenci?
Ada beberapa alasan kenapa Israel dibenci oleh berbagai negara dan lintas agama.
1. Kebijakannya yang diskriminatif.
Diskriminasi terhadap bangsa Palestina sebagai pemilik sah tanah tersebut masih berlangsung hingga kini. Diskriminasi ini bisa kita saksikan juga lewat tembok-tembok tinggi yang didirikan sebagai pembatas antara Israel dan Palestina.
Akhirnya, karena tidak mendapatkan akses, Palestina menjadi negara miskin, dan Israel terus membangun dan menjadi negara yang kuat.
2. Arogan.
Arogansi Israel bisa dilihat dari genderang perangnya kepada bangsa Palestina, bahkan Arab, dan umat manusia. Kasus penyerangan kepada kapal kemanusiaan Mavi Marmara di laut internasional menjadi bukti yang kesekian kalinya. Padahal, kapal tersebut berisi relawan kemanusiaan lintas negara dan agama yang tidak membawa senjata.
3. Menjajah.
Watak penjajahan Israel terlihat sejak pertama berdiri. Negara ini melakukan ekspansi yang terus menerus. Wilayah yang terus bertambah dan blokade atas Gaza merupakan penjajahan negara ini kepada Palestina.
Lobby Yahudi
Yahudi merupakan bangsa minoritas di dunia ini, namun guritanya menjalar di mana-mana. Berbagai sektor dikuasai oleh kelompoknya. Kebijakan luar negeri AS, sebagai contoh, tak bisa lepas dari peranan lobi di Paman Sam. Begitu juga hingga pada pemilihan orang nomor satu di AS, jika tak mendapatkan restu dari Yahudi, maka sulit seorang kandidat bisa melenggang ke Gedung Putih.
Peranan lobi ini begitu dominan dalam mengarahkan kebijakan negara-negara besar, termasuk AS, terhadap negara Israel. Sekeras apa pun AS terhadap Israel, tetaplah tak bisa berbuat banyak di hadapan lobi.
Serangan Israel ke Gaza beberapa waktu lalu, menjadi bukti kuat bahwa tekanan lobi terhadap AS begitu luar biasa. Publik dunia bertanya-tanya kenapa Presiden Barack Obama tak juga memberikan kutukan kepada Israel. Ternyata, di balik diamnya Obama, ada tekanan yang kuat dari lobi zionis di Amerika.






