Jablay? No Way!
Ilustrasi jablay
Istilah jablay diperkenalkan oleh Titi Kamal dalam filmnya yang berjudul Mendadak Dangdut. Di film tersebut jablay menjadi lagu andalan yang juga soundtrack yang di sepanjang film sering diputar. Masih menurut versi film Mendadak Dangdut, istilah jablay adalah untuk menggambarkan seorang wanita yang kurang mendapatkan kasih sayang seorang laki-laki (bisa istri yang tak pernah mendapatkan kasih sayang suami) sehingga menjadi wanita yang berbuat asusila.
Istilah tersebut memang memiliki konotasi negatif. Jablay sangat identik dengan wanita gampangan yang bisa dibayar untuk tujuan kenikmatan sesaat oleh lelaki hidung belang. Saat ini, baik secara langsung maupun tidak langsung, seorang wanita terutama yang masih labil (remaja- dewasa yang belum menikah) bisa terjerumus untuk menjadi wanita yang bisa berbuat asusila atau jablay.
Dunia seolah berputar. Dulu dianggap tabu sekarang dianggap biasa. Dulu dianggap menakutkan sekarang dianggap menyenangkan.
Jablay - Berawal dari Lingkungan Terkecil
Mengapa seorang wanita bisa terjerumus menjadi jablay? Salah satu alasannya yang juga berperan penting adalah karena kurangnya hal- hal positif yang ia terima dari keluarga. Tidak ada kehangatan, hubungan tidak harmonis, atau korban keretakan rumah tangga, beberapa hal tersebut bisa menjerumuskan wanita dari segala usia untuk menjadi wanita penyenang laki- laki hidung belang atau jablay.
Di kota- kota besar, kita akan dengan mudah menemukan wanita-wanita penghibur mulai dari yang kelas sederhana untuk profesi kecil hingga menengah, sampai wanita penghibur kelas atas untuk laki-laki hidung belang yang berkantong tebal. Dalam sebuah surat kabar suatu ketika diceritakan bahwa beberapa wanita yang kerap kali menamakan dirinya jablay tersebut terpaksa melakoni hal tidak pantas tersebut karena desakan ekonomi.
Alasan klise, tapi benar memang seperti itu. Ada lagi yang sudah tidak peduli dengan masa depannya toh keluarganya sudah hancur, kenapa tak hancur saja sekalian.
Rumahku surgaku, setidaknya ungkapan itu memang sangat benar. Ibarat sebuah pondasi keimanan, rumah adalah salah satu tempat atau markas kita memendam dan melampiaskan segala sesuatu. Ia juga merupakan pondasi yang menjadi penopang kehidupan kita. Coba, saat kita penat, apa yang kita ingat? Pulang ke rumah dan bersantai.
Saat kita dirundung masalah, apa yang ingin kita lakukan? Pulang ke rumah dan berkumpul bersama keluarga. Hal itu dengan asumsi, rumah menjadi lingkungan yang kondusif.
Namun, bila kondisinya sebaliknya, kita yang ketika itu sedang galau, tak tahu harus ke mana. Sedangkan di rumah sendiri saja, kita sepertinya sudah ditolak. Meskipun tak bisa dijadikan pembenaran, namun itulah alasan wanita-wanita yang dibenci banyak ibu-ibu karena berkontribusi merusak rumah tangganya dengan menjadi jablay.
Jablay Akibat Pengaruh Lingkungan
Hari gini masih perawan? Wah… ketinggalan zaman.
Satu dekade yang lalu, pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang tabu. Namun zaman sekarang pertanyaan di atas adalah hal biasa ditanyakan oleh remaja wanita. Mereka tak berniat untuk menjadi jablay. Semua berlalu begitu saja. Semua berjalan seperti air yang mengalir.
Mereka seperti terbius, tidur, dan ketika bangun mereka sudah berada di dunia lain. Daripada kembali ke dunia sebelumnya yang belum tentu menjanjikan kebahagiaan, mengapa tak mencoba bersenang-senang di dunia baru. Ya, begitulah kira-kira.
Di kala-kala tertentu, mereka (wanita jablay) juga menangis, sama seperti wanita-wanita pada umumnya yang akan merasa bersalah ketika melakukan dosa. Bila kita tahu lagu Titiek Puspa berjudul Kupu-Kupu Malam, kita akan mengerti perasaan mereka.
Ibaratnya, mereka mungkin akan bahagia selama sehari, namun menderita selama sebulan. Atau bahagia sebulan, namun menderita selama setahun. Di hati kecil mereka tahu, bahwa menjalani profesi sebagai jablay bukanlah hal yang menyenangkan. Bilapun menyenangkan itu hanya semu.
Pengaruh lingkungan yang buruk memang bisa membawa seseorang pada lembah kehancuran. Jangan pernah merasa menjadi manusia yang kuat, karena manusia pada dasarnya lemah dan mudah terpengaruh. Namun, jadilah manusia yang selalu berusaha untuk menjadi kuat.
Jablay - Banyak Jalan Menuju Roma
Ingin duit cepat dalam waktu singkat dan kebetulan memiliki wajah cantik? Mengapa tak memanfaatkan kecantikan tersebut untuk mengeruk uang sebanyak-banyaknya dari laki- laki tak bertanggung jawab? Toh mereka pantas untuk diperas hingga ke akar-akarnya. Begitulah kira-kira prinsip para wanita jablay.
Dalam pekerjaan yang kasat mata katanya halal, juga mungkin masih tercampur hal yang haram, jadi mengapa tak sekalian nyemplung ke hal-hal yang berwarna hitam. Cantik dan sehat, hanya itu yang diperlukan.
Maka, jangan pernah sekalipun kita berpikir tentang hal itu. Ingatlah dunia adalah perhiasan dan sebaik-baiknya perhiasan adalah wanita sholehah. Itulah salah satu riwayat dalam sebuah hadits shahih. Pada hadits lain juga diriwayatkan, ketika wanita itu keluar rumah, semua setan akan mengerubutinya untuk mempermalukan dirinya. Pun semisal kita bukan orang yang beragama, berbuat hal- hal seperti di atas, bisa berakibat fatal pada kesehatan.
Coba cari di mesin pencarian, berapa banyak wanita-wanita yang terserang HIV AIDS dan penyakit kelamin lainnya. Ketika cantik mereka memang dipuja, namun ketika sudah tak ada yang bisa dipuja, mereka dibuang begitu saja. Sungguh tragis nasib para wanita yang terjerumus ke dalam dunia jablay.
Kata mereka yang sudah terjerumus ke dalam dunia jablay, sebenarnya awalnya juga merasa berdosa dan takut terjadi sesuatu yang berhubungan dengan kesehatannya. Namun, lama- lama tidak peduli. Toh semua orang juga akan mati, entah itu yang berbuat baik atau tidak. Sikap apatis tersebut mengubah pola pikir mereka menjadi skeptis terhadap hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.
Jablay - Masih Ada Waktu untuk Kembali
Ada yang bilang katanya menjadi mantan wanita jablay daripada menjadi mantan wanita baik-baik. Meskipun bila boleh memilih tentu semua orang akan memilih suci dari lahir hingga kembali lagi ke dalam tanah. Bagaimana bila sudah telanjur menjadi wanita yang sudah dicap jablay? Seburuk apapun masa lalu kita dan sesakit apapun hati kita terhadap masa lalu, kita bisa memilih jalan mana yang akan kita tempuh untuk rute selanjutnya, jalan yang bertambah terjal atau jalan yang lurus.
Dengan keyakinan yang mantap bahwa Allah itu Maha Pengampun, maka kita tak akan pernah lagi menoleh ke hal-hal yang negatif. Termasuk menjadi seorang jablay.
Jablay - Jauhi Hal-hal Negatif
Ketika seorang wanita sudah bisa lepas dari cengkraman lingkungan yang merusak, saat itulah dunianya berubah dari nol kembali. Kondisi tersebut justru sangat rentan bila si wanita yang sebelumnya pernah berada di lembah hitam atau dunia jablay kurang kuat dalam memegang prinsip.
Bila ingin meninggalkan dunia hitam seperti dunia jablay itu, tinggalkanlah semuanya termasuk lingkungannya. Bergaul dengan penjual minyak wangi menjadi wangi, pun ketika bergaul dengan penjual kayu bakar juga akan tercium baunya. Siapapun pernah berbuat salah, yang penting adalah tidak mengulangi kesalahan.
Dan bagi yang belum pernah bergumul di dunia hitam, jangan sekali-sekali berniat untuk mencoba, walau hanya sedetik. Kita tak pernah tahu dalam keadaan yang bagaimana kita kembali ke hadapan- Nya.

