logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Hiburan    Film    Artikel Umum Film    Jadwal Film Bioskop 21

Jadwal Film Bioskop 21: Empat Film Terbaik Namun Tak Bertahan Lama

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Jika Anda hobi menonton film, mengetahui jadwal film bioskop 21 menjadi keharusan. Film-film yang ditampilkan di bioskop 21 seringkali film yang memang hits di pasaran lokal maupun internasional.

Di pasaran lokal, banyak film yang mengundang perhatian besar, tapi banyak pula yang hanya dilirik sebelah mata lalu diturunkan dari jadwal. Ada beberapa film Indonesia yang menarik perhatian dan cukup lama bertahan.

Namun, ada pula film yang sebenarnya berkualitas bagus tapi sayangnya tidak bertahan lama. Meskipun demikian, film-film berkualitas bagus tersebut justru mendapat perhatian dari berbagai festival film internasional. Berikut empat film Indonesia yang pernah tayang di bioskop 21 yang mendapat penghargaan tapi tidak bertahan lama di pasaran.

1. Fiksi

Sebagai sebuah film thriller psikologis, Fiksi sukses meraih Best Film of The Year di ajang FFI. Fiksi juga ikut serta dalam Pusan International Film Festival dan JIFFEST 2008. Ladya Cheryl yang berperan sebagai Alisha sukses membangun tokoh tersebut.

Sosok Alisha yang tenang, kalem, namun “berbahaya” mampu membuat penonton penasaran dengan segala tindak-tanduknya. Seorang Ladya Cheryl yang terlihat lemah di film Ada Apa dengan Cinta tidak akan terlihat di Fiksi.

Karakternya yang rumit karena terpengaruh masa lalunya yang kelam membuat Alisha terobsesi merebut perhatian Bari, laki-laki yang pernah bekerja sebagai pembersih kolam di rumahnya. Ladya Cheryl juga mampu memperlihatkan dua sisi Alisha; satu sisi menjadi gadis manis, di sisi lain berubah menjadi psikopat yang terobsesi mengejar Bari.

Film dengan genre seperti ini jarang sekali hadir di bioskop Indonesia. Meskipun memenangkan penghargaan dan ditayangkan di festival film internasional, sayangnya, Fiksi hanya bertahan seminggu di bioskop tanah air.

2. May

Sebuah film drama yang berlatarkan peristiwa kerusuhan Mei 1998 ini tidak diputar dalam jangka waktu yang lama di bioskop. Berkisah tentang percintaan beda suku di antara May dan Antares.

May yang diperkosa kemudian berpisah dengan ibunya dan kekasihnya, Antares, hijrah ke Malaysia. Antares yang masih mencintai May berpisah dengan gadis itu saat ia sedang membuat film dokumenter peristiwa Mei 1998.

Sementara ibu May menjual sertifikat rumah untuk selembar tiket ke Malaysia. Tahun-tahun berlalu, May kembali dipertemukan dengan ibunya dan juga Antares. Film ini meraih kategori Best Editing di FFI 2008. Peristiwa Mei 1998 yang sarat dengan permasalahan etnis ini menjadi pembangun cerita sekaligus masa lalu pahit yang dirasakan May.

3. Rumah Dara

Film horor sudah biasa di Indonesia. Namun, Rumah Dara berbeda dengan film horor lainnya. Rumah Dara yang sekaligus film thriller ini berkisah tentang pasangan suami istri Adjie dan Astrid yang pergi ke Bandung bersama tiga temannya. Adjie ingin berbaikan dengan adiknya yang bernama Ladya sebelum ia pindah ke Australia. Astrid membujuk Ladya agar ikut ke bandara. Ladya pun menurutinya.

Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Maya yang mengaku habis dirampok. Mereka membantu Maya dengan mengantarnya ke rumah. Di rumah Maya, mereka diperkenalkan dengan Dara, seorang perempuan misterius. Dari situlah bermula kisah mencekam yang membuat Adjie dan kawan-kawan berusaha melarikan diri dari rumah tersebut. Film ini ditayangkan di berbagai festival film internasional di Asia, Amerika, dan Eropa.

Shareefa Danish bahkan memenangkan penghargaan sebagai Best Actress di Puchon International Fantastic Film Festival 2009 berkat perannya sebagai Dara. Film bergenre slasher memang jarang di Indonesia. Namun, sayangnya, film seperti ini belum mendapat perhatian pasar lokal. Film horor klasik yang menampilkan setan perempuan berambut panjang atau pocong justru menarik perhatian.

4. The Photograph

The Photograph merupakan film besutan Nan Achnas. Film ini tidak bertahan lama di bioskop tapi memenangkan dua kategori penghargaan di Karlovy Vary International Film Festival yang berlangsung di Praha. Nan Achnas berhasil menjadi pemenang kedua kategori Special Jury Prize.

Kategori lain yang berhasil dimenangkan adalah Ecumenical Jury Award. Film yang mengangkat budaya Tionghoa ini dimainkan oleh Lim Kay Tong, Shanty, Lukman Sardi, dan Indy Barends.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Referensi Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini)
  • Movie: Proses Produksi Film Animasi Lilo & Stitch
  • Vivid: Film Porno dan Kekerasan Seksual
  • Mengasah Hati dengan Film Sepuluh
  • Genre Film yang Bertebaran
  • Mengungkap Misteri Sejarah Naruto
  • Berbagai Jenis Film yang Patut Ditonton
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA