Dari Jakarta Underground untuk Indonesia
Ilustrasi jakarta underground
[kwd]Jakarta Underground[kwd] adalah sebuah komunitas penggila musik cadas yang mempunyai cara pandang terhadap kehidupan yang begitu unik. Sebagian masyarakat menganggap mereka seperti orang-orang tak waras yang begitu mengagungkan kebebasan mengekspresikan pikiran mereka terutama melalui jalur musik.
Memahami kelompok Jakarta Underground
Siapa pun ingin keberadaannya diakui. Demi satu pengakuan ini, terkadang orang harus melakukan hal-hal diluar kebiasaan. Kata pepatah Arab, ‘Kalau ingin terkenal, kencingi air zam-zam’. Begitulah kira-kira yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin keberadaan mereka sampai ke telinga orang banyak.
Jakarta Underground tidak terkecuali. Mereka berusaha memasyarakatkan keberadaan mereka. Penampilan mereka yang cukup metal dengan segal atributnya membuat sebagian orang memandang mereka sebagai orang-orang yang tidak senang mengikuti peraturan hidup yang telah diturunkan oleh Tuhan. Tato yang banyak dan akrab dengan minuman keras serta kehidupan malam diidentikan kepada mereka. Walaupun sebenarnya mereka tidak melakukan tindakan seperti itu, pandangan masyarakat terlanjut terpatri di benak dan sulit untuk dihapuskan.
Komunitas Jakarta Underground yang terlihat tak terlepas dari asap rokok juga terkadang tidak mendapatkan respon yang cukup positif dari orang yang dianggap cukup terpandang dan dinilai baik bagi masyarakat. Mereka dianggap orang-orang yang senang pergaulan bebas dan tanpa ikatan norma-norma agama mana pun. Namun, bagaimana sesungguhnya kehidupan anak-anak yang tertarik dengan Jakarta Underground ini? Apakah mereka memang orang-orang yang dianggap orang kurang baik? Ataukah mereka masih mempunyai nurani dan berpikir dengan hati?
Pertemanan dalam Komunitas Jakarta Underground
Manusia pada dasarnya memang ingin bebas. Mereka ingin hidup tanpa aturan. Mereka ingin menentukan sendiri setiap sikap dan tingkah laku yang mereka inginkan. Adanya berbagai peraturan seolah menjadikan mereka bagai tawanan. Tapi itulah manusia. Selalu merasa kurang dan selalu merasa Tuhan terlalu mengekang kehidupannya.
Kehidupan orang-orang yang senang dengan komunitas musik cadas atau Jakarta Underground ini memang cukup unik. Di satu sisi mereka tak bisa memisahkan jiwa dan raganya dari kebudayaan dan kehidupan Timur yang telah tertanam dalam hati dan jiwa mereka sejak kecil. Walau bagaimana pun godaan untuk hidup bebas dengan mengusung musik cadas yang begitu cadas, mereka tetaplah anak Indonesia yang terlahir di bumi Indonesia, menghirup udara Indonesia, makan dan minum barang yang ada di Indonesia. Jadi walaupun mereka hidup bebas, di ahti mereka masih ada nilai-nilai keindonesiaan walaupun sangat kecil.
"Mereka sangat ramah dan terbuka, satu hal ditunjukkan adalah rasa percaya diri untuk berkomunikasi, tidak usah takut dengan keterbatasan bahasa, dan mereka pun akan mengerti kita."
-Robin Hutagaol, tentang sikap egaliter untuk berkomunikasi dengan siapa pun musisi baik yang berasal dari dalam atau luar negeri.
Pernyataan itu tidak terbatas hanya dari komunikasi verbal. Secara tindakan para penggemar musik cadas seperti yang diusung oleh komunitas Jakarta Underground ini memang menunjukkan kesesuaian lirik dengan pemahaman mereka terhadap kehidupan. Tidaklah mengherankan kalau orang asing pun mengakui semua itu. Hal inilah yang akan juga menajdi bagian dari persepsi orang asing terhadap Jakarata Underground. Mereka yang beranggapan bahwa Jakarta Underground hanya sekedar tempat bermusik, akan menemukan sisi lain dari yang lain. Mereka akan mengubah pandangannya.
Tentu akan lebih menarik lagi kalau ternyata para penggemar Jakarta Underground ini hidup sehat dan tidak merokok sama sekali. Bila hal ini menjadi satu berita, maka berita tersebut tentu akan banyak dibicarakan orang. Kekaguman memang tidak mengenal batas usia dan negara.
Salah Satu Acara Jakarta Underground
Suasana hari itu menjelang sore, para penonton sudah mulai ramai mengelilingi area pertunjukan. Sosok yang satu ini nampak membaur dengan massa di luar pintu masuk acara, tak lama kemudian setelah acara dimulai ia bergegas masuk, berkeliling, dan menyapa kolega lamanya.
Ia menjadi saksi acara yang bertajuk Disgorge-Live Indogrindnesia Tour 2004, sebuah eksebisi musik super ekstrem yang mendaulat Disgorge sebagai salah satu benih kelompok musik berbahaya dari komunitas metal California dan indikator percaturan death metal kontemporer internasional.
Acara ini memang berbeda dengan acara pertunjukan musik Pop atau dangdut. Ini adalah masik super cadas yang akan memekakan telinga. Bahkan mungkin penyanyinya sendiri tak paham dengan yang dia katakan. Apalagi orang lain yang benar-benar buta dengan musik yang sering mengeluarkan suara lengkingan dan teriakan nyaring ini. Padahal menurut referensi kesehatan, suara yang sangat keras dapat merusak gendang telinga dan membuat keseimbangan tubuh terganggu. Bagaimana tidak. Telinga adalah satu organ yang sangat sensitif.
Jadi para penggemar Jakarta Underground, sebaiknya mengenakan tutup telinga atau pun hanya kapas sebagai penyaring suara yang dikeluarkan oleh para pemain musik cadas seperti yang ada di Jakarta Underground. Namun demikian, seperti yang sering terlihat bahwa para penggemar Jakarta Underground tak pernah surut mendengarkan dentuman drum, dan pekikan penyanyinya. Kalau tidak benar dalam melakukan peregangan syaraf, penyanyi Jakarta Underground bisa saja mendapatkan cedera baru, lebih dari pecahnya gendnag telinga.
Robin Hutagaol dan Jakarta Underground
Dengan sepatu new rocks, celana pendek hitam, piercing, dua gelang kulit dengan duri spike, dan kaos hitam bertuliskan kelompok musik kala itu, Noxa, semakin kuatlah identitas yang dicitrakan oleh sang empunya nama Robin Hutagaol.
Metalheads! Di sela pertunjukan berlangsung, Robin yang semasa hidupnya dikenal komunitas musik tanah air khususnya Jakarta underground sebagai penabuh drum pionir trash, Sucker Head, itu nampak serius memperhatikan performa perdana dari Levi Fuselier (vokal), Ben Marlin (bas), Diego Sanchez (gitar), dan terutama Rick Meyers pada drum.
Tak tanggung ia berada di area mixing untuk membantu teknisi belakang panggung membenahi kualitas suara mereka. Ia seakan memaklumi kebutuhan kelompok musik ini di atas panggung untuk tampil prima dengan kerapatan hiper drum di track lawas seperti She lay Gutted yang dimainkan Rick, bersanding dengan kerapatan tangga nada yang disuguhkan Diego seperti dalam Consume the forsaken.
Kelompok ini tampil tanpa tedeng aling-aling, buas dan beringas, performa Ben yang dikenal ramah berubah seratus delapan puluh derajat sepadan dengan suara vokal Levi yang rendah dan menggerutu.
Ini salah satu kontribusi kecil yang dilakukan seorang penggila dan pengemar musik cadas yang hanya berusia sampai umur 35 tahun untuk mensukseskan penampilan perdana kelompok musik asal San Diego pada 2 dan 3 Mei 2004 silam.
Acara sederhana pun terbilang aman dan sukses meski hanya dihadiri sekitar 200-an penonton, buktinya, mereka melakukan lawatan untuk kedua pada tahun-tahun berikutnya dengan promotor yang sama, Deep Insight.
"Robin itu metal banget, dia pingin hidup dari musik metal, dari apa yang dia suka dan hobi. Dia pingin membuktikan kalau musik metal bukan sekadar hobi, tapi bisa menguntungkan juga dan dia berhasil di sana. Musik metal bisa menghidupi elo, bisa dijadikan pegangan hidup" kenang Joni seperti yang dituturkannya kepada Rolling Stone Indonesia, sobat kental yang telah berteman lebih dari dua puluh lima tahun dengan almarhum dan selama sepuluh tahun terakhir membuka toko metal Ishkabible di Jakarta.
Meski berumur singkat karena menjadi korban tabrak lari Januari 2009 lalu, pengabdiannya terhadap musik metal dikenang seumur hidup! Ia berjuang keras untuk menorehkan merah putih di kancah metal internasional. Cita-cita ini yang akhirnya diteruskan oleh Tonny (vokal), Nyoman (bass), Ade (gitar) dan Alvin (drums) selama durasi 40 menit dengan komposisi super cepat grind core ala Napalm Death atau Terrorizer dalam sebuah open air festival bernama Obscene Extreme Fest pada 14-16 Juli 2010 lalu di Republik Chech.
Selain Noxa yang tampil pada hari pertama, acara tahunan yang telah menampilkan 381 kelompok musik berbagai dunia kurun 1999-2009 itu menghadirkan Misery Index, Doom, D.R.I, Cripple Bastards, Avulsed, dan total 66 partisipan dengan tajuk Silence is sucks.
Itulah sekelumit tentang Jakarta Underground dengan berbagai peristiwa didalamnya.

