logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Suku    Suku Jawa

Tradisi dan Karakter Khas Suku Jawa


Ilustrasi jawa

Budaya Jadi Icon Sebuah Bangsa

Suku Jawa merupakan salah satu suku terbesar yang berdiam di negara Indonesia. Sebagai buktinya, kemana pun Anda melangkah kan kaki ke bagian pelosok penjuru negeri ini, Anda pasti akan menemukan suku-suku Jawa yang mendiami kawasan tersebut meskipun terkadang jumlahnya minorotas.

Suku Jawa hampir menyebar merata di seluruh pelosok tanah air. Tak hanya karena keragaman budaya Jawa yang cukup menjadi icon bangsa Indonesia pada tingkat budaya nasional, namun juga keramahtamahan khas suku ini juga menjadi kesan yang cukup mendalam di hati para wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia.  

Mengenal lebih dekat karakter dan sikap yang khas dari masyarakat Jawa merupakan salah satu cara cepat Anda memahami adat istiadat dan kebudayaan salah satu budaya daerah yang menjadi cikal bakal lahirnya kebudayaan nasional.

Pengetahuan Anda tentang karakter dan adat istiadat yang khas dari sebuah suku bangsa, akan memudahkan Anda bergaul dan berinteraksi dengan suku-suku tersebut, di samping juga akan meningkatkan pengetahuan Anda tentu budaya dan adat istiadat. Mempelajari budaya berarti ikut serta dalam menjaga kelestarian kebudayaan daerah tersebut.

Apa pentingnya sebuah budaya bagi bangsa? Budaya ibarat simbol yang sekilas menjadi icon pengenal sebuah bangsa. Sebut saja misalnya suku Jawa telah memberikan salah satu andil icon keramahtamahan Indonesia di mata dunia internasional, maka dunia internasional akan mengenal Indonesia secara keseluruhan sebagai sebuah negara yang ramah taman. Demikian juga budaya-budaya dari suku bangsa lain yang disumbangkan akan menjadi icon pengenal bangsa Indonesia di mata dunia internasional.

Karakter Tradisi Suku Jawa

Bagi Anda yang ingin mengenal karakter suku Jawa secara lebih dekat, berikut ini diantara karkter tersebut;

  1. Suku jawa diidentikkan dengan berbagai sikap sopan, segan, menyembunyikan perasaan alias tidak suka langsung-langsung, menjaga etika berbicara baik secara konten isi dan bahasa perkataan maupun objek yang diajak berbicara. Bahasa Jawa adalah bahasa berstrata, memiliki berbagai tingkatan yang disesuaikan dengan objek yang diajak bicara.

    Suku Jawa umumnya mereka lebih suka menyembunyikan perasaan. Menampik keinginan hati demi sebuah etika dan sopan santun sikap yang dijaga. Misalnya saat bertamu dan disuguhi hidangan. Karakter khas seorang yang bersuku Jawa adalah menunggu dipersilahkan untuk mencicipi, bahkan terkadang sikap sungkan mampu melawan kehendak atau keinginan hati.

    Jika Anda berteman dengan orang Jawa, jangan sedih bila apa yang Anda sajikan hanya dimakan sedikit atau mungkin tidak dicicipi sama sekali. Sebab itu terkadang merupakan bagian dari naluri kesukuan yang melekat pada diri rekan Anda.

  2. Soal etika, suku Jawa memang sangat menjunjung tinggi persoalan yang satu ini. Baik secara sikap maupun berbicara. Untuk berbicara, seorang yang lebih muda hendaknya menggunakan bahasa Jawa halus yang terkesan lebih sopan.

    Berbeda dengan bahasa yang digunakan untuk rekan sebaya maupun yang usianya di bawah. Demikian juga dengan sikap, orang yang lebih muda hendaknya betul-betul mampu menjaga sikap etika yang baik terhadap orang yang usianya lebih tua dari dirinya.

  3. Suku Jawa itu sendiri terdiri dari berbagai macam jenis tergantung pada lokasi daerah mereka berdiam. Biasanya secara lebih khusus lagi, setiap suku Jawa tersebut memiliki ragam kebudayaan yang lebih khas lagi, baik soal bahasa, adat kebiasaan, makanan khas dan sebagainya.

    Berkeliling ke Pulau Jawa akan membuat Anda tahu dan kaya pengetahuan tentang karakter khas tiap suku Jawa yang mendiami daerah tertentu. 

Suku Jawa - Dicintai dan Dibenci

Bicara tentang suku Jawa, akan ada banyak sekali hal positif dan negatif yang akan kita temukan dari suku yang menempati populasi terbesar di Indonesia ini. Mengingat dominasinya di Indonesia, segala hal yang positif dan negatif berkaitan dengan suku Jawa itu juga memengaruhi karakter Indonesia secara keseluruhan. Apa dan siapa sebenarnya suku Jawa itu? Tulisan ini akan mencoba sedikit membahas dan menyuguhkannya ke hadapan Anda. 

Suku Jawa adalah suku yang dominan di Indonesia. Hampir separuh etnis di Indonesia (sekitar 41,7%) adalah etnis Jawa. Mereka berasal dari pulau Jawa bagian tengah dan timur, tetapi mereka juga menyebar di berbagai daerah dan pulau lain, hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sub-suku Jawa ada di kawasan sekitar gunung Bromo yang disebut suku Tengger, dan kawasan Banyuwangi yang disebut suku Osing.

Agama dan Kepercayaan Suku Jawa

Penganut agama Islam masih mendominasi suku ini, namun jumlah penganut agama Kristen dan Katolik juga tidak bisa dikatakan kecil. Agama Buddha dan Hindu juga mendapatkan porsi di suku ini. Memang, suku Jawa merupakan suku yang terbuka, sehingga meski berasal dari suku bangsa yang sama namum cara berpikir mereka sangat beragam.

Jauh sebelum agama dari luar masuk ke Indonesia, sebenarnya masyarakat Jawa telah memiliki agama asli mereka, yang disebut Kejawen. Ajaran Kejawen sangat menekankan pada keseimbangan, dan tidak pernah terikat pada aturan yang kaku. Aliran spiritual ini sangat kaya karena melingkupi tradisi, seni, budaya, dan pandangan filosofis masyarakat Jawa.

Biasanya, dibarengi dengan "laku", yang disimbolkan dengan benda-benda yang dianggap mewakili budaya Jawa, seperti keris, bunga-bunga tertentu, tempat-tempat tertentu yang dianggap sakral, dan lain sebagainya. Maka, tak jarang, jika Kejawen sering diasosiasikan dengan klenik.

Seiring perkembangannya, Kejawen mengalami sinkretisme dengan agama-agama yang datang dari luar, sehingga muncullah golongan Islam Kejawen, Katolik Kejawen, dan sebagainya. Satu yang pasti, masyarakat Meski aliran kejawen telah mengalami sinkretisme, namun masyarakat Suku Jawa masih banyak sekali yang mempercayai hal-hal berbau klenik. Sebagai contoh adalah ketika munculnya fenomena dukun cilik Ponari dengan batu ajaibnya.

Stratifikasi Sosial Suku Jawa

Seorang antropolog Amerika yang kondang, Clifford Geertz, dalam penelitiannya pada 1960-an, membagi masyarakat Jawa menjadi santri, abangan, dan priyayi. Para penganut Islam yang taat dianggap berada di kelompok santri, sementara kaum bangsawan termasuk dalam golongan priyayi, dan penganut Islam kejawen dianggap sebagai kaum abangan.

Akan tetapi, teori ini kemudian mendapat banyak sekali kritik karena dianggap mencampuradukan kelompok sosial dengan kelompok kepercayaan. Di samping itu, pengelompokan itu juga tidak bisa digunakan untuk mengelompokkan orang yang datang dari luar Jawa.

Kesenian Suku Jawa

Kesenian masyarakat Jawa banyak dipengaruhi oleh tradisi Buddha dan Hindu. Cerita wayang sebagian besar diadaptasi dari epik Mahabarata dan Ramayana. Selain itu, karya seni masyarakat Jawa yang terkenal adalah batik, keris, dan gamelan. Gamelan adalah seperangkat alat musik tradisional Jawa yang dimainkan bersama-sama, mirip seperti orkestra.

Suku Jawa dan Jawanisme

Karakter masyarakat Jawa sangat feodalistik. Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan kondang, mendefinisikannya sebagai ketaatan membabi buta pada kekuasaan. Sisi positifnya, masyakarat Jawa masih menghormati raja mereka, dan kedudukan raja bukan sekadar simbolis di era modern ini, melainkan masih memiliki kekuasaan dan kekuatan. Hal ini memungkinkan budaya Jawa dan tradisinya masih terjaga dengan apik hingga hari ini, meski sudah mengalami banyak pengeroposan juga di sana-sini.

Sisi negatifnya, Jawanisme ini dianggap sebagai biang kerok yang membentuk mental bangsa Indonesia menjadi mental "buruh". Ia dianggap penyebab terbesar suburnya kolonialisme dan imperialisme selama berabad-abad, bahkan hingga kini. Masyakarat Jawa yang terlalu mengagung-agungkan kekuasan itu dianggap mematikan budaya kritis dengan tetap mendukung kekuasaan yang pincang, karena mereka cukup nyaman dengan menjadi "penjilat" dan mendapatkan banyak keuntungan dari situ.

Feodalisme Jawa ini juga dianggap masih terasa hingga hari ini, apalagi mengingat hampir semua presiden RI adalah orang-orang Jawa. Dan, betapa pun pincangnya pemerintahan mereka, mereka tetap mendapatkan dukungan dari sebagian besar masyarakat yang lebih suka mencari aman. Mungkin ini sesuai dengan prinsip hidup orang Jawa yang mengagungkan harmoni, dan sebisa mungkin menghindari konflik.

Tak heran jika predikat suku yang paling mendominasi di Indonesia ini, baik secara kuantitif maupun kualitatif, menjadikan suku Jawa banyak mendapat pujian, tetapi juga tak pernah sepi dari kritikan, baik yang datang dari suku bangsa lain atau dari orang Jawa sendiri.

Bahasa Suku Jawa

Mayoritas suku Jawa menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa tutur sehari-hari. Sebagiannya lagi dari suku Jawa menggunakan bahasa Indonesia bercampur bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa Jawa memiliki aturan perbedaan kosakata dan intonasi berdasarkan pada hubungan pembicara dan lawan bicara. Hal tersebut dikenal dengan istilah unggah-ungguh.

Aspek kebahasaan suku Jawa memiliki pengaruh sosial yang kuat dalan budaya suku Jawa. Hal itu membuat suku Jawa atau orang Jawa biasanya sadar terhadap status sosialnya di masyarakat. Bahasa Jawa memiliki banyak variasi atau dialek. Dialek bahasa Jawa dibagi menjadi tiga kelompok.

Kelompok pertama atau disebut kelompok barat terdiri atas bahasa Jawa dialek Cirebon, bahasa Jawa dialek Tegal, bahasa Jawa dialek Banyumas, dan bahasa Jawa dialek Bumiayu. Kelompok kedua atau dikenal dengan kelompok tengan terdiri atas bahasa Jawa dialek Pekalongan, bahasa Jawa dialek Semarang, bahasa Jwa dialek Yogyakarta, dan bahasa Jawa dialek madiun.

Selanjutnya, kelompok ketiga dalam dialek atau variasi bahasa Jawa dikenal dengan nama kelompok timur. Kelomok timur ini terdiri atas bahasa Jawa dialek Surabaya, bahasa Jawa dialek Malang, bahasa Jawa dialek Jombang, dan bahasa Jawa dialek Banyuwangi.

Ada hal menarik terkait bahasa Jawa. Menurut beberapa kalangan, salah satu bahasa daerah yang berkembang di Indonesia yang akan bertahan sangat lama adalah bahasa Jawa. Mengapa? Karena masyarakat Jawa memiliki kebanggaan yang luar biasa terhadap bahasanya. Di manapun masyarakat Jawa berada, ketika bertemu dengan sesama sukunya, mereka akan bertegur sapa menggunakan bahasa Jawa.

Profesi Suku Jawa  

Sebagian besar orang Jawa atau suku Jawa memiliki mata pencaharian sebagai petani. Akan tetapi, diperkotaan, suku Jawa mendominasi Pegawai Negeri Sipil (PNS), BUMN, anggota DPR/DPRD, pejabat eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Dalam bidang militer pun suku Jawa cukup mendominasi.

Suku Jawa atau orang Jawa pun termasuk salah satu etnis di Indonesia yangt paling banyak berkecimpung dcalam dunia artis dan model atau dunia hiburan. Selain itu, suku Jawa atau orang Jawa pun banyak yang menjadi buruh kasar baik di dalam negeri mapun di luar negeri.

Tokoh-Tokoh Nasional dari Suku Jawa

Suku Jawa telah menghasilkan tokoh-tokoh yang berpengaruh di Indonesia. Berikut ini daftar tokoh yang berasal dari suku Jawa.

  • Gadjah Mada (Mahapatih Kerajaan Mahapahit)
  • Airlangga (Pendiri Kerajaan Kahuripan)
  • Sultan Agung (Raja Mataram)
  • Jenderal Ahmad Yani (Pahlawan Nasional)
  • R. A. Kartini (Pahlawan Nasional)
  • Ki Hadjar Deantara (Pahlawan Nasional dan Bapak Pendidikan Indonesia)
  • Soekarno (Presiden Indonesia pertama)
  • Soeharto (Presiden Indonesia kedua)
  • Megawati Soekarnoputri (Presiden Indonesia kelima)
  • Susilo Bambang Yudhoyono (Presiden Indonesia keenam)
Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Eksotisme Solo
  • Adat Istiadat Suku Jawa: Kehamilan Hingga Kematian
  • Joglo, Rumah Adat Suku Jawa yang Eksotik
  • Menguak Asal-usul Suku Jawa
  • Pola Kehidupan Orang Jawa, Nerimo Ing Pandum
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA