logo anne ahira
Cari Artikel:  
Siapa Anne Ahira
Asian Brain Support

AnneAhira.com    Referensi    Profil    Tokoh    Jenderal Lb Moerdani

Jenderal LB Moerdani, Bapak Intelijen Indonesia

Oleh: AnneAhira.com Content Team

Tak banyak masyarakat di luar dunia politik yang mengenal nama Jendral LB Moerdani. Kebesaran nama Jendral LB Moerdani boleh dibilang hanya diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia militer dan politik saja. Jika boleh menyimpulkan, mungkin ketenaran nama beliau masih tenggelam di bawah kebesaran nama Presiden Soeharto kala itu.

Pada masa kejayaan Orde Baru, Jenderal LB Moerdani disebut-sebut sebagai orang terkuat kedua di Indonesia setelah Presiden Soeharto. Hal ini karena jabatan yang dipegangnya ketika itu sebagai Panglima ABRI/Pangkopkamtib (1983–1988) serta sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan (1988–1993). Selain itu, Jenderal LB Moerdani juga terkenal sebagai orang yang matang di dunia intelijen, yang memiliki tempat khusus di dunia politik Indonesia.

Sebagai Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), Jenderal LB Moerdani memiliki kekuasaan yang besar untuk melakukan tindakan-tindakan “pengamanan” terhadap siapa saja yang kritis terhadap penguasa Orde Baru.

Bahkan, pada 28 Maret 1981, saat terjadi pembajakan pesawat Garuda Indonesia penerbangan 206 oleh teroris yang berkedok jihad di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, Jenderal LB Moerdani merupakan satu-satunya jendral yang menyandang pangkat bintang yang langsung terjun dalam operasi militer penanganan pembajakan tersebut.

Di dunia intelijen Indonesia, Jendral LB Moerdani terbilang tokoh yang mumpuni dan generasi pertama di bidang telik sandi ini. Posisinya sebagai Pangkopkamtib dan tokoh intelijen ini menjadikannya disegani kawan dan ditakuti lawan.

Jenderal LB Moerdani, Jenderal yang Pendiam

Terlahir dengan nama lengkap Leonardus Benjamin Moerdani, Jenderal LB Moerdani dikenal sebagai jenderal yang tertutup, pendiam, dan jarang tersenyum. Mungkin karena lama malang melintang di dunia intelijen, yang menuntut sikap banyak bekerja dan sedikit bicara, membuat sosok Jenderal LB Moerdani bersikap demikian.

Namun di balik sikap dinginnya itu, sesungguhnya jenderal kelahiran Cepu, Jawa Tengah, 2 Oktober 1932 ini adalah orang yang berjasa dalam melakukan modernitas di tubuh ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Jenderal LB Moerdani membangun persenjataan ABRI menjadi lebih modern, menggalakkan pendidikan bagi para personel ABRI, dan banyak melakukan kerja sama dengan negara lain di bidang pertahanan.

Di bawah kepemimpinan Jenderal LB Moerdani, ABRI (sekarang TNI, Tentara Nasional Indonesia) bisa mengadakan regenerasi dan reorganisasi dengan baik. Kodam (Komando Daerah Militer) diciutkan dan Kowilhan (Komando Wilayah Pertahanan) dibubarkan. Keempat unsur di dalam tubuh ABRI (TNI-AD, TNI-AL, TNI-AU, dan Polri) mulai dipimpin oleh perwira dari generasi yang lebih muda, yang dimulai pada 1986. 

Di bidang intelijen, ayah dari Irene Ria Moerdani ini telah menjadikan lembaga intelijen berkembang secara profesional. Jenderal LB Moerdani berhasil menata organisasi intelijen di tubuh ABRI. Jenderal LB Moerdani merupakan penggagas dibentuknya Badan Intelijen Strategis (Bais) pada 1983, yang melengkapi lembaga intelijen yang telah ada sebelumnya, yakni Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) yang dibentuk pada 1969. 

Kontroversi Jenderal LB Moerdani

Di samping catatan keberhasilan di atas, dalam masa kepemimpinannya sebagai Panglima ABRI/Pangkopkamtib, Jenderal LB Moerdani juga meninggalkan beberapa peristiwa kontroversial. Peristiwa yang mungkin akan selalu dikenang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, terlebih oleh para keluarga korban.

Di antara peristiwa tersebut, yang paling menggegerkan adalah kasus “petrus” (penembakan misterius) yang pada 1985 telah menewaskan tak kurang dari 713 orang. “Petrus” bertujuan menekan angka kriminalitas dengan melakukan penghilangan nyawa terhadap para pelaku tindakan kriminal, termasuk bekas pelakunya yang diindikasikan akan melakukan perbuatan kriminal kembali.

Selain peristiwa “petrus”, pada masa kepemimpinan Jenderal LB Moerdani juga terjadi Peristiwa Tanjung Priok Berdarah. Peristiwa kerusuhan yang pecah pada 12 September 1984 ini menewaskan sekitar 400 orang akibat terkena tembakan aparat, belum termasuk yang luka-luka dan cacat permanen.

Peristiwa pembantaian santri di Tanjung Priok oleh aparat dengan senjata perang lengkap, hingga kini masih meyimpan pertanyaan, "Siapa yang bertanggung jawab?" Namun, dari berbagai kesaksian dari beberapa korban yang selamat, banyak yang menganggap bahwa Jendral LB Moerdani-lah yang bertanggung jawab.

Alasan mengapa pada kedua peristiwa di atas Jenderal LB Moerdani dianggap sebagai tokoh yang paling bertanggung jawab karena dialah penanggung jawab utama keamanan saat itu. Dia juga yang memegang seluruh informasi intelijen yang berkaitan dengan kejadian-kejadian yang berlangsung kalai itu.

Pendidikan dan Karier Jenderal LB Moerdani

Setelah tamat SD dan SMP, Jenderal LB Moerdani menjalani pendidikan SMA di Solo (lulus tahun 1950). Lalu, ia melanjutkan ke Pusat Pendidikan Perwira Angkatan Darat, Bandung (1951–1952) dan Pendidikan Perwira Komando di Amerika Serikat (1960).

Setelah menamatkan pendidikan militer, suami dari Hartini ini berturut-turut menjalani karier militer sebagai berikut.

  • Pelatih Korps Komando Angkatan Darat (1952).
  • Pelatih Sekolah Kader Infanteri, Bandung (1952–1954). 
  • Pelatih Sekolah Komando, Batujajar, Bandung (1954–1955).
  • Kepala Pelatih Sekolah Komando, Batujajar (1955–1956).
  • Komandan Kompi RPKAD (sekarang Kopassus) (1956–1957).
  • Komandan Batalyon 530/Para-Kostrad (1962–1963). 
  • Komandan Batalyon I/RPKAD (1963–1964). 
  • Perwira Operasi RPKAD (1964).
  • Perwira Staf Operasi Kostrad (1965). 
  • Asisten I Komando Tempur Kostrad (1965).
  • Liaison Officer (Perwira Penghubung), Kuala Lumpur (1967–1971). 
  • Konsul Jenderal RI di Seoul, Korea Selatan (1971–1974).   
  • Pemimpin Satuan Tugas Intelijen Kopkamtib (1974).  
  • Asisten Intelijen Hankam (1974–1983).  
  • Kepala Pusat Intelijen Strategis (kemudian menjadi Badan Intelijen Strategis - Bais (1977–1983).
  • Panglima ABRI/Panglima Kopkamtib (1983–1988).
  • Menteri Pertahanan dan Keamanan (1988–1993).

Jenderal LB Moerdani, Nyaris Gugur

Saat masih sebagai tentara pelajar, Jenderal LB Moerdani kecil nyaris gugur saat pleteonnya diserang oleh pasukan musuh dan saat melarikan diri di sekarpace. Seakan tidak bosan dengan dua kali pengalamannya nyaris gugur, saat memimpin RPKAD dan kostrad dalam Operasi Naga di Irian jaya, Jenderal LB Moerdani kembali nyaris gugur saat pasukannya disergap oleh pasukan marinir Belanda. Bukan hanya pasukannya, saat itu Jenderal LB Moerdani pun berada dalam bidikan pasukan penembak jitu alias sniper.

Meski berhasil selamat dari sergapan pasukan Belanda, sebagian pasukannya banyak yang mengalami luka-luka. Dan karena kejadian ini pula, Jenderal LB Moerdani sempat berselisih dengan Jendral Ahmad Yani terkait masa depan pasukannya yang terluka.

Tak hanya berselisih dengan Ahmad Yani, Jenderal LB Moerdani juga pernah berselisih dengan Soeharto karena komentarnya terkait bisnis anak-anak soeharto.

Jenderal LB Moerdani, Penganut Katolik yang Taat

Di samping menjalankan tugasnya sebagai seorang militer, Jenderal LB Moerdani adalah seorang penganut Katolik yang taat. Ke mana pun pergi bertugas, kakek lima orang cucu ini tak pernah lupa membawa Bibel dan rosario di kantongnya.

Ketika bertugas di Irian Jaya dan Timor Timur dan bertepatan dengan Hari Raya Natal, Jenderal LB Moerdani selalu merayakan Natal dengan umat Nasrani di sana. Perayaan yang dihadiri pemimpin tertinggi ABRI itu, cukup membangun spirit dan kepercayaan diri masyarakat Nasrani di kedua daerah konflik tersebut.

Namun, umur di tangan Tuhan. Pada 29 Agustus 2004, Jenderal LB Moerdani wafat di RSPAD Gatot Subroto karena sakit. Selamat jalan, Jenderal.

Tolong SHARE
artikel ini
Share
Share
Nama:
Email:
Komentar:
    
Catatan : Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, jangan menggunakan terlalu banyak singkatan seperti SMS. Setiap komentar memerlukan persetujuan moderator.

Anne Ahira - Asian Brain on Facebook
Artikel Terkait
  • Profil Tokoh: Penyair Besar Yunani Homer
  • A. Hassan Tokoh Islam Indonesia yang Tegas dan Produktif
  • Tokoh Sosialisme - Perjuangan Tanpa Henti Pramoedya
  • Biografi Donita: Akting Hingga Tarik Suara
  • Ibn Arabi, Tokoh Sains Spiritual
  • Seri Tokoh Dunia: Mohandas Gandhi
  • Tokoh-Tokoh Sumpah Pemuda
Share

facebook

Twitter

Linkedin


Beranda | Kontak Kami | Privacy | Artikel Sitemap | Sitemap | RSS Feeds | Bisnis Online

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA