Jenis Bahan Bakar: Geothermal
Ilustrasi jenis bahan bakar
Jenis bahan bakar geothermal adalah jenis bahan bakar terbaru dan tidak mengandung polusi. Indonesia mempunyai cadangan bahan bakar geothermal (panas bumi) yang cukup banyak, bahkan Indonesia merupakan negara dengan cadangan geothermal terbesar di dunia. Cadangan luar biasa ini juga yang membuat pemerintah mendukung secara penuh pengembangan kendaraan berbahan bakar gas. Pameran otomotif terbesar di Jakarta International Expo yang menampilkan berbagai kendaraan berbahan bakar alternatif, adalah bukti dukungan itu.
Bila Tak Ada Bahan Bakar Jenis Lain
Indonesia akan kehabisan bahan bakar jenis solar, bensin, dan lainnya yang berasal dari fosil. Negara yang katanya kaya bahan tambang ini, kini tengah ‘ngos-ngosan’ mencari jenis bahan bakar lain. Bila tidak ada bahan bakar alternatif, maka bangsa ini akan bergantung kepada bangsa lain sepenuhnya. Tentu saja hal ini bukan sesuatu yang diharapkan. Tetapi kalau tidak bisa, maka dengan terpaksa Indonesia harus melakukannya.
Tahun 2011 saja telah terjual 894.164 unit kendaraan. Jumlah itu sudah naik 19,93% dari total penjualan tahun 2010. Belum lagi penjualan pada tahun 2012 yang telah mencapai angka 714.152 unit. Angka itu diambil dari total penjualan dari bulan Januari hingga Agustus. Kenaikannya telah mencapai 23,13% dari tahun sebelumnya. Kalau tidak ada bahan bakar, mau bagaimana jutaan unit kendaraan di Indonesia ini akan beroperasi. Pertumbuhan ekonomi membaik. Orang cenderung mencari jalan mendapatkan kendaraan yang bagus, murah, dan hemat.
Guna menunjang tercapainya cita-cita bangsa ini untuk mendapatkan kendaraan yang murah – dibawah 100 juta, pemerintah mendorong para pebisnis otomotif untuk membuat kendaraan berbahan bakar listrik dan gas bumi. Mobil hibrid juga diharapkan akan mulai ada di jalanan pada tahun 2014. Pada tahun 2014 itu juga, pemerintah berharap produksi mobil dengan slogan ‘murah dan hijau’ akan mulai besar-besarnya. Semua fasilitas pendukung termasuk insentif pajaknya akan disiapkan.
Nantinya rakyat akan bisa menikmati mobil murah dan hijau ini. Yang menjadi pertanyaan adalah mobil jenis apa yang akan diproduksi? Kalau untuk model city car, mungkin masih bisa diterima oleh masyarakat kota. Namun, untuk kendaraan proyek yang ada di pertambangan dan perkebunan termasuk untuk daerah-daerah dengan medan jalan yang berat seperti di luar Pulau Jawa, keberadaan mobil berbahan bakar selain berasal dari fosil, masih harus diuji dulu ketangguhannya. Mungkin saja harapan mempunyai mobil dengan bahan bakar gas ini masih cukup lama baru bisa diwujudkan bagi seluruh rakyat Indonesia.
Meskipun begitu, usaha ini harus berjalan mulai sekarang agar keinginan Indonesia mengurangi emisi karbon kendaraan hingga 26% pada tahun 2020, bisa direalisasikan. Cukup malu bangsa ini kalau tidak bisa berpartisipasi dalam menangani pemanasan global. Padahal bangsa ini menjadi salah satu bangsa yang paling menderita akibat pemanasan global itu. Bukankah sekarang saja telah begitu terasa perubahan iklim itu? Musim kemarau yang begitu menyengat hingga mencapai 35 derajat celsius, kekeringan di mana-mana hingga angkutan sungai pun tak bisa dilakukan karena kekurangan debit air dan kapal kandas.
Selain itu, berbagai penyakit yang pernah dinyatakan telah hilang, kini seakan hadir lagi. Berbagai tantangan ini memang harus dilewati dengan baik. Keinginan mendapatkan bahan bakar alternatif pasti bisa diwujudkan. Anak bangsa ini cukup cerdas dan mempunyai kemampuan untuk itu. Angin, ombak, sinar matahari, semua tersedia dengan gratis di negeri beriklim tropis ini. Apalagi Indonesia kaya dengan gunung api. Di gunung api itu pasti ada gas alam. Yang menjadi kendala, bisakah semua itu diupayakan menjadi aset bangsa yang sangat berarti?
Kendala Eksplorasi Geothermal di Indonesia
Tidak adanya dukungan politik penuh dalam pengeksplorasian geothermal di Indonesia dianggap salah satu kendala dalam pengembangan energi hijau satu ini. Di samping itu, iklim investasi belum mendukung karena harga energi jenis ini masih kalah bersaing dengan jenis energi lain yang berasal dari fosil di mana Indonesia juga masih mempunyai cadangan yang sangat banyak terutama batu bara. Hitung-hitungan untung rugi menjadi salah satu hal yang dipikirkan semua orang. Maklum saja, eksplorasi dan pemasaran serta fasilitas menunjang lainnya harus dibangun dari awal.
Biaya eksplorasi yang mahal juga merupakan faktor utama yang membuat para investor ragu mengembangkan geothermal di tanah air. Filipina lebih serius mengembangkan energi panas bumi ini. Filipina tidak memberlakukan pajak mulai dari kegiatan eksplorasi. Filipina bahkan berani tidak menarik pajak dari kegiatan eksplorasi ini selama 6 tahun. Sedangkan Indonesia menarik pajak 43% mulai dari awal kegiatan eksplorasi.
Melihat dari satu sisi ini saja, orang bisa menilai bahwa pemerintah memang tetap memikirkan keuntungan jangka pendek. Bisa dipahami karena utang Indonesia menggunung. Untuk bisa berinvestasi, beberapa tahun memang harus menahan diri tidak mendapatkan keuntungan apa-apa atau malah merugi. Setelah beberapa tahun, baru investasi itu akan menguntungkan. Prinsip investasi memang seperti itu. Sanggupkah bangsa ini mempunyai jiwa investor sejati?
Kalau tidak sanggup, selamanya bangsa ini akan menjadi tempat pemasaran produk orang lain. Dalam dunia asuransi saja, untuk asuransi sekaligus investasi, pemegang polis belum akan mendapatkan apa-apa sebelum minimal 3 tahun. Setelah tiga tahun pun yang didapatkan baru modal dan belum keuntungan dari investasi. Setelah 5-10 tahun mungkin akan terasa keuntungan dari menjadi investor itu. Hal ini sudah dipahami oleh banyak investor dunia. Oleh karena itulah sekarang mereka terlihat berjaya dan menimang-nimang keuntungan yang telah mereka tunggu selama beberapa tahun.
Kalau pemerintah tidak berani mengambil resiko, maka investor dari dalam negeri akan angkat tangan dan negeri ini akan dikuasai oleh para investor luar negeri. Masyarakat Indonesia akhirnya hanya bisa menjadi kuli di negerinya sendiri. Menyedihkan sekali nasib anak bangsa ini. Harus ada kemampuan berbisnis dan kemampuan untuk melihat peluang investasi agar bangsa ini bisa menjadi bangsa investor pada 10 tahun yang akan datang. Prinsip kerja investor harus tertanam dalam setiap benak orang Indonesia.
Dunia menaruh harapan dan perhatian penuh terhadap kekayaan geothermal Indonesia. Pada World Geothermal Congress 2010 yang diselenggarakan di Indonesia terungkaplah bahwa Indonesia belum mampu memanfaatkan cadangan geothermalnya secara maksimal dan masih terus menggunakan energi fosil dengan biaya produksi yang mahal. Adanya kendala politik yang menyangkut banyak perusahaan asing penanam modal pada bidang energi fosil cukup mengganggu pengembangan geothermal di Indonesia.
Belum diketahui secar jelas dan gamblang mengapa pemerintah belum mau secara besar-besaran mengeksplorasi salah satu jenis bahan bakar hijau satu ini. Mungkin akan menunggu pemerintahan yang baru yang lebih merakyat dan tidak memikirkan kepentingan pribadi dan keluarganya yang akan dengan agresifnya mengembangkan setiap produk yang bsia mensejahterakan rakyat secepatnya.
Keunggulan Geothermal dan Hal Lain Yang Berkaitan
Geothermal merupakan energi terbaru yang hampir tidak berpolusi sama sekali. Karbondioksida yang dihasilkan pun juah lebih kecil dibandingakn dengan CO2 yang dihasilkan oleh batu bara (65 kali lebih kecil). Persediaan yang sangat besar maka kalau dieksplorasi dengan benar, efektif, dan efisien, energi panas bumi ini dapat memberikan keuntungan besar bagi masyarakat sekitar maupun sebagai pemasuk devisa negara. Selain itu, geothermal memberikan tenaga beban dasar konstan dan dapat dikendalikan dari jarak jauh. Bahaya yang ditimbulkan juga dapat diminimalisir.
Sumber Geothermal Indonesia
Potensi geothermal Indonesia sebesar 27.710 Mega Watt (MW) atau setara dengan 19 miliar barrel minyak bumi (tempo Interaktif). Pulau Sumatra adalah salah satu wilayah dengan potensi geothermal terbesar di Indonesia. Ada 252 tempat yang sudah diketahu mempunyai cadangan geothermal yang cukup besar. Tempat-tempat tersebut menyebar dari Sumatra, Jawa, kalimantan, Nusa tenggara, dan Maluku, dan Sulawesi.
Perusahaan Pengeksplorasi Geothermal di Indonesia
PT Pertamina adalah salah satu perusahaan yang telah dengan konsisten mengeksplorasi dan memanfaatkan energi panas bumi ini. Pertamina telah memiliki 9 wilayah kerja termasuk di Sumatra Utara dan Jambi. Pemanfaatan geothermal sebagai bahan bakar pembangkit listrik dapat menghemat biaya produksi dan membantu menyelamatkan bumi.
Tapi, tetap ada dampak negatif bila eksplorasi geothermal ini tidak memperhatikan kerusakan lingkungan saat pengeksplorasiannya. Selain itu, sumber air pada wilayah pengeboran dapat berkurang dan ancaman amblesnya tanah serta penggundulan hutan lindung. Jadi cara-cara eksplorasi yang memperhatikan lingkungan sekitar juga harus dipikirkan.

