Aku: Judul Puisi Chairil Anwar
Ilustrasi judul puisi chairil anwar
Apapun judul puisi Chairil Anwar akan selalu hidup dan dikenang oleh para penikmatnya. Bait-bait dalam setiap puisinya mampu menjelma menjadi kritik atau satire sosial yang getir, mampu menjadi cerminan dari ironisme kehidupan yang terjadi, sehingga bisa menjadi potret sejarah yang berliku, yang dialaminya tempo dulu. Nama Chairil Anwar seolah menjadi jaminan karya-karyanya sarat dengan makna, dalam penghayatan, dan nir dari alur yang subjektif—terutama ketika melakukan kritik.
Dalam artikel ini akan dibahas mengenai judul puisi Chairil Anwar: Aku! Dalam puisi yang banyak disukai dari mulai awam, kritikus sastra sampai sastrawan sendiri, Chairil menggambarkan dirinya bak binatang jalang dari komunitas yang marjinal, terpinggirkan. Ia akan terus berlari walau peluru tajam menerjang kulitnya.
Aku: Personifikasi Jiwanya
Berikut akan ditampilkan bunyi puisi Aku yang ditulis Chairil Anwar tahun 1943.
Bait pertama:
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Sulit sekali untuk menginterpretasikan bait puisi diatas. Namun kurang lebih seperti ini: jika suatu ketika Chairil sampai hendak dijemput oleh sang Maha Kuasa untuk menjemputnya, maka ia tak mau seorang pun menguatkan, bahkan merayunya untuk kuat. Ia ingin sendiri. Berdiri dalam ketangguhan asanya akan hidup seribu tahun lagi sebagaimana diungkapkan dalam bait terakhir puisinya.
Tak perlu sedan itu
Artinya: tak mesti ada yang menangisi, bersedih dan berduka lara karena perjuangan diakhiri dengan kematian merupakan bagian dari keniscayaan. Justru darah dan peluh dari perjuangan itulah yang akan menjadi sumber kebahagiaan ketika sudah meninggalkan fana ini.
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya yang terbuang
Chairil Anwar dalam bait ini bersikap “rendah diri”. Menganggap dirinya, ia tak mempuyai arti apapun. Jika pun ia mesti pergi, jangan ditangisi karena ia hanyalah “binatang jalang” sebagaimana pengakuannya. Ia menampilkan dirinya sebagai bagian dari kelompok terbuang, marjinal yang tak dipedulikan siapapun.
Luka dan bisa kubawa lari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Segala luka (fisik dan batin) bisa ia hadapi sendiri. Akan ia bawa lari, menjauh. Pergi sampai tak seorangpun menemukannya. Berdiri sendiri walau dalam (pe)sakit(an) adalah lebih berwibawa dan terhormat ketimbang mesti meminta bantuan orang lain yang belum tentu ikhlas akan perlakuannya. Jadi, biarkanlah Chairil pergi membawa luka dan bisa untuk dibawanya pergi, berlari, hingga rasa pedih yang tiada terperi dirasakan.
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Sebagai penutup dari puisinya yang memiliki makna sangat dalam, Chairil mengutarakan asanya untuk hidup tak berbatas, sampai seribu tahun. Keinginan yang sesungguhnya tak menjadi kenyataan karena toh senyatanya ia berumur pendek, 26 tahun. Umur yang sangat belia terlebih bagi manusia berbakat seperti dirinya. Manusia langka yang diturunkan Tuhan ke bumi dengan jarak dasawarsa yang sulit terjaga. Entah ada atau tidak ada lagi dalam seratus tahun ke depan.
Aku, sebagai judul puisi Chairil Anwar memang mewartakan kesedihan namun begitu terkenang di benak siapapun.

