Jurnal Geografi: Nilai Ekonomi Kawasan Karst

Karst banyak dibahas di berbagai jurnal geografi. Sebagai sumber daya alam, kawasan karst menyimpan nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan dan didayagunakan bagi masyarakat baik di dalam maupun di luar kawasan.
Ada satu hal yang harus diingat manusia, bahwa dalam pengelolaan sumber daya alam di kawasan karst harus dilakukan dengan hati-hati dan direncanakan dengan baik karena kawasan karst memiliki tingkat kerentanan yang tinggi.
Diperlukan usaha pemantauan yang terus- menerus pada pemberdayaan kawasan karst untuk mengumpulkan berbagai informasi yang berguna sebagai dasar pertimbangan pengambilan kebijakan di masa datang. Kedua usaha ini bisa berjalan berdampingan untuk memperkecil efek negatif yang ditimbulkan di kawasan karst.
Nilai Pertambangan
Sebagai bahan galian, batu gamping memiliki manfaat yang beragam, mulai dari pemurnian baja, hingga pemutih kertas. Eksploitasi batu gamping dalam skala kecil di kawasan karst hanya untuk mendapatkan bongkahan batu gamping yang digunakan untuk fondasi atau sebagai pengeras jalan, atau hanya mengambil kalsit yang kemudian dijual.
Nilai Pariwisata
Bentangan alam kawasan karst menawarkan keindahan, keunikan, dan kelangkaan yang menjadikannya bernilai jual tinggi sehingga dapat dimanfaatkan untuk sektor pariwisata. Dari sekian banyak bentukan alam yang ada di kawasan karst, gua merupakan bentukan alam yang banyak menarik perhatian.
Sebagai sebuah hasil penggerusan air pada batuan karbonat, gua memiliki tantangan tersendiri untuk dimasuki dan ditelusuri. Bagi caver (penelusur gua) atau wisatawan minat khusus, menelusuri gua belantara (virgin cave) merupak bentuk kebanggan tersendiri. Sama halnya dengan kebanggan mendaki puncak gunung dan memanjat tebing cadas.
Nilai Pengelolaan Air
Diakui, sistem hidrologi kawasan karst sangat unik dan rumit. Di kawasan ini berlaku sistem input, output, dan kemampuan daya tampung serta daya simpan lapisan batuan. Kesatuan sistem ini membentuk apa yang disebut dengan neraca air (water ballance).
Input, bisa berasal dari air hujan yang jatuh, kemudian meresap ke dalam tanah atau air hujan yang mengalir di permukaan. Input juga bisa berasal dari sungai permukaan yang berhulu di luas kawasan karst yang kemudian mengalir di kawasan karst dan masuk ke dalam tanah melalui sistem rekahan yang ada dan keluar lagi, dan begitu seterusnya.
Output, bisa berupa evapotranspirasi baik melalui sistem perakaran dan daun tumbuh-tumbuhan, melalui permukaan tanah, maupun melalui suatu akumulasi, misalnya danau atau mata air. Air yang tersimpan di bawah tanah akan dikeluarkan secara periodik pada musim kemarau.
Nilai Pertanian
Penduduk di beberapa kawasan karst menggantungkan kehidupannya pada lahan pertanian yang tidak begitu luas yang terselip di antara celah-celah perbukitan berbatu yang tandus. Tanah hasil pelapukan batu gamping yang relatif tipis dikembangkan menjadi lahan pertanian kering dan tegalan. Lahan ini ditanami ketela pohon, jagung dan padi yang menjadi makanan pokok mereka.
Lapisan tanah yang berada di lereng-lereng bukit dipertahankan supaya jangan terangkut air hujan ke daerah lain yang lebih rendah atau masuk ke dalam tanah melalui sistem percelahan yang ada. Pada lereng-lereng bukit, mereka mengembangkan sistem terassering berupa tembok yang melingkari perbukitan yang disusun dari bongkahan batu gamping.
Nilai Pertanian
Pengembangan usaha peternakan di kawasan karst perlu mempertimbangkan faktor-faktor alami misalnya jenis ternak, jenis hijauan (tanaman), dan kemampuan daya dukung kawasan itu sendiri.
Penggembalaan ternak yang jumlahnya berlebihan di kawasan karst dapat memberi pengaruh buruk bagi kawasan itu. Tumbuhan yang jumlahnya relatif sedikit itu akan dihabiskan untuk pakan. Kecepatan tumbuh tanaman yang relatif lambat tidak dapat mengimbangi jumlah yang dikonsumsi ternak.
Ternak di kawasan karst merupakan harta penduduk kawasan karst yang bersifat sementara. Pada musim kemarau panjang, ternak-ternak tersebut dijual untuk dibelikan air.






