Memahami DSM dalam Jurnal Psikologi Abnormal

Dalam Jurnal Psikologi Abnormal, kita akan menemukan pembahasan berbagai perilaku abnormal manusia. Psikologi abnormal merupakan cabang dari psikologi yang mempelajari pola perilaku, emosi, dan pikiran yang tidak normal sehingga disebut sebagai gangguan mental. Maka tidak heran bila jurnal psikologi abnormal selalu membahas gangguan mental pada manusia.
Dikelompokkan dalam DSM
Untuk mengenali perilaku abnormal tersebut, psikolog menggunakan acuan DSM (Diagnostic and statistical manual of mental disorder). DSM dikeluarkan oleh American Psychiatric Association (APA). DSM pertama kali diperkenalkan pada 1952 yang merupakan pengembangan dari model klasifikasi Emil Kraepelin. Versi terbaru DSM keluar pada 2000 yaitu DSM IV-TR (Text Revision). DSM V saat ini sedang dalam penyusunan. Beberapa dalam proses penyusunan.
Indonesia menggunakan DSM II untuk menentukan gangguan jiwa seseorang. DSM II diadaptasi menjadi PPDGJ (Pedoman Penggolongan dan Diganosis Gangguan Jiwa). Saat ini PPDGJ sudah berkembang menjadi PPDGJ-III sejak 1993. Namun karena ilmu psikologi di Indonesia banyak menggunakan jurnal psikologi abnormal dan buku-buku acuan dari barat, kita perlu memahami DSM agar dapat memahami jurnal psikologi Abnormal.
DSM akan memberikan gambaran perilaku abnormal beserta ciri-cirinya, namun tidak menjelaskan apa dan bagaimana penyebabnya. Misalnya gangguan cemas. Ciri-ciri orang yang cemas digambarkan dalam DSM.
Selain itu, DSM juga memakai kriteria yang khusus, menggambarkan ciri-ciri essensial atau kriteria yang harus ada, juga ciri-ciri asosiatif, ciri-ciri yang sering diduga sebagai gangguan namun bukan merupakan ciri essensial. Misalnya perbedaan takut dan cemas. Keduanya merupakan gangguan yang berbeda namun seringkali dianggap sama.
Dalam DSM Perilaku-perilaku abnormal yang memiliki ciri-ciri klinis serupa digolongkan ke dalam satu kelompok. Proses diagnostik menggunakan lima dimensi yang disebut axis guna memastikan gejala dan keberfungsian individu secara menyeluruh. Axis ini serupa dengan tingkat keparahan pada penyakit seperti kanker stadium 1, stadium 2 dan seterusnya.
Tidak Ada Istilah Gila
Orang awam sering menyebut keadaan abnormal dengan sebutan gila. Istilah gila seolah paling mudah untuk menggambarkan keadaan mental seseorang padal tidak tepat. Maka dari itu di jurnal psikologi abnormal, Anda tidak akan menemukan kata gila tersebut. Keabnormalan akan dianalisa berdasarkan DSM.
Revisi-revisi DSM akan terus dilakukan sesuai dengan perkembangan keabnormalan yang ditemukan dalam masyarakat. Bisa saja gangguan mental yang dulunya dikategorikan abnormal menjadi normal. Salah satunya adalah homoseksual.
Dalam DSM IV, homoseksual bukan merupakan gangguan psikologis jika tidak menimbulkan gangguan internal pada orang yang mempunyai orientasi seks sejenis tersebut.






