Jurnal Psikologi Pendidikan Seks Remaja
Pernahkah Anda membaca sebuah jurnal psikologi pendidikan? Biasanya, sebuah jurnal psikologi pendidikan selalu menekankan pembacanya tentang arti penting psikologi pendidikan bagi dunia pendidikan. Berlebihankah? Tentu saja tidak karena memang demikianlah kenyataannya.
Psikologi pendidikan dapat diartikan sebagai salah satu cabang psikologi yang secara khusus mengkaji perilaku individu dalam konteks situasi pendidikan. Tujuan psikologi pendidikan adalah untuk menemukan berbagai fakta, generalisasi, dan teori-teori psikologi berkaitan dengan pendidikan, yang diperoleh melalui metode ilmiah tertentu, dalam rangka pencapaian efektivitas proses pendidikan.
Memang, keberadaan pendidikan tidak bisa dipisahkan saja dngan psikologi. Bagaimana pun, sumbangsih psikologi terhadap dunia pendidikan sangatlah besar. Kegiatan pendidikan, khususnya pada pendidikan formal, seperti pengembangan kurikulum, Proses Belajar Mengajar, sistem evaluasi, dan layanan Bimbingan dan Konseling merupakan beberapa kegiatan utama dalam pendidikan yang di dalamnya tidak bisa dilepaskan dari psikologi.
Tak hanya pendidikan formal saja yang memiliki kaitan erat dengan dunia psikologi. Pendidikan lain semacam pemahaman tentang seks dari kalangan remaja pun memiliki keterikatan dengan psikologi. Untuk itu, jurnal psikologi pendidikan seks remaja tampaknya memang sudah diperlukan.
Berbicara masalah pendidikan seks atau psikologi seks selalu menarik untuk dibicarakan kerana masalah seks adalah hal yang penting dalam kehidupan makhluk hidup. Seks adalah cara makhluk hidup untuk mempertahankan keturunannya dan beregenerasi.
Psikologi pendidikan seks pada anak seharusnya sudah ditanamkan sejak dini bahkan ketika di dalam kandungan, agar kelak mereka sadar akan gendernya sebagai makhluk sosial yang harus memposisikan diri secara benar sesuai dengan jenis kelaminnya. Karena banyak contoh kasus yang terjadi di masyarakat, seperti penyimpangan seksual, seperti homoseks atau lesbian.
Meskipun psikologi barat saat ini sudah menganggap homoseks dan lesbi tidak termasuk penyimpangan seks, tapi itu hanya masalah selera saja. Kita sebagai orang timur tentu tidak bisa menerimanya begitu saja. Orang Timur tentu saja menganggap bahwa itu adalah sebuah penyimpangan.
Penyimpangan seks 90% disebabkan oleh lingkungan dan hanya 10% saja yang sifatnya turunan. Itu pun hanya didasarkan pada teori pembelaan bahwa ada yang mengatakan gay itu adalah genetika. Saya sangat tidak sepakat dengan pernyataan semacam itu karena bagaimana pun perilaku seksual dibentuk oleh lingkungan.
Pentingnya pendidikan seks remaja, memang masih dianggap tabu oleh sebagian orang tua Indonesia. Bicara soal seks dengan orang tua dianggap tidak sopan dan tidak baik.Padahal, pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis.
Pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan. Kurangnya informasi tentang masalah seksual yang dimiliki seorang remaja yang hormon seksnya sedang tumbuh, akan mendorongnya untuk mencari tahu sendiri akan perubahan fisik yang terjadi dalam dirinya. Tentu saja hal ini tidak baik untuk perekembangan psikis remaja.
Selain itu, coba Anda bayangkan jika sampai seorang remaja yang membutuhkan informasi masalah seksual tersebut sampai mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali? Sebagai orangtua, tentunya Anda tidak ingin iti terjadi pada anak-anak Anda, bukan?
Fakta membuktikan bahwa sebagian remaja Indonesia mengetahui dampak perilaku seks akibat dari perlakuan mereka sendiri yang mencari tahu kebenaran dengan otodidak, atau bertanya kepada teman yang sama-sama naif mengenai hal ini.
Memasuki abad baru yang sudah dirasuki budaya barat yang merangsek di segala sektor ini, orang tua harus lebih peka terhadap perkembangan psikis anaknya yang sudah menginjak usia remaja dalam menghadapi lingkungan sosial yang sudah serba bebas ini.
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin kacau ini, di mana budaya barat yang bebas sudah mengasimilasi budaya timur yang tertutup, sudah saatnya pemberian pengetahuan tentang seks pada remaja ditingkatkan.
Pandangan tabu atau tidak sopan bicara seks dengan orang tua, harus dikikis habis karena kita bukan hidup pada zaman dahulu, yang segala sesuatu serba tertutup. Melainkan hidup pada era posmo yang semua serba terbuka dan mudah untuk mengakses apa pun.
Remaja sekarang sangat berbeda dengan remaja dahulu yang cenderung lebih berani dan terbuka untuk bicara soal seks dengan temannya bahkan melakukannya. Oleh karena itu, banyak terjadi penyimpangan dalam kehidupan remaja kita tanpa kita tahu.
Misalnya, banyak remaja SMA yang melakukan aborsi, bahkan menurut survei, 80% remaja kota-kota besar sudah melakukan hubungan seks. Tidak hanya anak perempuan saja yang harus kita perhatikan. Justru anak laki-laki pun harus lebih diperhatikan karena libido remaja laki-laki cenderung lebih menggebu-gebu daripada remaja perempuan.
Anak perempuan yang sudah melakukan hubungan seks cenderung lebih bisa terditeksi oleh orang tua apalagi kalau dia sampai hamil. Tetapi tidak dengan anak laki-laki. Berapa kali pun dia melakukan hubungan seks, ia akan baik-baik saja.
Nah, yang perlu dicermati dari perkembangan seks remaja laki-laki adalah gejala homoseksual atau hemaprodit karena anak-anak sekarang sudah tidak tabu lagi bicara soal homoseks dengan sesama temannya. Bahkan ada yang sudah mengakui sejak SMP bahwa dirinya adalah seorang Gay. Bukankah ini perkembangan seks yang mengerikan bagi bangsa kita?
Pertama-tama, pendidikan seks yang harus diberikan kepada remaja adalah mengenali karakter jenis kelamin mereka sendiri. Misalnya, anak laki-laki yang menginjak usia remaja akan mengalami perubahan sekunder dalam dirinya. Misalnya, tumbuh rambut kemaluan, mengalami mimpi basah, mudah mengalami ereksi, suara menjadi besar, kulit menjadi kasar, otot menjadi kuat, dan perubahan lainnya.
Sedangkan perubahan sekunder yang dialami anak perempuan misalnya, pinggul menjadi lebar, payudara membesar, mulai tumbuh rambut kemaluan, mulai mengalami haid dan perubahan lainnya. Dalam hal ini, orang tua harus bijaksana dalam bersikap dan memberitahu tentang perubahan seks yang dialami remaja.
Seiring perubahan sekunder pada diri remaja, tumbuh juga dorongan-dorongan seksual yang harus mereka salurkan. Ini adalah suatu hal yang wajar dan alamiah. Namun, tetap saja harus dalam koridor yang benar. Kita sebagai orang tua harus membimbing anak-anak kita di jalan yang tepat.
Sakah satu cara yang paling efektif untuk mengetahui hal-hal yang terjadi di lingkungan anak-anak adakah dengan membuka komunikasi dengan mereka. Buatlah Anak merasa nyaman ketika mengomunikasikan suatu masalah yang dihadapinya kepada Anda, terlebih jika itu menyangkut pemahaman seksualnya.
Jika anak masih enggan membuka komunikasi terkait masalah seksual yang dihadapinya, gunakanlah cara lain. Seminar dan jurnal psikologi pendidikan seks sudah banyak tersebar di mana-mana. Kita sebagai orang tua harus lebih cerdas daripada anak kita dengan mengetahui informasi tentang gejala seksual yang terjadi di lingkungan mereka. Salah satunya di belajarpsikologi.com, situs internet yang menyediakan artikel dan juga jurnal ilmiah tentang pendidikan psikologi.
Sudah saatnya orang tua mengenali gejala perubahan yang terjadi pada remaja. Lingkungan sosial yang buruk seperti sekarang ini dan budaya barat yang vulgar dalam segala sangat berpengaruh besar terhadap perkembangan jiwa anak Anda. Jadilah orang tua yang bijaksana dan cerdas.






