Memahami Jurnalisme Damai

Jurnalisme damai mungkin sudah tidak asing lagi bagi para jurnalis. Bagi dunia pers, istilah bad news is good news bukan barang asing lagi. Ya, berita buruk adalah berita baik untuk diproduksi ke layar kaca, media cetak, dan internet.
Ketika konflik meletup, buruk untuk pihak bertikai, namun justru “baik” dari segi berita. Nilai berita yang terkandung dalam suatu konflik, perseteruan, dan permusuhan memancing perhatian publik (masyarakat) untuk menyimak dengan saksama.
Jangan heran, justru dari berita semacam ini rating besar didapatkan. Bisa jadi hal ini yang melatarbelakangi mengapa tayangan gosip, isu, atau skandal menjadi favorit pemirsa. Karena tayangan semacam ini selalu menyuguhkan berita sensasional, kontroversial, dan diulas agak di luar kewajaran (bombastis).
Prinsip Jurnalisme Damai
Jurnalisme damai adalah kebalikan dari jurnalisme konflik yang diuraikan di atas. Jurnalisme damai tidak selalu bersandar kepada data (fakta) dan kata (hasil wawancara), namun juga tanggung jawab manakala berita itu dimuat dan dibaca oleh publik.
Jurnalisme publik bukan saja harus bersifat cover both sides (dua arah) tapi juga all both sides (semua arah). Prinsip cek ricek dan investigasi mendalam (deep interview) wajib dilakukan untuk menjaga keakuratan sekaligus memahami akar konflik atau masalah yang terjadi.
Jurnalisme damai bukan menghasilkan berita siapa menang atau kalah (win lose sollution) melainkan solusi atas konflik yang terjadi (win win sollution). Solusi ini penting agar menjernihkan semua pihak yang bertikai dalam konflik tersebut. Sehingga dapat mendinginkan suasana, bukan kembali memanaskan suasana.
Jurnalisme damai cocok diterapkan dalam situasi konflik yang seringkali rumit dan kompleks. Jurnalisme damai mengusung misi menjernihkan masalah. Memperkeruh masalah lewat memojokkan satu pihak dan memenangkan pihak lainnya haram dilakukan. Jurnalisme damai berangkat dari pemikiran bahwa pemberitaan suatu konflik harus dapat meredam konflik-konflik susulan.
Jurnalisme damai bekerja dengan standar kehati-hatian yang tinggi dengan menelusuri sebab akibat (kausalitas), bukan konfilk murni saja (akibat). Lewat cara-cara ini bisa timbul pemberitaan yang fair, proporsional, dan objektif.
Menerapkan Jurnalisme Damai
Bumi pertiwi kita kerap kali diguncang prahara lewat konflik-konflik antarsuku, kelompok, organisasi, agama, dan sebagainya. Apa yang harus dilakukan media?
Tentunya tidak elok bila terus-menerus menjadi penyulut api konflik. Lalu, apa yang harus dilakukan setelah konflik ini terjadi?
Tidak melulu terus-menerus mengulang berita yang memancing kemarahan kelompok yang sedang bertikai. Jurnalisme damai harus diadaptasi dalam praktik kerja jurnalisme di Indonesia. Konflik yang berkembang luas (apalagi sensitif) mesti dipandang secara bijak. Bukan saja membeberkan masalah, namun juga mencari hikmah.






