logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Komunikasi

Mengapa Jurnalisme Lingkungan Penting?


Ilustrasi jurnalisme lingkungan

Sebelum membahas jurnalisme lingkungan, ada baiknya kita perhatikan kondisi lingkungan kita saat ini. Cuaca ekstrem, banjir, tsunami, dan seterusnya merupakan dampak dari pemanasan global.

Peduli Lingkungan yang Kurang

Bila Anda sempat menonton film Incovenient Truth kreasi Al Gore, keganasan efek pemanasan global memang benar-benar dahsyat. Es di kutub utara dan selatan meleleh, es di gunung-gunung dunia mendadak lenyap, juga naiknya permukaan air laut. Ini semua membuat bulu kuduk kita merinding karena disebut-sebut peradaban manusia akan segera sirna akibat dahsyatnya efek pemanasan global.

Zaman semakin berkembang, terutama di dunia industri teknologi. Populasi manusia pun semakin bertambah, sehingga kebutuhan sandang, pangan, dan papan bertambah pula.

Kebutuhan tersebut didapatkan dari sumber daya alam, seperti tumbuh-tumbuhan, hasil tambang, lahan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, persediaan sumber daya alam tersebut semakin hari semakin menipis. Manusia terus mengambil sumber daya alam tersebut. Tentu saja, lama-lama akan berkurang apabila tidak dikembangkan lagi.

Itulah, mengapa penebangan hutan di mana-mana sedang marak terjadi. Populasi manusia yang semakin meningkat menyebabkan lahan-lahan pertanian digunakan sebagai tempat tinggal. Industri yang semakin banyak juga semakin mengurangi lahan-lahan pertanian.

Fenomena tersebut sudah berlangsung sejak dulu. Lahan pertanian dan hutan-hutan semakin berkurang karena dipakai untuk tempat tinggal dan untuk pembangunan industri-industri.

Akibatnya, sumber daya alam semakin berkurang, terutama pepohonan. Daerah pegunungan saja sekarang sudah mulai diambil sumber daya alamnya. Pepohonannya di tebang dan tanahnya diambil sebagai bahan pembuatan bangunan-bangunan, sehingga banyak gunung yang sudah tidak ada karena hal tersebut.

Ironis sekali bukan? Bukan itu saja, sumber daya alam yang seharusnya dijaga dan dilestarikan malah dibabat habis tanpa ada pelestarian kembali. Alam menjadi rusak. Kebutuhan akan sumber daya alam semakin berkurang.

Pepohonan ditebang karena manusia semakin membutuhkan kayu untuk kehidupannya. Membangun rumah, perabotan rumah tangga, kertas, dan barang-barang lainnya yang berasal dari kayu semakin dibutuhkan.

Program go green yang diusung beberapa tahun ini tidak terlalu dipedulikan. Penanaman seribu pohon untuk mengurangi global warming juga tidak terlalu mendapatkan respon dari masyarakat.

Padahal program tersebut sangat bagus, tapi karena tidak didukung penuh oleh masyarakatnya dan fasilitasnya kurang, maka program tersebut hanya sebagai bahan perbincangan saja. Hanya ada slogan-slogan yang dipampang di depan umum.

Program tersebut digembor-gemborkan, tapi penebangan pohon pun semakin banyak. Penggundulan hutan dan gunung terus meningkat, sedangkan penanaman kembali pohonnya tidak dilakukan.

Gunung yang gundul dibiarkan begitu saja, sehingga menjadi gersang dan tanahnya tandus dan global warming semakin meningkat. Pohon sebagai sumber yang dapat mengurangi global warming malah habis ditebang. Rumah-rumah kaca semakin banyak. Jadi, jangan heran jika keadaan bumi ini semakin hari semakin panas.

Kemajuan teknologi dan perkembangan zaman memang sangat mempengaruhi keadaan sumber daya alam di Indonesia. Indonesia yang terkenal sebagai negara agraris sudah mulai luntur karena lahan pertaniannya semakin sempit.

Salah satu akibat dari penebangan hutan secara liar adalah banjir dan untuk mencegah banjir, tindakan penebangan hutan secara liar harus dihindari. Jika penebangan liar tersebut dibiarkan, bukan tidak mungkin banjir akan terus terjadi dan akan membawa korban lebih banyak lagi.

Ketika bencana banjir datang, maka yang akan menanggung resikonya adalah manusia sendiri. Justru orang yang melakukan penebangan liar itu selamat, sementara yang kena banjirnya adalah manusia lain yang tidak tahu menahu akan penebangan liar yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab terhadap pelestarian hutan.

Hal tersebut memang harus segera diatasi, bagaimana pun bentuknya. Tidak hanya insan manusia saja yang kalangkabut. Ternyata insan pers (media) pun memahami gentingnya situasi ini.

Media mempunyai tanggung jawab besar sesuai fungsinya, edukatif, informatif, dan hiburan. Saluran media yang terbukti mampu memengaruhi perilaku manusia membuatnya menjadi ruang yang tepat untuk mengkampanyekan aktivitas ramah lingkungan.

Pencerahan

Di zaman sekarang, media itu terangkai dalam berbagai macam bentuk produk jurnalistik. Macam-macam media tersebut adalah media cetak, media elektronik, dan media internet. Surat kabar, tabloid, dan buletin terangkai dalam bentuk produk jurnalistik yang dinamakan dengan media cetak.

Sementara itu, untuk media elektronik ada stasiun televisi dan radio, dan yang terakhir tentu saja media internet yang sekarang sedang berkembang dengan hadirnya portal-portal berita berbentuk website. 

Media informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat, semakin bertambahnya kemajuan teknonologi informasi, maka semakin canggih pula media yang dapat menunjang informasi tersebut, sehingga para jurnalistik pun semakin bersaing untuk mendapatkan informasi.

Tetapi, apa yang paling penting adalah tampilan pemberitaan yang akan dipaparkan dalam produk-produk jurnalistik. Setiap tulisan yang dibuat haruslah selalu mengandung konsep dasar jurnalistik yaitu, 5W+1H, yaitu what, who, where, when, why dan how. Semua terapan tersebut wajib digunakan oleh para wartawan dalam setiap penyajian beritanya, bahkan masyarakat yang ingin menyampaikannya dalam bentuk citizen journalism.

Hal tersebut membuat seorang jurnalistik dituntut untuk memberikan berita atau informasi yang menarik bagi para penikmat media tersebut. Informasi yang diberikan oleh produk-produk jurnalistik tersebut memiliki beberapa hal yang menjadi dasar.

Salah satunya adalah informasi yang diberikan bersifat memerlukan perhatian dari masyarakat, seperti keadaan lingkungan yang sedang terjadi. Sebagai contoh, kita tentunya sering kali melihat adanya berita di berbagai media, seperti bencana alam.

Mengingat pentingnya informasi mengenai kondisi lingkungan ini, di dunia jurnalisme muncul semacam genre baru yang mengulas informasi dengan pandangan (view) lingkungan.

Berita-berita yang ditulis dikaitkan dengan aspek lingkungan yang mungkin terjadi. Lingkupnya tidak terbatas pada berita lingkungan hidup saja, tetapi juga politik, hukum, budaya, hingga sosial yang mempunyai kaitan erat dengan aspek lingkungan.

Jurnalisme lingkungan menitikberatkan pada persoalan lingkungan, seperti banjir, erosi tanah, sampah, dan seterusnya. Meski bersinggungan intensif dengan masyarakat, namun faktanya hal itu masih saja sering abai dilakukan.

Jurnalisme lingkungan hadir untuk memberi pencerahan, informasi sekaligus edukasi mengenai tata cara perbaikan kondisi lingkungan. Lingkungan yang kian rusak butuh banyak pendorong untuk memperbaikinya.

Jurnalisme lingkungan berfungsi untuk melakukan proses persuasif (mengajak) dan inspiratif dalam memperbaiki kondisi lingkungan hidup. Namun demikian, istilah-istilah yang bersifat ilmiah seringkali menyulitkan pembaca untuk menangkap maksud jurnalisme lingkungan ini. Seperti contoh, kata banjir rob (air laut ke daratan) atau deforestasi (penggundulan hutan).

Kendala Jurnalisme Lingkungan

Jurnalisme lingkungan tidak lantas gampang dilakukan untuk dapat menyuguhkan berita yang menarik dan bertema lingkungan. Setidaknya, kendala yang menghambat jurnalisme lingkungan adalah sebagai berikut.

1. Ruang berita yang kurang memadai.

Berita-berita mengenai lingkungan acapkali ditampilkan di halaman belakang atau paling banter tengah halaman. Jadi, headline ketika terjadi bencana besar, contohnya tsunami, gempa bumi, gunung meletus, dan lain-lain.

2. Nilai berita yang sedikit.

Bagi kalangan pers yang memegang teguh bad news is good news, lingkungan hidup tidak memenuhi kriteria tersebut. Jangankan dibuatkan kolom atau rubrik khusus, menampilkan beritanya secara berkala pun masih seringkali sulit.

3. Butuh pengetahuan yang memadai.

Jurnalis atau pewarta tentang lingkungan hidup bukan saja membutuhkan data dan fakta, melainkan juga pengetahuan yang komprehensif mengenai lingkungan hidup. Ketika syarat ini tidak dipenuhi, boleh dipastikan bahwa pemberitaannya hanya akan menyentuh lapis luar, belum menyentuh inti berita (substansi).

Informasi dari kegiatan-kegiatan jurnalistik tersebut mempunyai kandungan yang dapat mengubah sikap, pendapat, serta membujuk masyarakat untuk menanggapi informasi tersebut, terutama masalah lingkungan.

Kategori pemberitaan yang diberikan dari beberapa produk jurnalistik yang tersaji saat ini selain mengambarkan berita, bisa juga menampilkan komentar atau ulasan. Komentar atau ulasan di media cetak biasanya terjadi pada rubrik-rubrik opini.

Sementara itu, dalam media elektronik, seperti televisi atau radio disampaikan dalam bentuk sesi tanya jawab yang ditampilkan secara visual, dan dalam media internet, melalui sebuah rubrik yang dikenal dengan citizen journalism, di mana masyarakat yang bukan jurnalis atau wartawan pun bisa memberikan berita mereka sendiri.

Jadi, untuk menjadi seorang jurnalistik yang handal dan profesional, harus dibekali ilmu yang berhubungan dengan dunia jurnalistik, seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Kemajuan sebuah perusahaan media informasi, tergantung pada informasi yang diberikan perusahaan tersebut. Apakah informasi yang diberikan menarik banyak perhatian para konsumen atau tidak.

Informasi yang diberikan pun harus dapat dipertanggungjawabkan oleh seorang jurnalistik. Tidak boleh asal-asalan karena kalau itu terjadi dan ada yang tersinggung, maka akan menjadi masalah bagi perusahaan media tersebut. Jadi, dalam menampilkan jurnalisme lingkungan harus memberikan pengaruh yang positif sebagai bentuk peduli lingkungan.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Wawancara, Mutlak Tugas Wartawan
  • Komunikasi Antarpribadi - Konsep Cermin Diri - ANNEAHIRA.COM
  • Pengertian Humas dan Perannya dalam Kehidupan Kita
  • Menyelami Definisi Ilmu Komunikasi
  • Sejarah Humas yang Terlupakan
  • Perkembangan Jurnalistik Olahraga
  • Apa Itu Komunikasi Pembangunan? - ANNEAHIRA.COM
  • Komunikasi Teraupetik - Teknik Komunikasi untuk Penyembuhan
  • Mengenal Negara-Negara Anggota ASEAN
  • Komunikasi Bisnis adalah Cara Efektif dalam Berbisnis
  • Berita Baru, Berita Aktual, dan Nilai Berita
  • Tentang Jurnalistik dan Publisistik, Dua Saudara tak Bisa Akur
  • Peranan Duta Muda ASEAN dalam Mempromosikan Indonesia
  • Berita Update di Seputar Indonesia RCTI
  • Fungsi, Tujuan, dan Pengertian Public Relations Menurut Para Ahli
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA