logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Puisi    Kahlil Gibran

Perlukah Memahami Puisi Kahlil Gibran Tentang Cinta?



Ilustrasi kahlil gibran tentang cinta 

Puisi "Cinta" Kahlil Gibran menyimpan makna mendalam yang membahas 'Cinta' dalam kaca mata seorang Gibran. Cinta yang digambarkan dengan kompleksitas kehidupan. Ada yang mudah dipahami, ada juga yang harus mengernyitkan alis baru bisa dimengerti. Banyak orang yang berusaha mengartikan puisi Kahlil Gibran tentang cinta tersebut, dengan sudut pandang yang berbeda pula. Meskipun demikian, tetap saja aura mistis setiap diksi atau kata yang dipilih oleh Gibran, sulit diartikan secara gamblang oleh para penggemar puisinya. Apalagi ketika diksi itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Salah-salah malah membuat puisi baru dan bukan terjemahan puisi yang sesungguhnya.

Cinta Oh Cinta (Bisakah Puisi Diterjemahkan?)

Ada yang berpendapat bahwa tidak semua hal bisa diterjemahkan. Puisi adalah salah satu hal itu. Akan sangat sulit menterjemahkan satu puisi ke dalam bahasa yang lain. Pengertiannya bisa sangat berbeda ketika diksi yang dilatarbelakangi oleh budaya yang berbeda itu dialihbahasakan. Seolah malah membuat puisi baru. Kenyataan ini membuat banyak orang lebih baik membaca puisi dalam bahasa aslinya daripada membaca terjemahannya. Mungkin beda dengan puisi karangan Kahlil Gibran.

Puisi-puisi sang maestro seakan bisa dipahami dalam bahasa apapun. Walaupun tidak jarang susah mengambil pemaknaan yang pas dengan bahasa yang sederhana, puisi karang Kahlil Gibran tetap sangat menarik untuk diamati. Ini disebabkan oleh bahasa metafora atau perumpamaan yang dipakai Gibran terkadang terlalu tinggi dan butuh perenungan untuk menjabarkannya secara tepat. Seperti dalam puisi Kahlil Gibran tentang Cinta berikut ini. 

Bila bekerja, engkau ibarat sepucuk seruling

Lewat jantungnya bisikan waktu menjelma lagu

Dan apakah dengan rasa cinta itu?

Laksana menenun kain dengan benang

Yang yang ditarik dari jantungmu

Seolah-olah kekasihmulah

Yang akan mengenakannya

Puisi yang terdapat dalam Sang Nabi itu menggambarkan bahwa bekerja itu harus dengan cinta. Tanpa cinta, satu pekerjaan tidak akan menjelma menjadi sesuatu yang baik dan bermanfaat. Petikan puisi itu sering kali dipetik sebagai awal pembahasan satu penggal pekerjaan yang harus dilakukan dengan senang hati. Puisi itu seolah sejalan dengan kisah seorang tukang kayu yang ingin pensiun. Mandornya yang sudah mempekerjakan tukang kayu itu sejak bertahun-tahun tentu saja sangat sedih karena akan ditinggalkan oleh seorang yang begitu ahli seperti sang tukang kayu.

Sebelum si tukang kayu pergi, sang mandor memohon agar si tukang kayu membuat sebuah rumah lagi. Karena sudah merasa tua dan akan pensiun, sang tukang kayu tidak lagi bekerja dengan hatinya. Ia tidak lagi semangat sehingga hasil pekerjaannya pun tidak maksimal. Apa yang ditemuinya diakhiri pembuatan rumah itu adalah penyesalan. Ia menyesal tidak melakukan tugas terakhirnya dengan baik karena sesungguhnya rumah terakhir yang dibangunnya itu adalah rumah hadiah dari mandornya.

Bekerja dengan hati itu harus dilakukan setiap kali melakukan pekerjaan. Tidak boleh setengah-setengah. Tidak ada jaminan bahwa pekerjaan itu akan datang lagi. Berikan segenap curahan cinta sehingga pekerjaan itu akan berakhir indah. Kalaupun itu adalah pekerjaan yang terakhir, biarlah penutup hasil kerja itu merupakan sesuatu yang terbaik. Khalil Gibran selalu ingin melakukan yang terbaik sehingga ia selalu membuat setiap puisinya dengan hatinya. Apa yang tercurah dari hati akan kembali ke hati. Ruh pekerjaan itu akan terlihat jelas dan terasakan dengan jelas pula.

Kahlil Gibran Tentang Cinta

Puisi Kahlil Gibran tentang cinta tidak boleh diartikan secara sempit sebagai hanya sebuah perasaan yang melingkupi dua manusia berlainan jenis yang sedang kasmaran. Cinta bagi Gibran lebih tinggi dari puncak sebuah gunung hingga ia harus mendakinya dengan susah payah dalam kalimat yang tinggi. Cinta adalah harapan dan impian. Cinta adalah napas kehidupan yang harus selalu disegarkan dengan oksigen kasih sayang nan tulus.

Dalam puisi "Cinta" tersebut, Gibran memperingatkan bahayanya cinta, yang dapat menjelma pedang hingga melukai, bersamaan dengan kehangatannya saat ia memelukmu. Paragraf pertamanya sudah mengingatkan agar pembaca berhati-hati pada cinta yang mampu melukai. Bayangkan saja kalau perasaan cinta yang ditutupi bisa membuat rasa sakit hati yang mendalam, apalagi kalau cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan.

Dalam paragraf kedua, interpretasi Kahlil Gibran tentang cinta membawa kita pada kenyataan bahwa cinta akan melingkupi seluruh hidup dari mulai dari puncak ranting kehidupan, bahkan dapat mengoncang akar jiwa jika kita tak kuat menahannya. Cinta yang tak tertahankan yang menghujam ke dinding-dinding sanubari inilah yang membaut banyak orang terbutakan oleh cinta. Mereka menganggap bahwa hidup ini hanya terdiri dari cinta yang semu, cinta yang fana, dan cinta yang tak berwujud. Manusia kadang lupa kalau banyak rupa cinta yang mampu membuat batin merdeka dan tak terikat dengan cinta yang sempit.

Apa yang Ada dalam Puisi Kahlil Gibran

Memahami puisi cinta yang ditulis oleh sang maestro harus dipahami dengan cara yang berbeda.

Metafora Tinggi

Bagi seorang awam yang kurang mengerti bahasa metafora atau perumpamaan seperti halnya para penyair, maka memahami sebuah puisi Kahlil Gibran tentang Cinta adalah hal yang sulit dan rumit. Demikian juga untuk menangkap makna sejatinya cinta di balik segala metafora itu, puisi Gibran akan semakin membuat pusing kepala saja. Sehingga, tak perlulah rasanya memaksa diri memahami setiap perkataan Gibran yang memang memiliki bahasa tinggi, serta akar budaya yang berbeda dengan bahasa Indonesia. 

Beda Budaya Beda Masa

Dalam memaknai sebuah karya sastra, memang tidak bisa lepas dari memahami latar belakang budaya si penyair. Sebab latar belakangnya itulah yang menyusun pola bahasa dan tingkat pengetahuan serta pemahaman filsafat si penyair.

Tulisan Kahlil Gibran Tentang Cinta Pada Tuhan

Pemuda Gibran adalah sosok yang tumbuh dalam lingkungan relijius, sehingga tulisan Kahlil Gibran berkisah tentang cinta selalu mengarahkan pada kecintaan terhadap Sang Pencipta. Kisah perjalanan hidupnya yang banyak mengalami pahit getir kehidupan menambah nuansa sedih dalam setiap judul karyanya pula.

Esensi Manusia

Pengertian Kahlil Gibran menulis tentang cinta pada Tuhan, dipengaruhi oleh nuansa agama Islam dan Kristen. Walaupun sebenarnya ia sendiri adalah seorang penganut Kristen Maronit yang taat, lingkungan tinggal dan besarnya di Lebanon membuat nilai-nilai Islam sedikit banyak tertanam di sanubari Gibran. Menurut Gibran, esensi adanya cinta bagi manusia adalah untuk dapat mengenal keberadaan Tuhan sendiri. Tuhan, dengan kasih dan sayang-Nya menciptakan perasaan dan hati dalam wujud fisik manusia untuk memudahkan manusia menerima keberadaan Sang Pencipta. Itu sebab, mengapa seluruh laku dan tingkah manusia seharusnya dapat membuat rasa cinta pada-Nya makin meningkat.

Cinta Hakiki

Sang Nabi adalah salah satu karya fenomenal Kahlil Gibran yang berkisah tentang cinta pada Allah. Bagi Gibran, tujuan dari semua hal yang dilakukan oleh manusia adalah membawa mereka pada persekutuan dan pertemuan dengan Tuhan. Kisah Al Musthofa yang jadi tokoh sentral dalam Sang Nabi, merupakan kiasan dari seorang manusia yang sedang berusaha memahami apa eksistensi hidup dan cinta hakiki yang wujud dalam kehidupannya sebagai manusia.

Cinta hakiki bukan bermakna klise sekedar pada penglihatan fisik dan rupa saja, sebab Tuhan tidak dapat dilihat rupa dan wujudnya oleh mata manusia yang fana. Cinta hakiki hanya dapat dirasakan kehadirannya jika manusia mau meninggalkan dunia dan segala kegelisahan tentang duniawinya. Di sanalah manusia akan menemukan cinta hakiki.

Pribadi Yang Kompleks

Pemikiran Kahlil Gibran  tentang cinta tidak dapat dilepaskan dari kepribadian yang dimilikinya. Peristiwa politik di Lebanon, konflik dan tekanan terhadap agama yang dianutnya di Lebanon, juga kehidupan cintanya dengan beberapa orang wanita yang berakhir kegagalan, mau tidak mau menjadikan pribadi Gibran menjadi kompleks.

Terkadang ia muncul sebagai relijius sejati, dalam “Sang Nabi”. Orang bijak yang bestari dalam “Suara Sang Guru”. Dan pemberontak yang menyuarakan protes keras terhadap kekakuan hukum dan korupsi yang berlaku di Timur, dalam "Spirits Rebellious", sebuah drama. Bagaimana pun juga, seorang Kahlil Gibran memang hanya manusia biasa dengan kecerdasan lebih, dan bukanlah seorang Nabi.

Jadi, jika Anda kesulitan memahami karya Kahlil Gibran, jangan kecil hati. Memang bahasa yang digunakan berbeda dengan bahasa keseharian Anda. Juga budaya Anda dan budaya Gibran berbeda. Demikian juga jaman hidup Gibran dulu, beda dengan masa hidup Anda sekarang. Betul?

 

 

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Sekilas Sejarah Kahlil Gibran
  • Pengertian Dasar dari Puisi Kahlil Gibran tentang Anak
  • Perasaan Komunal dan Solidaritas pada Puisi Tentang Sahabat
  • Contoh Puisi Lama
  • Membuat Puisi Tahun Baru
  • Latar Belakang Puisi Romantis Kahlil Gibran
  • Sekilas Tentang Kahlil Gibran
  • Romantisme Puisi Kahlil Gibran Sayap Sayap Patah
  • Makna Sahabat dibalik Puisi Sahabat Kahlil Gibran
  • Menimbang Karya Sastra Kahlil Gibran
  • Menguak Puisi Kehidupan Khalil Gibran
  • Menyimak Karya-Karya Kahlil Gibran - ANNEAHIRA.COM
  • Kumpulan Puisi Patah Hati
  • Tangis dan Kesenduan dalam Puisi Perpisahan Kahlil Gibran
  • The Prophet, Kumpulan Puisi Karya Kahlil Gibran yang Fenomenal
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA