logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Ilmu Sosial    Sejarah Dunia

Sejarah Kakus dan Negara Inggris yang Bau


 

Ilustrasi kakus

 

Apakah Anda tahu arti dari “kakus”? mungkin banyak di antara Anda yang saat ini mengerutkan kening membaca kata yang sudah jarang terdengar ini. Kakus itu artinya jamban. Hanya saja belakangan ini istilah kakus sudah tidak dipergunakan lagi. Orang lebih suka menyebutnya dengan toilet atau kamar mandi. Mungkin karena kesannya lebih modern.

Kakus memang dianggap identik dengan kamar mandi. Kakus adalah area pribadi yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang. Itu sebabnya, kakus selalu ada di setiap rumah. Meksipun sampai saat ini ada juga rumah yang jaraknya agak jauh dengan kakus yang biasa digunakan. Itu biasanya terdapat di daerah-daerah terpencil yang akses ke sumber air tergolong jauh.

Kakus harus dimiliki oleh setiap keluarga, meski sederhana. Sayang, banyak orang yang cenderung menyediakan kakus yang seadanya. Kakus memang kurang mendapat perhatian. Padahal kehadirannya sangat vital bagi manusia. Jika tidak ada kakus, bagaimana kita bisa membersihkan diri dengan nyaman? 

Manusia seharusnya menjaga kebersihan. Karena kebersihan memberi kontribusi yang sangat besar bagi kesehatan kita. Sayangnya, banyak orang yang masih tidak mempraktikkannya dalam keseharian. Membuang sampah sembarangan adalah hal yang biasa. Sungai pun dipenuhi dengan sampah. Takhanya itu, orang-orang yang hidup di dekat sungai pun kadang memanfaatkan sumber air itu sebagai kakus.

Kita tentu bisa membayangkan betapa kotornya lingkungan sekitar. Air sungai digunakan sebagai sumber air sekaligus tempat membuang hajat dan membersihkan diri. Kakus memang salah satu kebutuhan pokok manusia. Tanpa kakus, betapa sulitnya hidup ini.

Kita tidak bisa membuang hajat dengan leluasa karena tidak ada tempat khusus yang memungkinkan. Yang terjadi, orang pasti akan membuang hajat sembarangan di berbagai tempat. Selain menyebarkan bau, juga menyebabkan bibit penyakit yang tidak diinginkan. Pada abad ke-19, hal itu pernah benar-benar terjadi. Ketika kakus belum dikenal.

Sekilas Sejarah Kakus

Eropa pernah punya kisah yang menjijikkan seputar kakus. Di abad ke-19, penduduk Eropa masih belum mempunyai kakus yang memadai. Banyak di antara mereka yang lebih suka buang hajat di sembarang tempat, takterkecuali di jalan raya. Di masa itu, bukanlah pemandangan aneh ketika menyaksikan jalan dipenuhi oleh kotoran manusia alias tinja. Bau dan kotor, tentu saja.

Di sisi lain, masa itu, saat kakus belum ada, kaum perempuan tampil dengan pakaian yang panjang menyapu lantai. Nah, tentu saja memakai gaun-gaun panjang di jalanan saat itu sangat berisiko terkena kotoran manusia. Alhasil, terciptalah sepatau berhak tinggi yang gunanya untuk menghindari tinja di jalan-jalan raya dan sekitarnya.

Ketiadaan kakus yang memenuhi syarat ternyata malah mendorong terciptanya sepatu hak tinggi yang masih terus menjadi trend hingga saat ini. Sepatu berhak tinggi dianggap mampu menampilkan perempuan dalam “kemasan” yang lebih menawan.

Setelahnya, penggunaan kakus pun kian populer. Kesadaran manusia akan kesehatan dan perlunya menjaga kebersihan semakin meningkat. Kakus pun dianggap sebagai salah satu hal penting yang harus ada saat kita tinggal di sebuah rumah. Kakus sama pentingnya dengan kamar tidur, misalnya. 

Padahal, jauh sebelumnya kakus sudah menarik perhatian Sir John Harington. Di tahun 1596 dia menerbitkan sebuah tulisan yang diberi judul “The Metamorphosis of Ajax”. Tulisannya itu berjenis humor. Namun, di dalamnya memuat diagram toilet dengan fasilitas penyiraman. Orang Inggris saat itu menyebutnya dengan WC (Water Closet). 

Sir Harington ini kemudian membuat kakus untuk dirinya dan ibu baptisnya, Ratu Elizabeth I. Kakus itu didirikan di Istana Richmond. Lalu, bagaimana kebiasaan sang ratu buang hajat saat anak baptisnya belum menemukan WC? Entahlah, yang jelas saat ayah Ratu Elizabeth I berkuasa, dia biasa buang hajat di sebuah ruangan tertutup dengan ember, bak penampung air, dan semacam tampat duduk dengan bantalan beledu berwarna hitam.

Untuk masa itu, kakus Raja Henri VIII tergolong mewah. Akan tetapi, anggota kerajaan lainnya buang hajat di sebuah sarana umum yang terletak di Hampton Court. Tempat itu berbau busuk, semua limbahnya berakhir di Sungai Thames. Begitu juga dengan kakus lain di seantero Kota London.

Padahal, Sungai Thames yang dijadikan saluran kakus saat itu juga dipakai sebagai sumber air minum penduduk London. Akibatnya, air yang kotor itu pun menjadi penyebab segelintir penduduk sakit dan meninggal dunia. Saking joroknya, London pun dikenal sebagai “The Great Stink” yang berarti kota berbau busuk. 

Saking kotornya Sungai Thames saat itu, karena dijadikan aliran kakus, bau menyengat dari tempat itu konon bisa tercium hingga jarak 100 kilometer! Musim panas tahun 1858 menjadi puncaknya. Saat itu, bau busuk sudah benar-benar tidak tertahankan bagi masyarakat Kota London. Semua anggota parlemen akhirnya menghambur keluar dari dalam gedung karena tidak tahan lagi mencium bau menyengat dari Sungai Thames.

Tahun 1800-an, muncul seorang pioner dalam bidang kakus. Orang yang dimaksud bernama Thomas Crapper. Crapper mulai mengadakan serangkaian penelitian yang memakan waktu panjang. Hingga akhirnya dia mengembangkan desain kakus seperti yang kita gunakan saat ini. Di masa itu, penemuannya dianggap luar biasa. 

Kakus ala Crapper memang istimewa. Dia berhasil membuat toilet dengan pegas khusus. Tahukah Anda apa guna pegas tersebut? Pegas akan mengangkat dudukan toilet saat penggunanya berdiri. Selain itu, di sekitar dudukan toilet terdapat tuas yang mambuat toilet dapat menyiram secara otomatis. Penemuan ini kemudian dipatenkan. 

Masalah kakus sudah selesai, lalu muncul masalah lainnya. Apalagi kalau bukan persoalan tisu toilet. Dulu, orang tidak menggunakan tisu toilet khusus seperti yang ada di pasaran saat ini. Di masa itu, orang biasa menggunakan kertas sobekan dari katalog bekas.

Seorang warganegara Amerika Serikat berhasil menciptakan tisu toilet (kakus) pada tahun 1857. Orang itu memiliki nama Joseph Gayetty.Tiga belas tahun kemudian, sebuah kemajuan lain berhasil dicapai. Sebuah perusahaan yang bernama “British Perforated Paper Company” berhasil memproduksi tisu toilet lembaran yang dijual dalam kardus. Orang pun beralih pada tisu toilet yang praktis, bersih, dan mudah digunakan.

Ternyata menarik sekali mencermati tentang perkembangan dunia kakus. Meski sepertinya sederhana, kakus ternyata menyebabkan banyak masalah lain di sekitar kita. Saat ini, banyak rumah yang mendesain area kamar mandi dengan canggih. Maklumlah, orang pun kini membutuhkan kenyamanan saat berada di kamar mandi. 

Kakus dan Kebersihan

Kakus memang menjadi tempat yang dianggap jorok. Karena manusia membuang kotoran di sana. Jika tidak dijaga kebersihannya, tentu akan berakibat buruk bagi penggunanya. Siapa yang tahan hidup di rumah yang dipenuhi aroma menjijikkan karena kamar mandi dipenuhi kotoran?

Namun, Dr Charles Gerba membuat sebuah penelitian dengan hasil yang mencengangkan. Dokter ini adalah seorang ahli mikrobiologi dari University of Arizona, Amerika Serikat. Dia melakukan serangkaian survei dan kunjungan langsung ke berbagai rumah yang sudah dipilih secara acak. Hasil penelitannya adalah : kakus merupakan tempat yang jauh lebih bersih dibandingkan dapur! Bahkan dudukan toilet dianggap sebagai area yang paling bersih.

Dr Charles Gerba ini pun mengambil suatu kesimpulan yang sangat ekstrem. Bahwa sebenarnya membuat roti lapis di atas tempat dudukan kakus jauh lebih bersih dibanding dapur. Spons cuci piring merupakan alat yang mengandung paling banyak bakteri. Jumlahnya mencapai 50 juta bakteri! Bahkan sebuah cangkir kopi mengandung bakteri feses yang berasal dari spons pencuci piring.

Kakus di rumah mungkin memang lebih bersih dibanding dapur, namun hati-hati dengan kakus yang menjadi fasilitas umum. Toilet umum merupakan tempat yang paling banyak kumannya, terutama toilet wanita. Jadi, berhati-hatilah!

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Serba-serbi Sejarah Kaisar Tiongkok
  • Yahudi, Agama Orang Israel
  • Sejarah Asia Tenggara, dari Dongson Hingga ASEAN
  • Kenapa Israel Dibenci?
  • Kisah Perang Eropa dan Perang Terkenal Lainnya
  • Lambang ASEAN dan Maknanya
  • Negara Eropa Timur - Dulu, Identik dengan Komunis
  • 7 Kejaiban Dunia yang Mengesankan
  • Hasil Peninggalan pada Zaman Batu
  • Logo ASEAN - Perlambangan negara-negara Asia Tenggara di Dunia
  • Sejarah Eropa Kuno: Berakhir di Era Perang Salib
  • Serba-serbi Uni Eropa
  • Legenda Kuda Unicorn
  • Fosil Manusia Purba di Afrika
  • Sejarah Atlantis: Membongkar Khayalan Plato
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA