logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Referensi    Tempat    Provinsi

Mengenal Suku Asli di Kalimantan Barat


Ilustrasi kalimantan barat

Kata orang, mengenal karakteristik suku asli di suatu daerah adalah syarat ketika kita hendak berdomisili di daerah tersebut supaya proses adapatasi mudah dilakukan. Yaitu mengerti bagaimana awal mulanya suku itu ada hingga kecenderungan sifatnya (streotipe). Anggapan umum yang banyak terbukti kebenarannya itu, juga berlaku ketika kita memutuskan hidup di Kalimantan Barat.    

Sekilas Tentang Kalimantan Barat

Sebagai salah satu dari sedikit provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan negara tetangga (Malaysia), Kalimantan Barat dikenal pula sebagai wilayah hijau. Maksudnya, hampir dua pertiga wilayahnya ditutupi oleh hutan tropis yang masih perawan. Bahkan, Kalimantan Barat dan wilayah Pulau Kalimantan pada umumnya merupakan paru-parunya dunia. Bersama-sama dengan hutan tropis di Brazil, Kalimantan adalah penyuplai oksigen terbesar bagi kehidupan manusia di muka bumi ini.

Selain itu, keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat termasuk luar biasa beragam. Baik jenis flora maupun faunanya, banyak belum diketahui manfaat atau teridentifikasi jenisnya. Termasuk juga barang tambang yang ada di bawah tanah bumi Borneo tersebut, khususnya barang tambang berupa logam mulia (emas). Bahkan, pertambangan emas di Kalimantan Barat sudah terkenal sejak pemerintah kolonial Belanda masih berkuasa. Jadi, dapat dikatakan bahwa Kalimantan Barat bagaikan mutiara yang belum sepenuhnya diasah, atau permata yang kemilaunya belum dapat dinikmati karena masih terpendam di dasar lautan. 

Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam di Kalimantan Barat mengakibatkan tingkat kemakmuran di wilayah tersebut, kalah jauh dengan wilayah negara tetangga, yaitu Malaysia. Walau hanya dibatasi oleh patok-patok penanda kedaulatan negara yang berbeda, namun kehidupan sosial ekonomi masyarakat di kedua wilayah sangat kontras terlihat. 

Kenyataan ini dapat segera terpahami ketika mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat di kota perbatasan Indonesia, yakni Entikong (kota di Kalimantan Barat), yang berbatasan langsung dengan Kucing (kota di wilayah Sabah, Malaysia). Tingkat kehidupan masyarakat di Kota Kucing lebih sejahtera dibanding masyarakat di Kota Entikong. 

Realita lain yang menunjukkan belum optimalnya sumber daya alam di Kalimantan Barat dikelola, tampak dari maraknya kasus ilegal logging. Begitu pula dengan kasus pencurian keanekaragaman hayati (jenis tumbuhan maupun hewan) di hutan tropis Kalimantan Barat. Barang-barang itu diselundupkan ke luar negeri (umumnya Malaysia) melalui jalur sungai atau lautan. Terbatasnya jumlah aparat keamanan mengakibatkan hingga sekarang berbagai tindakan ilegal yang sangat merugikan negara itu masih sering terjadi.   

Lalu, bagaimana dengan sosial budaya masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat? Kita dapat menelaah dan memahaminya dimulai dari mengenal bagaimana kecenderungan sifat dari suku-suku asli di wilayah tersebut. Tentu saja pemahaman akan hal ini harus didasarkan sumber-sumber valid dan terpercaya. Jadi, segala bentuk stereotif atau prasangka sosial yang bermuatan negatif, dapat diminimalisir.

Dari beberapa referensi kependudukan, menyebutkan setidaknya ada dua suku asli penghuni wilayah Kalimantan Barat. Disebut sebagai suku asli karena berabad-abad sebelum Indonesia merdeka, dua suku itu sudah mendiami kawasan pantai (pesisir) maupun hutan (pedalaman) di Kalimantan Barat. Membangun suatu komunitas masyarakat yang diikat oleh berbagi tradisi dan adat istiadat. Kedua suku asli itu adalah Suku Dayak dan Melayu.    

Suku Dayak di Kalimantan Barat

Suku Dayak identik dengan Pulau Kalimantan. Untuk di Kalimantan Barat, Dayak mendiami kawasan hulu Sungai Kapuas dan hulu sungai-sungai lainnya. Kawasan yang masih didominasi oleh kehidupan alam liar hutan Kalimantan (pedalaman). Karenanya, jika kita berkesempatan mengunjungi kawasan pedalaman, mayoritas masyarakat yang akan kita temui adalah masyarakat dari Suku Dayak. 

Kira-kira apa yang membuat Suku Dayak di Kalimantan Barat pada khususnya dan Pulau Kalimantan pada umumnya mendiami kawasan pedalaman? Apakah memang karena budaya Dayak merupakan budaya yang akomodatif terhadap budaya tradisional di hutan-hutan Kalimantan? Atau karena pengaruh kedatangan suku lain sehingga terjadinya migrasi (perpindahan) dari Suku Dayak?

Bila merunut dari beberapa referensi sejarah cikal bakal masyarakat Suku Dayak, maka jawabannya dikarenakan pengaruh kehadiran suku lain atau kekuasaan dari luar yang ‘memaksa’ masyarakat Suku Dayak untuk berpindah tempat. Awalnya, Suku Dayak mendiami kawasan pesisir pantai atau hilir (kawasan sekitar muara sungai), yaitu tepatnya pada sekitar tahun 3000 - 1500 SM. Saat itu, terjadi perpindahan penduduk Yunan di Cina Selatan ke wilayah nusantara. Salah satu wilayah nusantara yang dilewati dan kemudian menjadi tempat bermukim adalah Pulau Kalimantan (Kalimantan Barat).   

Pada masa tersebut, Pulau Kalimantan masih menyatu dengan Benua Asia. Direkatkan oleh daratan dan barisan pegunungan yang sekarang ini dikenal dengan nama Pegunungan Muller-Schwaner. Para nenek moyang Suku Dayak melintasi pegunungan Muller-Schwaner, mengikuti aliran sungai yang mengarah ke kawasan pesisir Kalimantan Barat atau kawasan Pulau Kalimantan lainnya. Di sini, mereka pun membangun peradaban dalam bentuk kerajaan. Proses semenjak kedatangan pertama nenek moyang Suku Dayak hingga membangun kerajaan di pesisir pulau Kalimantan, berlangsung lama mencapai puluhan abad. 

Hanya saja, jejak sejarah dari kerajaan Suku Dayak tersebut tidak dapat diketahui pasti. Satu-satunya sumber yang mengatakan bahwa pernah ada kerajaan, berasal dari tradisi lisan. Yakni cerita mengenai ‘Nansarunai  Usak Jawa’, artinya adalah sebuah kerajaan bernama Dayak Nansarunai yang dihancurkan oleh Majapahit, diperkirakan sekitar 1300-an Masehi. Akibatnya, masyarakat Suku Dayak terpencar ke mana-mana. Sebagian dari mereka memilih mendiami kawasan pedalaman atau hutan di Kalimantan Barat.

Kemudian, semakin banyak Suku Dayak yang memilih menetap di kawasan hulu sungai karena pengaruh munculnya kerajaan-kerajaan Islam di pesisir Kalimantan Barat pada awal abad ke-17 Masehi. Kerajaan-kerajaan ini dibangun oleh suku Melayu yang saat itu dianggap sebagai ‘suku pendatang’. Kerajaan-kerajaan bercorak agama Islam ini kemudian menyebarkan pengaruh politis maupun budayanya. Dimulai dari kota-kota besar di Kalimantan Barat, seperti Pontianak, Mempawah, Sambas, Sanggau, dan Sintang yang menjadi pusat kerajaan Islam, kemudian meluas sepanjang pantai dan wilayah sekitar sungai di Kalimantan Barat. Akibatnya, banyak dari Suku Dayak yang memeluk agama Islam dan kemudian menganggap mereka bukan lagi sebagai Suku Dayak.

Adapun yang menolak pengaruh Islam, tetap memegang teguh tradisi nenek moyang atau dikenal dengan istilah animisme dan dinamisme. Mereka yang keukeuh dengan tradisi animisme dan dinamisme itu pun memutuskan berdiam di kawasan pedalaman hutan Kalimantan Barat.
Lalu, bagaimana karakteristik dari Suku Dayak di Kalimantan Barat? Umumnya, Dayak dikenal sebagai suku yang memegang janji, ramah dan bersikap welcome terhadap orang luar, serta cinta damai. Namun, semua sifat baik tersebut dapat berubah 180 derajat jika harga diri dan kehormatannya terusik. Memang mereka bukanlah suku pemarah dan pendendam, tapi jika sudah menyangkut masalah kehormatan dan harga diri, Suku Dayak dapat bertindak barbar dan sukar mengontrol emosinya. Ini adalah streotipe dari Suku Dayak.  

Suku Melayu di Kalimantan Barat

Meskipun suku Melayu kehadirannya tidak setua Suku Dayak, namun beberapa kalangan menganggap suku yang identik menganut agama Islam itu sebagai salah satu suku asli di Kalimantan Barat. Mengapa? Karena selain jumlah mereka saat ini merupakan terbesar di Kalimantan Barat, suku Melayu juga punya peran penting. Yakni memberikan kontribusi peradaban atau tatanan masyarakat di Kalimantan Barat. Pembangun pilar-pilar kehidupan masyarakat yang berbudaya tinggi.

Karenanya, jika kini kita mengunjungi atau memutuskan berdiam di Kalimantan Barat, dominan kebudayaan yang akan kita rasakan adalah kebudayaan dari suku Melayu. Baik itu dari segi bahasa yang digunakan (bahasa Melayu), tradisi atau adat istiadat, hingga pola pikir mayoritas masyarakatnya yang dominan diwarnai oleh nilai-nilai Islam.

Untuk itu, suku Melayu di Kalimantan Barat memiliki streotipe masyarakat yang religius, ramah dan mudah bersahabat dengan orang asing, sabar dan tidak mudah terpancing emosinya. Ada pun stereotipe atau karakteristik negatifnya, Melayu dianggap suku yang pasif, sulit melakukan perubahan atau kemajuan, dan mudah dipengaruhi atau menuruti kemauan orang lain.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Kearifan Lokal dalam Rumah Adat Jawa Timur
  • Mengenal Upacara Adat Jawa Timur
  • Cerita dari Madura
  • Profil Ibu Kota Provinsi Jambi
  • Mengenal Rumah Adat Maluku
  • Arti Irian Jaya - Sinar Menghalau Kabut dan Sejarah Papua
  • Sulawesi Tengah - Kota Megalitikum Nusantara?
  • Pulau Sulawesi, Celebes yang Punya Cerita
  • Bulan Madu Tak Terlupakan di Bangka Belitung
  • Berkelana di Yogyakarta dengan Peta Jogja
  • Siter Alat Musik Jawa Tengah
  • Aneka Ragam Upacara Adat Jawa Tengah
  • Tanjung Lesung - Objek Wisata Eksotis di Banten
  • Perkembangan Riau Terkini
  • Tifa Maluku: Alat Musik Gendang Bersuara Merdu
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA