Kandungan Biji Durian, Pengikat dalam Tablet
Ilustrasi kandungan biji durian
Durian dikenal sebagai king of fruit atau rajanya buah. Hal ini karena kandungan gizi dan khasiatnya. Dalam bahasa Latin, disebut durio zibethinus, artinya 'tumbuhan tropis yang berasal dari Asia Tenggara'. Wanginya harum menyengat dan isi buahnya legit. Aroma yang menyengat dan rasa bijinya yang gurih legit ini, bagi orang-orang tertentu, justru bikin puyeng. Belakangan, kandungan biji durian bisa dimanfaatkan untuk bahan pengikat dalam tablet.
Lengket Tapi Gurih
Buah durian itu luar biasa. Kalau makan durian tidak berlebihan, metabolisme tubuh terasa lebih baik karena proses pembuangan kotoran dalam tubuh berjalan cukup lancar. Sebaliknya, kalau makan durian terlalu berlebihan, biasanya perut terasa kembung dan bau kentut yang luar biasa baunya tentunya akan mengganggu orang lain yang ada di sekitar. Terlebih ketika bersendawa, bau durian yang menyengat itu akan terasa sekali.
Bahkan untuk orang-orang tertentu, jenis durian akan berefek lain dalam tubuhnya. Terutama ketika makan durian dengan kandungan gas yang cukup banyak. Durian yang sudah agak lama dan tercium bau yang harum bahkan sangat harum, akan berefek diare kepada seseorang dengan kondisi perut yang tidak kuat. Tetapi biasanya diare ini akan terjadi selama masih ada kandungan gas durian dalam tubuh. Herannya menurut yang mengalami diare karena durian ini, tubuhnya tidak terasa lemas.
Malah seperti pembersihan perut. Sayangnya, bau mulut akibat sendawa menjadi sangat berbeda dan menyesakkan orang yang ada di sekitarnya. Beda lagi kalau makan durian yang baru saja jatuh. Ada juga yang tidak kuat dan merasakan sakit perut. Durian yang paling enak itu cukup bervariasi dan berdasarkan pendapat masing-masing penikmatnya. Ada yang mengatakan durian yang mangkel itu adalah durian paling enak terutama yang berjenis tembaga atau yang berwarna kuning keemasan.
Ada juga yang mengatakan kalau durian Petruk dan durian Montong itu paling enak. Apapun pendapat orang tentang durian, buah ini tetap menjadi salah satu buah yang banyak penggemarnya. Bijinya pun terkadang direbus dan dijadikan keripik. Rasanya yang gurih dan cukup garing membuat cemilan satu ini cukup digemari. Apalagi kalau dimakan setelah direbus. Kandungan karbohidratnya akan membuat kenyang. Bagi penikmat cemilan satu ini, musim durian menjadi pengobat rindu yang membuncah.
Biji durian yang enak itu yang berukuran cukup besar. Kalau ukuranya kecil, biasanya rasanya kurang gurih. Ada rasa yang kurang pas kalau ukuran biji durian kecil. Biji durian dari kualitas durian yang bagus juga mempunyai rasa yang super nikmat. Berbeda kalau duriannya sendiri kurang sedap atau tidak terlalu enak. Bijinya pun biasanya tidak enak. Tidak diketahui mengapa bisa seperti itu. Memang agak sulit mencari durian dengan kualitas yang bisa dijamin.
Harga mahal pun belum tentu menjamin kalau durian itu enak. Ciri-ciri buah yang harum dengan duri yang tidak terlalu rapat tetapi sangat tajam pun terkadang tidak menjamin apa-apa. Satu pohon durian yang dianggap bagus pun terkadang memberikan buah yang tidak terlalu enak. Mungkin ini merupakan satu efek dari tanaman yang dipelihara secara alami dan tidak diberi pupuk atau tidak dikendalikan seperti di perkebunan durian.
Kalau di perkebunan durian, pemupukan dan pemeliharaan pohon durian bisa jadi memberikan sedikit jaminan rasa kepada jenis durian tertentu. Di kebanyakan daerah, rasa itu memang menjadi berbeda. Kandungan tanah pun bisa membuat rasa durian menjadi tidak sama. Begitu juga dengan biji durian. Makan biji durian ini juga bisa membuat perut terasa tidak enak kalau berlebihan. Kandungan gas yang ada pada durian membuatnya seperti itu. Sama dengan biji nangka dan biji sempedak yang enak dimakan, biji durian sepertinya akan menjadi cemilan yang populer.
Yang menjadi kendala mungkin sistem pengelolaannya. Biji durian ini sangat licin karena berlendir. Kalau tidak sabar, biasanya membuat keripik biji durian akan memakan waktu yang cukup lama. Hanya orang-orang yang sabar dan sangat tekun yang bisa melakukannya.
Pengikat Tablet
Apa saja manfaat lain dari biji durian selain menjadi cemilan dikala waktu senggang? Jika ini dipopulerkan, bisa mengalahkan tepung padi yang selama ini menjadi satu-satunya campuran dan pengikat dalam tablet. Ini adalah salah satu manfaat biji durian yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat. Bila mereka tahu, mungkin akan banyak juga yang mengumpulkan biji durian di tempat penjualan durian.
Sebagai pengikat tablet, biji durian dikeringkan. Kemudian, dibuat pati dengan menggunakan metoda ekstraksi. Metoda ekstraksi adalah salah satu cara menghaluskan bahan sampai berukuran sangat kecil sehingga menyerupai debu halus. Proses ekstraksi menghasilkan zat-zat aktif yang dikehendaki dan sisanya dibuang dalam bentuk ampas. Saat akan dikapsulkan, debu hasil ekstraksi ini akan sulit dikumpulkan dan cepat terbang sehingga diperlukan zat pengikat. Selama ini, yang lazim digunakan sebagai bahan pengikat adalah tepung padi.
Pati durian juga diteliti bisa dijadikan bahan pengikat tablet tertentu, yaitu biji durian pada bagian kotiledon biji. Untuk partai besar, biji yang telah dibersihkan bisa langsung dikeringkan sebelum diekstraksi. Sebagai bahan pengikat, pati durian ini diekstraksi sampai mencapai ukuran 125 mesh (ukuran besarnya serbuk/debu). Manfaat satu ini cukup baik dan perlu dikembangkan lebih lanjut agar ada kreasi baru dalam dunia durian.
Penghasil Durian
Di Indonesia, Pulau Kalimantan, Pulau Sumatera termasuk tempat yang banyak membudidayakan durian. Meskipun demikian, pengekspor utama durian adalah Thailand sehingga terkenal dengan nama durian thailand yang kulit bijinya tebal, legit, dan wanginya tidak terlalu menyengat. Orang Indonesia pun sangat menyukai durian dari Negeri Gjaha Putih ini. Durian dari Malaysia pun diyakini menjadi salah satu jenis durian yang dicari. Adanya jaminan rasa, membuat durian dari kedua negara ini disenangi walaupun harganya selangit.
Berbeda dengan durian Indonesia yang masih belum mempunyai jaminan kualitas walaupun harganya mahal. Sebuah durian yang cukup besar, bisa dipatok pada harga 50 ribu per biji. Kalau membeli langsung kepada petani atau tangan pertama, satu buah durian dengan ukuran yang besar itu bisa sedikit lebih murah sekira 25-35 ribu rupiah. Belakangan ini, negara lain juga ada yang membudidayakan durian untuk tujuan ekspor, seperti Filipina, Queensland di Australia, Laos, Vietnam, Kamboja, Sri Lanka, dan India.
Kalau bangsa ini tidak ingin kehilangan salah satu komoditi pangan yang cukup bagus, maka pengembangbiakan durian dengan kualitas yang bagus, harus segera dilakukan. Sekarang saja masyarakat telah semakin tertarik dengan durian dari Thailand. Di supermarket saja, semua jenis durian yang dijual adalah durian impor. Sedangkan durian asli Indonesia hanya mampu dijajahkan di pinggir jalan dan di pasar tradisional. Bukannya sesuatu yang kurang baik dijual di lura supermarket, tetapi ada prestise yang berbeda saja.
Pohon Unik
Pohon durian termasuk tanaman yang khas karena bunga dan buahnya justru muncul langsung dari batang atau cabang-cabang yang telah tua. Bunga durian biasa berkelompok dalam satu karangan bunga berisi 3-10 kuntum. Pada siang hari, bunga akan menutup. Di ujung bunga, terdapat rongga yang akan mengeluarkan wangi untuk menarik perhatian kelelawar. Kelelawar jenis Eonycteris spelaea dianggap yang berjasa dalam proses penyerbukan buah durian.
Buah durian berduri penuh sehingga dinamai buah durian. Bentuk umumnya bulat telur dan lonjong, berwarna kuning kecoklatan, dengan panjang antara 25-30cm. Di dalam, terdapat biji yang dilapisi selaput berwarna putih kekuningan. Selaput pembungkus biji durian inilah yang dikonsumi.
Penganan Biji Durian
Di beberapa daerah di Pulau Jawa, biji durian dimanfaatkan pula untuk bahan makanan. Caranya, biji yang telah habis selaputnya dibersihkan, lalu dikeringkan. Setelah kering, direbus hingga kulit bijinya lunak. Setelah lunak, dikupas kulitnya dan bisa langsung dimakan. Ada pula yang diiris tipis, kemudian digoreng.
Di beberapa daerah, dikenal pula nama lokal untuk buah durian ini. Misalnya, di Betawi dan sebagian besar Jawa, menyebut nama durian dengan duren. Sementara orang Sunda, menyebutnya kadu. Orang Gayo juga menyebut durian dengan duren. Lain lagi di Sulawesi, orang Menado menyebutnya dengan nama duriang, sementara orang Toraja menyebut durian dengan nama duliang. Agak lebih jauh dari kata aslinya adalah penyebutan orang di Kepulauan Seram, terutama di bagian timur, yang menyebut buah durian dengan nama rulen.

