Karate - Beladiri Penuh Filosofi
Jepang memang terkenal dengan perkembangan industri yang kian pesat. Banyak hal positif yang dapat dicontoh dari Negeri Sakura ini. Selain merajai dunia industri, Jepang terkenal sebagai negara yang melahirkan berbagai seni bela diri. Beberapa di antaranya adalah karate, sumo, aikido, judo, kendo, kempo, dan jujitsu. Semua seni bela diri tersebut, khususnya karate, berkembang ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Sekilas Tentang Karate
Salah satu seni bela diri yang populer di Indonesia adalah karate. Sejarah karate dapat dikatakan cukup panjang. Seni beladiri ini pertama kali masuk ke Jepang melalui Okinawa. Awalnya, karate dikenal dengan nama tote, yang memiliki makna ‘tangan Cina’ sebelum akhirnya diubah oleh Sensei Gichin Funakoshi menjadi karate,yang berarti ‘tangan kosong’.
Seperti halnya seni bela diri lain, karate memiliki beberapa aliran. Namun, hanya ada 4 aliran utama yang ditetapkan Japan Karatedo Federation (JKF) dan World Karatedo Federation (WKF). Keempat aliran tersebut adalah Shotokan, Goju-Ryu, Shito-Ryu, dan Wado-Ryu. Empat aliran tersebut dianggap sebagai aliran utama karena ikut membentuk JKF dan WKF.
Latihan Dasar Beladiri Karate
Ada 3 jenis latihan dasar dalam seni beladiri karate, yaitu sebagai berikut.
- Kihon merupakan salah satu teknik latihan dasar dalam karate yang terdiri atas teknik pukulan, tendangan, dan tangkisan.
- Kata merupakan salah satu teknik latihan jurus atau disebut sebagai bunga dalam karate.
- Kumite merupakan salah satu bentuk latihan bertanding atau dikenal dengan istilah sparring.
Sabuk Karate
Seni bela diri karate identik dengan sabuk atau obi. Sabuk dalam karate terdiri atas 6 warna yang menunjukkan tingkatan masing-masing. Untuk mengubah warna sabuk, seorang karateka harus menempuh tahap ujian. Susunan warna sabuk karate dari yang paling dasar adalah putih, kuning, hijau, biru, coklat, dan hitam.
1. Putih (Kyu 10)
Warna sabuk ini adalah simbol kemurnian dan kesucian. Yang dimaksud dengan kemurnian dan kesucian dalam hal ini adalah sebuah kondisi dasar seorang pemula untuk menerima berbagai latihan dari sensei atau senpei masing-masing. Layaknya bayi yang baru lahir, perkembangan seorang karateka bergantung pada ajaran gurunya.
2. Kuning (Kyu 8)
Warna kuning digunakan sebagai simbol matahari. Artinya, seorang karateka boleh dikatakan telah melihat “hari baru” karena ia telah paham dengan semangat seorang karateka sehingga diterapkan dalam kepribadiannya serta dalam teknik yang telah diajarkan padanya.
3. Hijau (Kyu 6)
Warna hijau mewakili rumput serta pepohonan. Pemilik sabuk hijau seharusnya telah menguasai berbagai teknik dan segala hal yang berkaitan dengan karate. Warna sabuk ini pun melambangkan sebuah pertumbuhan dan harmoni.
4. Biru (Kyu 4)
Biru merupakan sebuah warna yang merepresentasikan lautan atau samudera dan langit. Hal ini berarti bahwa seorang karateka mesti memiliki semangat seluas angkasa dan sedalam samudera. Seorang karateka pemegang sabuk biru harus mampu menghadapi berbagai tantangan.
5. Coklat (Kyu 3-1)
Coklat merupakan simbol tanah. Warna sabuk ini memiliki stabilitas dan bobot. Hal ini berarti bahwa karateka pemilik sabuk coklat mesti memiliki sikap yang stabil, penguasaan teknik yang lebih dalam dibanding pemengang sabuk sebelumnya, dan bersikap melindungi adik tingkat atau juniornya. Coklat pun dapat melambangkan sikap down to earth.
6. Hitam (Dan)
Hitam merupakan sebuah warna yang mencerminkan keteguhan serta sikap percaya diri berdasarkan nilai kebaikan secara umum. Hitam merupakan tingkatan sabuk paling akhir yang diidamkan oleh seluruh karateka. Namun, di balik “kegagahan” sabuk hitam, tersimpan sebuah tanggung jawab luar biasa yang harus dijunjung tinggi oleh seorang karateka.
Falsafah Karate
Dalam dunia beladiri karate, ada 2 falsafah yang sangat dijunung tinggi. Falsafah dalam dunia karate tersebut adalah rakka (bunga yang berguguran) dan mizu no kokoro (pikiran itu seperti air).
Falsafah rakka dalam dunia karate adalah sebuah konsep beladiri atau pertahanan dalam seni bela diri karate. Falsafah rakka dalam karate bermaksud setiap teknik pertahanan itu perlu dilakukan dengan bertenaga dan mantap agar dengan memakai satu teknik pun sudah cukup untuk membela diri.
Jadi, falsafah ini diumpamakan seperti bunga yang berguguran karena jika teknik ini dilakukan ke inti persoalan, semua “bunga” dari persoalan tersebut akan jatuh berguguran. Misalnya, jika ada orang yang menyerang bagian muka, karateka (orang yang ikut seni beladiri karate) dapat menggunakan teknik tangkisan atas.
Jika tangkisan itu kuat dan mantap, karateka dapat menjatuhkan dan mematahkan tangan si penyerang. Dengan begitu, tidak perlu lagi membuat serangan susulan karena gerkan tadi cukup untuk melumpuhkan dan membela diri.
Falsafah lainnya dari beladiri khas Jepang ini adalah mizu no kokoro. Falsafah ini bermaksud bahwa untuk tujuan beladiri, pikiran perlu dijaga dan dilatih agar selalu tenang. Jika pikiran tenang, mudah untuk karateka dalam mengelak dan menangkis serangan.
Jika diibaratkan, pikiran itu seperti air di danau. Maksudnya, jika bulan mengambang, akan terlihat bayangan bulan yang terang di danau yang tenang. Dan, jika ada batu yang dilontarkan ke danau tersebut, bayangan nbulan itu akan kabur. Itulah yang dimaksud dengan falsafah mizu no kokoro.
Peralatan dan Perlengkapan dalam Pertandingan Karate
Dalam pertandingan karate, para karateka harus dilengkapi dengan berbagai perlengkapan dan peralatan bertanding. Berikut ini perlengkapan dan peralatan dalam bertanding karate.
- Pakaian karate atau disebut karategi.
- Pelindung tangan.
- Pelindung tulang kering.
- Ikat pinggang atau sabuk (obi) berwarna merah dan biru.
- Alat-alat lainnya yang diperbolehkan, tapi bukan menjadi keharusan, seperti pelindung gusi, pelindung tubuh (untuk putri), dan pelindung selangkangan (untuk putra).
- Peluit utuk juru tulis
- Seragam wasit dan juri (baju putih, celana abu-abu, dasi merah, sepatu karet hitam tanpa sol).
- Papan nilai.
- Administrasi pertandingan.
- Lampu merah, hijau, dan kuning sebagai tanda waktu pertandingan sebagai pencatat waktu (stop watch)
Selain perlengkapan dan peralatan, pertandingan karate pun dilakukan di dalam sebuah lapangan lantai yang berukuran 8 x 8 meter yang beralas papan atau matras. Lapangan pertandingan pun harus rata dan terhindar dari kemungkinan terjadinya atau timbulnya bahaya.
Pertandingan Karate
Pertandingan karate terbagi menjadi dua jenis, yaitu Kumite (perkelahian) putera-puteri dan Kata (jurus) putera-puteri.
1. Kumnite
Petandingan karate jenis kumite terbagi atas kumite perorangan yang dibagi berdasarkan berat badan dan kumite beregu tanpa pembagian kelas berat badan (khusus untuk putera). Sistem pertandingan yang dipakai dalam pertandingan karate ini yaitu reperchance (WUKO) atau babak kesempatan kembali untuk atlet karate yang pernah dikalahkan oleh sang juara.
Pertandingan karate ini berlangsung dalam satu babak (2-3 menit) dan satu babak untuk perpanjangan jika terjadi seri. Namun untuk pertandingan karate beregu, tidak ada babak perpanjangan.
2. Kata
Pertandingan karate jenis kata ini adalah pertandingan yang menunjukkan keindahan gerak dari jurus karate, baik untuk putera ataupun puteri dan sesuai dengan Kata pilihan atau Kata wajib dalam peraturan pertandingan karate. Dalam pertandingan karate ini, semua peserta harus mempratikkan Kata wajib. Jika lulus, peserta akan menuju ke babak berikutnya dan mempraktikkan Kata pilihan.







