Karikatur Gus Dur: Hayati Kearifan Gus Dur Lewat Goresan

Banyak cara menyampaikan pesan kepada khalayak ramai. Terutama ketika pesan itu berkaitan dengan sosok atau tokoh tertentu. Bisa lewat kata-kata langsung, tulisan, ataupun lukisan/ karikatur. Karikatur Gus Dur/ Abdurrahman Wahid adalah salah satu contohnya. Menyelami kearifan presiden Indonesia ke-4 itu lewat goresan khas karikatur para seniman.
Guru Bangsa
Sebagai tokoh yang cenderung dianggap kontroversial, Gus Dur telah banyak menginspirasi rakyat Indonesia. Berbagai kalangan, mulai dari masyarakat awam (grass root), masyarakat akademis hingga elit politik. Semuanya terimbas oleh tingkah polah putra sulung dari Kiai Wahid Hasyim dan cucu pendiri organisasi keagamaan Nahdatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy'ari.
Karenanya, Gus Dur layak dianggap sebagai guru bangsa. Penyemai nilai-nilai demokrasi dan penganjur Islam moderat-toleran di Tanah Air. Lewat pemikiran bernasnya dan tindakan berani dan seringkali dianggap nekat, Gus Dur punya banyak sisi kehidupan yang dapat diteladani.
Tak hanya sebagai ulama moderat yang mumpuni, Gus Dur pun dikenal sebagai negarawan yang memiliki prinsip kemajemukan (pluralis) dan open minded (pemikiran terbuka) dalam masalah agama atau keyakinan. Tak mengherankan ketika masa pemerintahannya, agama Konghucu diakui sebagai salah satu agama resmi negara.
Bahkan, Greg Barton dalam disertasinya tentang Gagasan Islam Liberal di Indonesia menyebut Gus Dur sebagai pemikir paling liberal di Indonesia. Pemikir sekaliber Nurcholish Madjid sekali pun, tidak bisa menandinginya.
Gus Dur pun merupakan sosok seniman dan budayawan. Lihat saja kiprahnya sebagai anggota dewan juri Festival Film Indonesia (FFI), menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta, serta tak kalah hebatnya sebagai pengamat sepak bola.
Bagaikan menelusuri sungai berliku tiada berujung, begitulah kiranya menggambarkan sosok Gus Dur. Pemikiran maupun tindakannya memang acapkali dianggap nyeleneh (aneh). Tak mudah memahaminya karena ketidaklaziman pemikiran Gus Dur dan diluar kebiasaan masyarakat.
Tetapi, jika dipahami lebih jauh, Gus Dur punya segudang kearifan dalam melihat kehidupan ini. Sosok waskita (ketajaman penglihatan/visioner). Tak larut dalam rutinitas hidup yang dangkal nilai, tapi melampauinya. Contohnya, bisa dipahami dari ucapan fenomenal Gus Dur, “Gitu aja kok repot!”
Karikatur Gus Dur
Karikatur merupakan salah satu bentuk dari seni lukis. Curahan hati dan perasaan seorang seniman dalam melihat dan “membaca” kehidupan ini. Dikemukakan dengan media gambar (kanvas dan sebagainya) yang dianggap itu adalah diri sendiri.
Karikatur mengandung beragam ekspresi yang sering diluapkan yaitu: rasa senang, sedih, takut, khawatir, marah, kecewa, dan lain-lain. Karenanya, karikatur sering mengambil bentuk binatang, seperti manusia, atau pemandangan lingkungan sekitar. Intinya, karikatur berisikan coretan ekspresi diri seseorang (pembuat karikatur).
Karikatur juga bisa dan biasa digunakan sebagai kritik sosial. Salah satu bentuknya dengan menggambar tokoh tertentu yang menyuarakan pesan sosial atau moral yang ingin disampaikan oleh pembuat karikatur. Dan Gus Dur termasuk tokoh yang sering dibuat sebagai karikatur. Baik pada masa pemerintahannya, maupun ketika Gus Dur meninggal dunia.
Dipilihnya Gus Dur sebagai obyek karikatur, bisa jadi karena ia punya sisi kepribadian yang unik. Pemikiran atau tindakannya. Begitu juga dengan bahasa tubuh dan kebiasaan Gus Dur, dapat dikarikaturkan.
Masyarakat awam akan begitu mudah mencerna suatu pesan jika pesan tersebut menggunakan karikatur Gus Dur. Entah kenapa? Mungkin karena Gus Dur merepresentasikan sosok yang cerdas, rendah hati, filosof sarat kebajikan, tapi juga nyeleneh dan blak-blakkan.
Sehingga menimbulkan kesan tidak mempunyai jarak kepada siapa pun. Melihat karikatur Gus Dur, orang dapat leluasa menertawakannya. Tapi, disaat bersamaan terpekur merenungi pesan sosial/moral yang disampaikan.






