logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Hiburan    Puisi    Chairil Anwar

Karya Karya Chairil Anwar yang Melegenda


Ilustrasi karya karya chairil anwar
Siapa yang tak mengenal Chairil Anwar? Karya karya Chairil Anwar begitu populer dan mendarah daging bagi pencinta sastra. Meski sudah meninggal, bagi pecintanya Chairil tetap hidup sampai kapanpun sepanjang puluhan karyanya masih banyak dinikmati, didaur ulang kembali dan dipentaskan. Karya karya yang melegenda mengingat sang penyair harus meninggal diusia sangat muda, 26 tahun dan bisa dikatakan masih belum melewati usia kematangannya.

Kematangan Berpikir

Kedewasaan itu tidak ditentukan oleh umur seseorang. Anak muda sekali pun terkadang mempunyai pemikiran yang jauh lebih baik daripada pemikiran orang yang dianggap telah berpengalaman. Apalagi ketika seseorang itu banyak ditempa oleh kehidupan yang mungkin agak keras dan membutuhkan pemikiran yang mendalam sebelum bertindak.

Pada masa penjajahan dan masa perebutan kekuasaan dan keinginan memerdekakan diri, rakyat Indonesia harus berpikir jauh ke depan. Tidak ketinggalan seorang Chairil Anwar. Selain permasalahan negara yang menjadi pusat perhatiannya, ia juga menghadapi persoalan pribadi yang tidak kalah peliknya. Semua permasalahan yang terhampar bagaikan sawah nan luas itu membuat pemikiran sang penyair muda juga matang.

Sayangnya, pemikiran yang matang dari sisi ruh ini tidak dikuti oleh kematangan hati sang penyair. Ia yang menurut cerita malah mempunyai gaya hidup yang luar biasa tidak seharusnya tidak dilakukannya. Penyakit kelamin yang menimpanya adalah satu bukti bahwa ia mempunyai kehidupan seks yang tidak sehat. Memang bagi para penggemarnya kini, tidak ada yang bisa membuktikan bahwa ia memang mengidap penyakit seksual tersebut.

Seperti Khalil Gibran katakan dalam salah satu bait kalimat pujangganya bahwa diperlukan dua orang untuk menemukan kebenaran, satu untuk mengucapkannya dan satu lagi untuk memahaminya. Mungkin bait kalimat itu adalah yang paling tepat menggambarkan bagaimana kehidupan Chairil Anwar yang sesungguhnya. Yang pasti adalah bahwa dengan kekuatan ruhnya, ia mampu memberikan motivasi dan kekuatan jiwa bagi banyak orang untuk terus maju dan menantang kehidupan. Tidak mati sebelum kematian sebenarnya datang.

Dalam setiap penderitaan dan hantaman hidup yang menghujam hatinya, ia lukiskan dalam kisah berupa puisi yang memuat kata-kata penuh sajak derita dunia. Ia tahu bahwa ia mungkin tak akan hidup lama sehingga ia teriakan bahwa ia ingin hidup 1000 tahun lagi. Ia pasti tahu bahwa dengan keadaan tubuhnya yang semakin ringkih ditambah dengan beban perasaannya yang berkaitan dengan kehidupan cintanya.

Dalam puisi-puisinya, sang penyair mengungkapkan betapa dirinya sempat mencintai banyak wanita walaupun akhirnya menikahi salah satunya. Ia juga menikah namun akhirnya bercerai sebelum akhirnya ia menyerah dengan keadaannya. TBC juga membuat tubuhnya semakin tak berdaya. Inilah gambaran kesedihan yang menghantam seorang penyair yang begitu hebat dengan kata-katanya tetapi tak mampu membawa tubuhnya lebih lama lagi berada di dunia nan fana.

Dengan kehidupan seperti itu, tidaklah salah kalau Chairil Anwar seolah tak pernah kehabisan ide dan inspirasi untuk puisi-puisinya. Ia yang berjalan tengah malam menyusuri rimba kehidupan yang sama kelamnya dengan gelap malam, merasakan betapa banyaknya dosa yang telah menghujam dalam batinnya. Ruhnya memberontak dan ia ingin kembali kepada Tuhannya.

Awal Kehidupan Chairil Anwar

Chairil Anwar lahir di Medan 26 Juli 1922, atau dikenal dengan sebutan “si binatang jalang” merujuk dari karyanya bertajuk Aku Si Binatang Jalang. Ia merupakan penyair terkenal dan paling disegani di Indonesia dan dinobatkan oleh HB. Jassin sebagai pelopor puisi modern Indonesia dan angkatan tahun ’45. Chairil merupakan anak tunggal dari seorang bupati di Indragiri Riau. Kehidupannya secara ekonomi dan secara sosial, tidaklah susah. Namun, mungkin ada hal-hal yang tidak diketahui sehingga ia harus menyaksikan perpisahan kedua orangtuanya.

Ibunya bernama Saleha. Chairil Anwar masih punya ikatan pertalian darah dengan Perdana Menteri pertama republik ini, Sutan Sjahrir. Melihat jalur ini, orang bisa menilai bahwa keluarga Chairil Anwar ini memang dianugerahi kekuatan otak yang diatas rata-rata. Kecerdasan mereka benar-benar teruji. Tidak mudah untuk bisa merangkai kata dengan indah dan mampu dipahami oleh orang banyak.

Hanya orang-orang yang mempunyai intelektualitas yang baguslah yang bisa melakukannya. Chairil Anwar adalah salah satunya. Terlahir dari masyarakat yang senang berpantun dan pantai mengolah kata, Chairil Anwar tumbuh menjadi pribadi yang matang dalam memainkan setiap sendi kehidupan dan memasukannya ke dalam bait-bait syairnya. Ditambah dengan pendidikan yang bagus karena berasal dari keluarga terpandang, semakin membuatnya terasah. Beginilah kalau pengaruh lingkungan membentuk seseorang menjadi wujud diri yang bercahaya.

Awal mula pendidikannya, ia memasuki sekolah pribumi di masa kolonialisme Belanda, HIS. Kemudian ia melanjutkan ke sekolah pertama yang dimiliki juga oleh Belanda bernama Meer Uitgebreid Lager Onderwjs (MULO) namun belum sempat diselesaikan keburu ia keluar. Ia pun mulai menulis bait-bait puisi di usianya yang masih sangat remaja, namun sayangnya tak satupun dari puisi karya karya Chairil Anwar yang ditemukan. Mungkin puisi masa awal ia mulai menulis, telah hilang dalam gelap zaman.

Di usianya yang kesembilan belas tahun, pasca terjadinya tragedi di keluarga orang tuanya (perceraian) ia mengikuti ibunya pergi ke Jakarta. Sejak itu ia banyak berkenalan dengan dunia sastra yang sebetulnya sudah begitu familiar dalam hidupnya. Sekalipun sekolahnya tak diselesaikan beberapa bahasa seperti Inggris, Jerman, dan Belanda ia kuasai dengan baik. Dengan penguasaan berbagai bahasa itu, memungkinkan seorang Chairil Anwar membaca banyak nara sumber sehingga menambah ketajaman puisinya.

Penguasaan berbagai bahasa sangat membantunya membaca dan memahami karya-karya sastra penulis besar dari luar negeri seperti WH. Auden, H. Marsman, Edgar du Perron, dan sebagainya. Penulis-penulis beken tersebut sangat mempengaruhi gaya dan diksi tulisan-tulisannya selanjutnya, dan secara tidak langsung juga mempengaruhi gaya dan tatanan susastera Indonesia. Inilah salah satu hal yang seharusnya dimiliki oleh anak muda zaman sekarang. Seharusnya naka-anak muda itu belajar banyak bahasa sehingga pengetahuan mereka juga banyak dan referensi pun tidak terhalang oleh kendala bahasa.

Kehidupan pada masa itu mungkin menuntut orang untuk bisa berbahasa asing. Adanya penjajah dari Belanda, Jepang, Perancis (walau hanya beberapa tahun), membaut anak bangsa dari kalangan yang bisa mencicipi pendidikan, dipaksa mengenal banyak bahasa. Dengan demikian, pergaulan dan cita rasa mereka tidak terbatas hanya pada hal-hal yang berhubungan dengan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris semata. Mereka bisa melalangbuana hingga ke negeri-negeri dengan bahasa yang telah dikuasai itu.

Akhir Kisah Kehidupan Chairil Anwar

Kegairahannya dalam berkarya tidak diimbangi dengan kualitas hidupnya yang ia jalani secara tak sehat. Sejumlah penyakit telah menyerangnya sebelum ia berusia dua puluh tujuh tahun. Akhirnya, Chairil Anwar harus merelakan jiwanya pergi untuk selama-lamanya setelah penyakit TBC menggerogoti tubuhnya. Ia yang merupakan perokok kelas berat ditambah gaya hidupnya yang sering begadang serta hal-hal lain yang merusak tubuhnya, maka tidak mengherankan kalau angka 27 menjadi angka terakhirnya usianya.

Banyak artis yang juga berhenti pada angka 27. Sebagian besar berhenti pada angka itu karena kehidupan yang salah. Mereka peminum minuman keras, pemakai obata-obatan terlarang, merokok, dan tidak ketinggalan seks bebas. Kehidupan sebagai seorang penyair atau seorang artis mungkin membuat mereka merasa bisa berbuat seperti itu. Tidak ada yang tahu mengapa banyak sekali artis yang melakukan hal-hal yang seharusnya tidak mereka lakukan.

Penyair besar ini dimakamkan di Jakarta, Pemakaman Umum Karet Bivak. Ribuan pengunjung selalu mendatangi makamnya sebagai bukti rasa cintanya kepada sang legenda sastra Indonesia.

Karya-Karya Chairil Anwar yang membekas hingga kini. Karya yang menjadi rujukan banyak penyair muda.
Ada banyak karya yang telah dihasilkan Chairil Anwar sebelum akhir dari hidupnya. Beberapa diantaranya:

* Deru Campur Debu yang diterbitkan tahun 1949.
* Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak tahun 1942-1949.
* Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949).
* Kena Gempur terbit tahun 1951, merupakan terjemahan dari karya John Stenbeck.
* Pulanglah Ia Si Anak Hilang (1948), merupakan terjemahan karya Andre Gide.
* Tiga Menguak Takdir (1950).
* Derai-derai Cemara (1998)

Karya karya Chairil Anwar memang tak akan lekang oleh bergulirnya waktu, akan tetap abadi dalam sanubari pecinta dan penikmat karya-karyanya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Puisi Karangan Chairil Anwar 1945-1949
  • Karakteristik Puisi Lama Karya Chairil Anwar
  • Mari Menyelenggarakan Kajian Puisi Chairil Anwar
  • Makna Puisi Aku Chairil Anwar, Semangat Perjuangan
  • Aku: Judul Puisi Chairil Anwar
  • Chairil Anwar, Pendobrak Sajak Bahasa Indonesia
  • Apresiasi Makna Puisi Aku Karya Chairil Anwar
  • Menelusuri Riwayat Hidup Chairil Anwar
  • Ibu sebagai Sumber Kekuatan Hidup dalam Puisi Ibu Chairil Anwar
  • Memahami Makna Puisi Aku Karya Chairil Anwar
  • Apresiasi Puisi Alam Karya Chairil Anwar
  • Apresiasi Puisi Puisi Karya Chairil Anwar
  • Kumpulan Puisi-puisi Terkenal Chairil Anwar
  • Keindahan Antologi Puisi Chairil Anwar
  • Puisi-puisi Chairil Anwar tentang Pendidikan - ANNEAHIRA.COM
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA