Kasus Komunikasi: Cara Menjalin Komunikasi Efektif

Tidak peduli seberapa berbakatnya orang, tidak peduli seberapa kompetennya orang, kesuksesan tidak akan pernah ia peroleh tanpa adanya keterampilan efektif dalam berkomunikasi. “Komunikasi adalah keterampilan terpenting dalam hidup,” ungkap Stephen Covey.
Nah, proses komunikasi akan berjalan efektif, lancar, dan menguntungkan apabila di dalamnya termuat lima hukum komunikasi efektif (The 5 Inevitable Laws of Effective Communication). Kelima hal tersebut terangkum dalam kata “REACH”.
R adalah Respect, yaitu rasa hormat dan saling menghargai. E adalah Empathy, yaitu kemampuan untuk menempatkan diri pada kondisi yang dihadapi oleh orang lain, termasuk tenggang rasa, pengertian, dan dapat merasakan. A adalah Audible, yaitu dapat dimengerti dengan baik oleh lawan bicara. C adalah Clearity, yaitu pesan yang disampaikan jelas dan tidak ada yang ditutup-tutupi. H adalah Humble, yaitu rendah hati, mau melayani, rela memaafkan, lemah lembut, tidak menyalahkan, tidak memojokkan atau menyerang.
Siapapun yang mampu mempraktikkan pola komunikasi berdasarkan lima hal tadi, berpeluang besar untuk menjadi seorang komunikator handal yang disukai. Efek selanjutnya, yang bersangkutan akan lebih mudah untuk mempengaruhi dan mengarahkan orang lain sesuai keinginan dirinya.
Ada satu contoh kasus komunikasi yang memberi kita petunjuk tentang bagaimana menerapkan kelima hukum tersebut dalam praktik. Kasusnya sendiri terjadi sekitar lima belas abad yang lalu, akan tetapi masih sangat relevan bagi orang-orang yang hidup saat ini.
Kisah ini terjadi pada zaman Nabi Muhammad saw. Dalam sebuah hadis dikisahkan, suatu hari datanglah seorang pemuda yang hendak masuk Islam kepada Nabi Muhammad saw. Namun, dibalik keinginannya tersebut, ia mengajukan satu syarat yang sangat "tidak rasional”, yaitu meminta izin agar Nabi Muhammad tidak melarangnya untuk berzina.
Mendengar permintaan tersebut, Nabi malah tersenyum dan tidak marah. Beliau pun menggajak si pemuda berdialog.
“Wahai anak muda, mendekatlah!” Pemuda itu kemudian mendekat.
Lalu, Nabi berkata lagi, “Duduklah!” Pemuda itu pun duduk.
”Wahai pemuda,” kata Nabi saw, “sukakah kamu jika itu terjadi pada ibumu?” (Nabi bertanya bagaimana jika ibumu dizinai orang?)
“Tidak. Demi Allah, aku tidak rela!”
“Demikian pula seluruh manusia tidak suka zina terjadi pada ibu-ibu mereka,” tegas Nabi.
Nabi pun bertanya lagi, “Sukakah kamu jika itu terjadi pada anak-perempuanmu?”
Pemuda itu lagi-lagi menjawab tidak. Kemudian, Nabi bertanya bagaimana kalau hal itu terjadi kepada saudara perempuan dan bibinya. Jawaban pemuda itu pun tetap sama, “Tidak rela”.
Nabi Muhammad kemudian meletakkan tangannya di atas bahu pemuda itu sambil berdoa, “Ya Allah, sucikanlah hati pemuda ini. Ampunilah dosanya dan peliharalah dia dari zina.”
Apa yang terjadi kemudian?
Sejak peristiwa itu terjadi perubahan drastis pada diri si pemuda. Sekarang, tidak ada perbuatan yang paling dibenci oleh pemuda itu selain melakukan zina.
Dalam dialog tersebut tergambar kepiawaian komunikasi efektif Nabi Muhammad dan kehebatannya dalam mengemas pesan yang ingin disampaikan dan mempengaruhi lawan bicaranya.
Langkah pertama, Nabi memperlakukan si pemuda dengan hormat. Nabi tetap menghargai si pemuda (respect) walau permintaannya sangat tidak etis. Langkah kedua, Nabi saw berusaha untuk merasakan apa yang ada dalam hati si pemuda (empathy) sehingga bersikap frontal, menyerang, dan menyalahkan. Seandainya beliau langsung mengatakan tidak boleh, haram, terkutuk, dasar tidak punya pikiran, lancang, dan sejenisnya, boleh jadi si pemuda akan mundur teratur dan mengurungkan niatnya untuk masuk Islam.
Langkah ketiga, Nabi menyampaikan pesan yang sangat begitu mudah dimengerti dan sesuai dengan pemahaman si pemuda jelas (audible) dan penuh keterbukaan (clearity). Langkah keempat, beliau menjalin komunikasi dengan landasan akhlak mulia (humble); rendah hati, lemah lembut, rela memaafkan, mau mendengarkan, dan penuh pengendalian diri.
Nabi tidak langsung memberikan dalil tentang haramnya zina dan akibat-akibat buruk yang ditimbulkannya. Beliau “cukup” menyentuh hati dan pikiran si pemuda hingga keinginannya berubah seratus persen menjadi penolakan.
Selain itu, Nabi Muhammad pun memiliki “senjata pamungkas” dalam memengaruhi dan menaklukkan lawan bicara, yaitu kepercayaan sebagai buah dari integritas diri yang telah teruji. Pemuda itu berani meminta izin untuk berzina, karena ia percaya bahwa Nabi Muhammad adalah sosok yang jujur dan bisa memberikan solusi. Sebab, jalinan komunikasi yang efektif tidak mungkin terjadi apabila orang yang berkomunikasi tidak saling percaya.






