Kasus Pernikahan Dini, Sebuah Solusi?
Ilustrasi kasus pernikahan dini
Sering ditengarai bahwa menjaga anak perempuan dua kali lipat repotnya daripada menjaga anak laki-laki. Namun dewasa ini, menjaga keduanya sama repotnya. Alih-alih bermaksud menjaga dan mengawasi pergaulan keduanya, yang justru ada remaja Anda justru menjauhi Anda.
Mereka menilai Anda terlalu rewel, lebay, ceriwis dan berbagai sebutan lainnya. Dan Anda juga cenderung merasa takut pada kasus pernikahan dini secara berlebihan. Dan kurang memikirkan antisipasi sebelum tiba-tiba hal tersebut mendatangi Anda.
Statistika Kasus Pernikahan Dini
Apa yang paling ditakutkan oleh para orangtua, termasuk juga Anda? Ranking tertinggi adalah hamil di luar nikah. Tetapi ketakutan tersebut justru dibarengi oleh sikap Anda yang melonggarkan jam malam untuk para gadis remaja, membiarkan remaja pria menggunakan fasilitas kendaraan pribadi tanpa pengawasan, mengijinkan remaja Anda mendatangi pesta-pesta yang bahkan Anda sendiri tidak tahu siapa tuan rumahnya. Bukankah dua tindakan tersebut oleh Anda sebagai orangtua sangat bertolak belakang. Anda ketakutan, tetapi Anda juga membiarkan.
Maraknya kejadian "hamil di luar nikah" merupakan momok menakutkan bagi setiap orangtua. Peristiwa hamil di luar nikah padahal tidak hanya terjadi pada kaum remaja saja, namun juga terjadi pada sebagian orang dewasa yang belum terikat oleh perkawinan. Hanya sayangnya Anda hanya takut kepada remaja Anda apabila kejadian tersebut menimpa buah hati mereka.
Padahal yang sebenarnya, seorang anak hingga kapanpun merupakan tanggung jawab Anda, sejauh mereka memang belum terikat oleh sebuah perkawinan yang syah. Sekalipun anak Anda telah menjadi bujang yang telah mapan dengan pekerjaan cemerlangnya, bahkan dengan fisik tubuh yang lebih menjulang dari Anda. Namun Anda tidak dapat melepaskan sedikitpun pengawasan terhadap mereka. Inilah yang dinamakan tanggungjawab yang berkesinambungan.
Dari angka statistika yang diperoleh menunjukkan bahwa 65% remaja di Bandung pernah melakukan hubungan suami istri. 78% remaja metropolitan dan kota-kota besar sudah merasakan bagaimana itu sebuah ciuman. Dan 35% siswi-siswi sekolah sudah pernah melakukan abortus. Bukankah angka-angkat tersebut benar-benar mencengangkan dan membuat banyak orang dari berbagai macam kalangan resah.
Tidak dipungkiri pada akhirnya gaya hidup yang serba bebas menjadi kambing hitamnya. Penyebab berikutnya yang dianggap sebagai biang keladi adalah perilaku yang tak mengindahkan peraturan, serta adanya degradasi moral yang kian meningkat. Tak ada lagi rasa malu ketika melakukan sesuatu yang melanggar norma kesopanan, salah satunya adalah dengan melakukan hubungan seks sebelum nikah.
Bila kita membaca surat kabar baik secara online dan offline, maka kita akan tercengang mengetahui berapa jumlah remaja yang melakukan hubungan seks di luar nikah. Beberapa pihak ada yang mengatakan bahwa pernikahan dini adalah sebuah solusi aman buat mereka agar tidak sampai berbuat hal-hal yang tidak diinginkan. Ya, kasus pernikahan dini yang sekarang ini banyak terjadi disinyalir sebagai langkah tepat untuk menyelamatkan masa depan remaja.
Pernikahan Dini Sebagai Solusi, Benarkah?
Dari banyak kejadian tersebut, beberapa orangtua sampai kepada sebuah kesimpulan. Apakah memang perlu menikahkan anak lebih awal, ketika memang tanda-tanda keintiman antara sepasang kaum muda mulai terlihat. Sebagai antisipasi sebelum akhirnya mereka melangkah lebih dahulu pada hal-hal yang belum mereka boleh melakukan. Sehingga marak berbagai pendapat tentang 'pernikahan dini' antara yang pro dan kontra dengan langkah tersebut.
Masih dipertanyakan apakah pada akhhirnya kasus pernikahan dini memang benar-benar menjadi solusi yang efektif. Kasus pernikahan dini yang dimaksud di sini, tentunya bukan pernikahan dini yang didahului dengan MBA (married by accident). Melainkan pernikahan yang memang didasarkan atas kerelaan hati demi menyelamatkan masa depan agar tidak masuk ke jurang kemaksiatan. Menutup pintu haram dan membuka kepada manfaat dan kehalalan.
Sebagian yang pro terhadap solusi ini, mungkin setuju dan merasa hal ini benar-benar cukup efektif. Mengingat, pada akhirnya toh tujuan orang hidup adalah untuk berkeluarga juga. Namun, ada baiknya yang pro terhadap pernikahan dini untuk kembali membuat langkah-langkah antisipasi yang cukup jelas, batasan dan aturannya.
Agar orangtua justru tidak terpuruk untuk kedua kali, ketika ternyata justru pernikahan dini tersebut menjadi pintu pembuka masalah kedua atau berikutnya. Telaahlah kembali akan kesiapan putra-putri Anda, kedewasaan yang benar-benar hakiki sudahkah mereka miliki, serta mental yang benar-benar telah kuat dan teruji dalam membina biduk rumah tangga mereka kelak.
Dan kepada yang kontra terhadap solusi ini, sebaiknya sedikit membuka wawasan agar tidak terjebak pada aturan yang terlalu keras, ketat dan mengekang. Kerasnya Anda terhadap aturan yang diberlakukan kepada putra-putri Anda, dan juga sekaligus menentang pernikahan dini, yang mungkin saja justru menjadi solusi terbaik; sebaiknya perlu penganalisaan lebih lanjut.
Analisa Kasus Pernikahan Dini
Setiap individu memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda. Ada yang memiliki tingkat kedewasaan yang tinggi ada pula yang belum, meski memiliki usia yang sama. Menikah merupakan suatu hal yang harus dipikirkan dengan matang dan dalam. Masalahnya, menikah tidak hanya untuk sehari dua hari, melainkan selamanya (dunia akhirat).Menikah juga merupakan berkomuninya dua keluarga yang disatukan oleh sebab pernikahan tersebut.
Karena begitu banyak sekali pertimbangan yang ada. Maka, bagi remaja yang terdorong untuk melangsungkan pernikahan dini; apa jadinya bila secara emosional remaja belum matang melangsungkan pernikahan? Apalagi pada umumnya sebagai orangmuda kaum remaja masih memiliki tingkat ego yang masih tinggi. Mampukah mereka saling mengendalikan ego masing-masing dan melebur ke dalam suatu pernikahan?
Memang sebenarnya bahwa pernikahan dini juga bukanlah sesuatu yang buruk. Asalkan sebagai pelaku pernikahan memang benar-benar telah merasa siap tanpa adanya tekanan dari pihak manapun. Dan orangtua kedua belah pihak juga telah benar-benar siap pula dengan segala konsekwensi yang mungkin ada pasca pernikahan berlangsung.
Sebaiknya pula pernikahan dini dilangsungkan bukan karena untuk menutupi aib anak karena telah telanjur hamil. Tapi benar-benar dilakukan sebagai antisipasi yang benar-benar menjunjung tinggi moralitas dan kehidupan beragama.
Beberapa Pertimbangan Sebuah Pernikahan Dini
Namun demikian, untuk memutuskan apakah putra-putri Anda memang perlu melangsungkan pernikahan dini, dibutuhkan banyak pertimbangan, di antaranya:
1. Tingkat Dedewasaan/emosional
Bisa dibilang tingkat kedewasaan memiliki prioritas pertama yang harus dipikirkan sebelum memutuskan untuk menikah. Apakah seseorang telah cukup dewasa untuk berbagi dunianya dengan orang lain? Apakah seseorang sudah siap bila di tengah jalan ada hambatan dan rintangan, toh menikah tak hanya harus siap menikmati indahnya saja, melainkan juga harus siap melewati beragam cobaan dari berbagai macam aspek.
2. Kesungguhan
Kedewasaan bisa dipelajari dengan menikah, yah pendapat seperti itu memang tidak salah. Nyatanya banyak orang yang sebelum menikah memiliki sifat kekanak-kanakan dan setelah menikah dia berubah menjadi bijak. Namun, untuk mendapatkan itu semua diperlukan kesungguhan. Apakah dia memang sungguh-sungguh ingin menikah di usia muda karena keinginan hati atau hanya menuruti trend masa kini.
3. Komitmen
Tak jarang, banyak pasangan yang menikah di usia muda saat masih kuliah, harus merelakan karier kuliahnya karena alasan keluarga!! Sebenarnya hal tersebut tak bisa dijadikan alasan. Bagaimana pun juga, baik pendidikan maupun keluarga adalah dua hal penting yang saling melengkapi. Itu sebabnya, sebelum menikah di usia muda, tanyakan komitmen pada hati nurani, apakah kuliah tak akan terbengkalai? apakah studi tidak akan terganggu?
Tiga bagian-bagian penting tersebut harus dipikirkan baik-baik sebelum memutuskan untuk menikah muda. Bukan untuk membuat takut, melainkan untuk memastikan kesungguhan serta komitmen dalam diri. Jangan sampai pernikahan dini yang dipilih sebagai jalan hidup hanya bisa bertahan seumur jagung, hanya karena persoalan-persoalan sepele.
Semoga bermanfaat bagi Anda dalam menanggapi berbagai kasus pernikahan dini dewasa ini.

