Tidak Ada yang Menentang Kebenaran Alqur an

Metakonsep dalam Hermeneutik
Ketika kampus-kampus tradisional Islam seperti IAIN menambahi beban kuliah mahasiswanya dengan ilmu hermeneutik, yang digunakan untuk membedah kebenaran Alqur an (selanjutnya: Al-quran). Tentu perlu disimak ungkapan filsuf Perancis Merceau Ponty ini, yang dia tujukan dalam memahami hermeneutik:
“Karya-karya sastra sebaiknya dipandang tidak sebagai obyek analisis tapi sebagai teks-teks berbicara yang dibuat manusia. Seseorang harus mempertaruhkan “dunia” personalnya jika dia masuk ke dalam dunia-hidup puisi. Apa yang dibutuhkan untuk itu bukan beberapa metode sains yang masih samar, atau “anatomi kritisisme”, tetapi sebuah pemahaman humanistik mengenai apa interpretasi terlibat?”
Mampus sudah para pendukung tafsir modern kepada kitab suci. Metode sains yang begitu blatant-vulgar ingin memasukan Al-quran sebagai karya peradaban manusia yang dibuat oleh manusia, diminta untuk sedikit tenggang menyingkirkan anatomi kritis mereka.
Dan mengembalikannya kepada pengalaman humanistik dalam proses penerjemahan Al-quran, yang sudah dilakukan dengan sangat baik oleh tata cara klasik dalam Islam. Ketika diingatkan oleh Allah Swt.
”Sesungguhnya Kami telah turunkan Al-Kitab sebagai sebuah bacaan berbahasa arab supaya kalian bertaqwa, dan sesungguhnya ia di sisi Kami di Ummul kitab (lauh mahfuz) benar-benar tinggi (nilainya) dan amat banyak mengandung hikmah”. (Az-Zukhruf 3-4).
Dan dengan tambahan dari penulis, Islam diturunkan di tanah Arab yang gersang, yang hanya berbahasa dan bersastra salah satu hiburan orang-orang padang pasir itu. Karena Tuhan mengakui sisi kebahasaan lebih dari angan-angan para filologis yang mendabakan bahasa yang indah. Bahasa Arab secara gampangnya, tidak mengalami perubahan kata dan makna seperti bahasa lainnya.
Mushaf Al-quran saat ini, bahasanya masih seperti ketika dikumpulkan 14 abad yang lalu. Akar suku kata bahasa arab dipahami dalam perubahan sintak, yang bisa dipelajari dan ilmunya sudah lebih dahulu eksis. Nahwu, Sharaf, Balaghah, Sirah, Maani, Baadi, Bayan, adalah tatacara untuk memahami dan menafsirkan Al-quran, secara klasik.
Hermeneutik yang baru-baru ini diperkenalkan hanya memenuhi wilayah pagarnya saja, dan tidak pernah masuk ke dalam Al-quran sepenuhnya, seperti apa yang telah mereka lakukan pada Bible umat kristiani.
Walaupun dijelaskan sampai kuping bengkak, tentunya para sarjana ‘Islam’ tetap percaya dengan metode ilmiah, dan cuek tidak ingin pakai cara klasik, selain lebih gampang (artinya mereka malas belajar bahasa Arab), dengan hermeneutik mereka berkilah bisa menjadikan Al-quran tidak ketinggalan jaman. Pikiran culas yang patetik.
Kebenaran dan Keajaiban Matan
Dalam Al-quran sudah disodorkan isi atau matan tentang bukti-bukti ilmiah tentang kosmologi, fisika, biologi, kimia, oceanologi, sastra, sejarah, dan banyak ilmu lainnya yang manusia bahkan belum klasifikasikan dalam sistem teori ‘universal’ gaya mereka sendiri.
Namun orang, sekali lagi orang yang menggunakan Hermeneutik menuduh Al-quran sebagai ajaran yang sarat dengan kekerasan, misogini atau kebencian pada perempuan, tidak progesif, membenci Amerika, dan sebagainya.
Kebencian orang pada Al-quran, dikarenakan ketidakpahaman dan hanya melihat segelintir muslim saja, justru menegaskan kebodohan mereka sendiri untuk menjauhkan Umat Islam dari kitab sucinya sendiri. Jika mereka tidak menghalangi, menyelewengkan, dan memisahkan umat Islam dengan kitab sucinya, maka mereka akan mendapati muslim terbaik yang akan membuka gerbang surga dunia kepada umat manusia lain.
Mengapa demikian? Karena dalam Al-quran, manusia harus memahami tidak hanya ayat Qauliyah, yang berisikan tentang penanaman kepada karakter keimanan, kesholehan sosial, dan juga upaya berasosiasi dengan sesamanya.
Melainkan juga ayat Kauniyah, tentang bagaimana manusia mampu melakukan networking dengan alam semesta, memahami geografi bumi, memahami iklim, langit, tetumbuhan, dan binatang yang melata di atas bumi. Keajaiban Al-quran, adalah orang yang mengakuinya mampu memberikan rahmat kepada alam dan kepada sesama manusia. Wallahu a’lam***






