Banjir di Zaman Nabi Nuh dan Kebesaran Allah Swt

Salah satu tanda kebesaran Allah swt adalah peristiwa banjir yang melanda kaum Nabi Nuh. Banjir ini oleh beberapa kalangan diklaim terjadi di seluruh dunia sehingga bahtera Nuh seharusnya merupakan bahtera raksasa yang menampung sepasang demi sepasang binatang.
Masalahnya, bagaimana mungkin bahtera Nuh menampung binatang yang misalnya hanya ada di benua Australia, seperti Kanguru, padahal Nuh ada di Arabia? Apakah Nuh perlu menyeberangi samudera dan daratan hanya untuk memungut Kanguru dan binatang lain seperti Koala, lantas menyeberang ke Papua mengambil Cenderawasih, ke Sulawesi mencari Anoa agar semua binatang masuk ke bahteranya?
Oleh karena ketidaklogisan ini, muncul teori bahwa sebenarnya banjir yang melanda Kaum Nuh cuma terjadi pada sebuah daerah, yaitu daerah Kaum Nuh tersebut; bukan di seluruh dunia. Dengan demikian, yang diselamatkan oleh Nuh hanyalah binatang ternaknya, sepasang demi sepasang, sehingga bahteranya logis menampung manusia dan hewan.
Jika diteliti lebih jauh, sebenarnya kisah banjir tidak hanya milik Nuh. Bahkan, terdapat kisah Gilgamesh yang dianggap sebagai prototipe kisah banjir Nuh. Ada pula kisah yang sama di daratan dunia yang lain, mulai dari Afrika, Asia, Eropa, Australia, hingga benua Amerika. Semua mengisahkan pola yang hampir sama.
Ada (1) orang yang beriman kepada Tuhan (selalu berbuat baik), (2) diberitahu akan terjadi banjir oleh Tuhan (atau dalam masyarakat yang percaya banyak dewa, oleh dewa tertentu, atau mungkin oleh nenek moyang yang sudah meninggal), (3) mengumpulkan saudara-saudaranya dan orang yang percaya, (4) menciptakan kapal meski cuaca sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan hujan deras apalagi banjir, (5) diolok-olok kaumnya, lalu (6) ketika banjir, selamat dan menjadi cikal bakal penerus kehidupan dari kaum tersebut.
Apa yang bisa dipetik dari kisah Nuh atau kisah orang bijak lain yang selamat dari banjir di seluruh dunia? Kisah-kisah ini sebenarnya bisa digunakan untuk menggambarkan datangnya kiamat. Bagi orang tidak beriman, kiamat sama seperti banjir yang datang ketika cuaca kering, sesuatu yang tidak mungkin.
Lantas, ketika hanya sedikit orang yang masih peduli, datanglah Kiamat. Hanya orang beriman (yang berbuat baik) yang akan selamat sedangkan orang yang tidak percaya Tuhan dan hidup dengan cara membenci sesama, akan “terseret banjir” atau dalam kata lain, ketika tiba hari kebangkitan, ruhnya rusak, tidak siap, dan menderita berkepanjangan di Akhirat karena Akhirat hanyalah tempat ruh yang selalu mampu jatuh cinta.






