logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Globalisasi Budaya

Mempelajari Kebudayaan China Lewat Ajaran Konfusius


Ilustrasi kebudayaan china

Ketika kemajuan suatu bangsa melebihi bangsa-bangsa lain yang ada di dunia, maka bangsa itu akan menjadi target yang wajib dipelajari. Begitupun dengan bangsa China. Bangsa satu ini telah menjadi satu bangsa yang mempunyai kebudayaan yang sangat tinggi sejak ribuan tahun yang silam. Jejak-jejak peradaban China tentu saja mempengaruhi apa yang terjadi pada China pada saat ini. Tidak mengherankan kalau banyak bangsa lain yang berusaha mengetahui apa yang menyebabkan kebudayaan China begitu maju. Dari siapa saja orang-orang China dahulu mengetahui banyak ilmu dan pemahaman tentang kehidupan?

China dan Peradabannya

China mempunyai banyak ahli filsuf yang sangat mempengaruhi peradaban dan kebudayaannya. Salah satu filsuf yang cukup disegani adalah Konfusius yang hidup pada 551 atau 552-479 SM. Keberadaan seorang filsuf yang dianggap sebagai seorang guru merupakan satu ciri masyarakat yang telah berpikir maju. Masyarakat yang mempercayai apa yang dikatakan oleh seseorang yang dianggap sangat bijaksana pada zamannya itu akan sangat mempengaruhi jalan pikiran masyarakat dalam era kehidupan filsuf itu sendiri atau bahkan jauh dalam lagi pengaruh ajarannya hingga menembus abad, seperti yang terjadi pada seorang Konfusius. Ajaran sang filsuf bahkan disamakan dengan sebuah agama yang harus dituruti.

Bagaimanakah seorang filsuf mampu mempengaruhi yang terkenal dengan beragam peninggalan menakjubkan dengan kejayaan yang mungkin tak bisa ditandingi kebudayaan dari negara mana pun di dunia. Tampaknya, China memang ditakdirkan sebagai negara sumber pelajaran hidup yang penuh misteri. Kekaguman atas budaya yang sudah sangat tua ini membuat orang berbondong-bondong pergi ke China untuk melihat secara langsung bukti peninggalan budaya tersebut.

Kebudayaan yang luar biasa itu tak hanya berupa bangunan dan gaya hidup. Cara berkomunikasi dengan manusia lainnya dan cara menghargai bumi, juga termasuk dalam ajaran yang diberikan oleh sang filsuf. Bagaimana Konfusius menggambarkan suatu pelajaran bagai sesuatu yang maya bila tak diamalkan. "Aku melihat, aku tahu. Aku mendengar, aku mengerti. Aku melakukan, aku paham." Perkataan seseorang yang tidak hidup di zaman modern itu sangat abadi. Tidak heran hingga saat inipun semua ajaran sang filsuf masih saja mempengaruhi perkembangan peradaban dan kebudayaan China.

Tembok Raksasa, Kota Larangan, lebih dari 20 kota modern, tata letak kota, kemajuan bisnis, pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan walaupun pendapatan per kapita penduduknya masih di bawah Singapura, dan manuver-manuver politik presidennya, semakin membuat banyak orang penasaran. Sesungguhnya apa yang membuat bangsa China seolah sangat tahu apa yang harus dilakukan dalam menahlukkan semua orang dan bangsa yang berusaha bersaing dengan mereka.

Selain berusaha menjadi yang terbaik dan hanya melakukan yang terbaik. Bangsa China terkenal dengan ketekunan dan kesabarannya dalam menahlukkan emosi dirinya sendiri. Begitu banyak digambarkan bagaimana seorang pendekar yang mengambil dan menggunakan emosi lawannya sebagai senjata untuk melawan lawannya itu. Pengendalian emosi ini sangat terlihat ketika para pendekar dengan hati dan jiwa yang tenang, menghadapi serangan seekor kobra yang sangat ganas. Penggambaran ini terlihat dalam salah satu adegan film Karate Kid. Itulah negeri China yang sempat membuat berbagai misteri dan yang kini berusaha membuka diri kepada satu peradaban dunia.

Bangsa ini telah dengan sukses memberikan bukti bahwa apa yang menjadi pegangan hidupnya itu memang ampuh. Keberadaan rel kereta api yang membelah negera Amerika Serikat, yang membentang dari Timur ke Barat itu, diakui oleh bangsa Amerika sendiri bahwa rel kereta api yang masuk dalam salah satu keajaiban dunia teknologi itu, tak akan berhasil tanpa adanya kerja keras dari para pekerja dari China yang didatangkan langsung dari China.

Indonesia juga sangat dipengaruhi oleh keberadaan orang-orang China yang merantau dan berusaha mencari penghidupan di negeri khatulistiwa ini. Mereka dengan penuh ketekunan walaupun tidak mengenal siapapun berusaha keras untuk membuktikan bahwa mereka mampu bertahan dan bahkan membangun kekaisaran ekonomi yang tangguh. Hingga saat inipun dari 10 orang terkaya di Indonesia, sebagian besar merupakan orang-orang keturunan China. Jangan-jangan kaum menengah ke atas yang ada di Indonesia ini, sebagian besar adalah orang keturunan China.

Ini adalah satu kehebatan dari satu keyakinan. Ketika hidup ini dipenuhi dengan keyakinan dan kerja keras, maka keberhasilan itu menjadi sesuatu yang akan mengejar dan tak perlu dikejar lagi. Inilah yang diyakini oleh orang-orang China dan keturunannya. Mereka rela tidak menjadi pegawai negeri dan lebih yakin merambah dunia bisnis dengan segala resikonya. Mereka benar dan mereka bisa menikmati keberhasilannya. Hanya saja orang lain menjadi iri kepada mereka. Iri dan cemburu dari orang-orang yang tak mampu melakukan hal yang sama.

K'ung-tzu atau Kongzi

Konfusius atau K'ung-tzu atau Kongzi merupakan filsuf yang tidak hanya terkenal dan cukup berpengaruh di China, tetapi di seluruh dunia. Hebatnya lagi, ajarannya hingga sekarang tetap saja dipelajari dan dianut oleh banyak orang sehingga ajarannya disebut Konfusianisme. Ajaran Konfusius ini dianggap sebagai salah satu ajaran yang masih sesuai dengan zaman manapun. Hal ini karena ajarannya menyangkut hidup dan kehidupan manusia.

Konfusius mengajarkan bagaimana cara hidup dengan menghargai alam dan manusia. Konfusius mengajarkan untuk menjadi patuh. Namun, kepatuhan itu sendiri tidaklah buta. Kepatuhan yang masih dalam koridor kemandirian. Oleh karena itu, setiap orang harus belajar. Belajar itu tidak hanya dengan mendengar, tetapi harus melakukan. "I hear and I forget, I see and I remember, I do and I understand."

Konfusius melarang muridnya untuk khawatir tentang kehidupan setelah mati. Beliau malah menganjurkan murid-muridnya untuk hidup dalam harmonisasi yang sebenarnya. Misalnya, setiap orang harus menghargai, membantu, dan menghormati orang lain dengan cara melayani kebutuhan orang lain, mengajarkan ilmu yang dimiliki, atau sekadar menjadi anak yang baik bagi orangtua dan menjalankan tugas sebagai anggota masyarakat dengan baik pula.

Adalah sesuatu yang sangat menyenangkan menghabiskan waktu bersama teman sambil bermain musik, berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan, dan membantu orang lain menyelesaikan tugas-tugasnya. Itulah yang selalu diajarkan oleh Konfusius yang tidak hanya seorang filsuf, tetapi seorang guru yang sangat dihormati.

Ajaran yang membuat harmoni hidup lebih terasa inilah yang membuat semakin  banyak orang yang belajar dari apa yang telah diberikan oleh sang filsuf. Entah dari mana sang filsuf mendapatkan pengetahuannya yang luar biasa itu. Mungkin saja ia memang dianugerahi ketajaman batin dan kemurnian jiwa yang membuatnya mampu melihat yang tidak dilihat oleh orang lain dan mampu memahami yang tak mampu dirasakan oleh orang lain.

Kedekatan dengan alam dan kedekatan dengan sang pencipta mampu membuat satu ajaran yang sangat membumi. Tidak semua orang mampu melakukan hal seperti ini. Tidak mengherankan kalau Konfusius menjadi salah satu guru yang sangat disegani. Guru yang memberikan inspirasi kepada semua orang dari berbagai negara dan berbagai ras dari era kehidupan yang berbeda.

Tiga Pilar Ajaran Konfusius

Konfusius menekankan tiga pilar ajaran yang harus dilakukan oleh para muridnya. Ketiga pilar tersebut adalah ritual, pendidikan, dan keluarga. Ritual termasuk upacara-upacara menghormati para leluhur karena tak akan ada kekinian tanpa masa lampau, upacara kematian, cara-cara berpakaian, makan yang baik, hingga memperlakukan tamu dengan hormat. Konfusius berpendapat bahwa kebaikan yang dilakukan oleh seseorang itu akan berdampak pada orang itu sendiri.

Tiada satu kebaikan yang tidak memberikan kebaikan. Jadi, kalau ingin mendapatkan akhir yang baik, harus terus berusaha menjadi baik kepada siapa pun dan apapun. Kebaikan yang diberikan kepada hewan yang menjijikan sekalipun suatu saat akan berbuah satu kebaikan yang tak pernah disangka-sangka. Menjadi baik dan tetaplah baik hingga ajal menjemput.

Dalam pendidikan, Konfusius mengajarkan untuk selalu berpikir dengan matang sebelum melakukan sesuatu. Sementara itu, keluarga merupakan tempat pertama untuk belajar bagaimana saling menghormati dan menghargai. Ajaran Konfusius yang begitu luas dan melingkupi seluruh tata kehidupan itulah yang membuatnya masih memainkan peran yang sangat penting hingga kini dalam kehidupan rakyat China.

Tidak mengherankan kalau kini ada satu undang-undang khusus untuk melindungi orangtua. Undang-undang itu memungkinkan orangtua mengadukan anaknya yang menelantarkannya. Itulah kebudayaan China yang merasa tak akan bisa maju tanpa menghargai dan menghormati apa yang telah dilakukan oleh para leluhurnya.

Tolong di SHARE :
Share
Artikel Terkait
  • Pengaruh Budaya Barat pada Masyarakat Pribumi
  • Kesenian Riau di Tengah Serbuan Budaya Asing
  • Pengaruh Kebudayaan Barat pada Kebudayaan Indonesia
  • Mengkaji Fungsi 7 Unsur Kebudayaan Universal
  • Batik Unik - Batik yang Dibuat oleh Orang Amerika
  • Tradisi Hallowen, Modifikasi Budaya Barat
  • Budaya dan Ekonomi, Faktor Penyebab Globalisasi
  • Keindahan Sebagai Imbalan Sifat Jujur
  • Belajar Kebudayaan Italia Lewat Film Eat, Pray, Love
  • Nilai Filosofis Senjata Polisi
  • Budaya Asing - Foot Binding, Tradisi China yang Menyakitkan
  • Dampak Globalisasi Terhadap Perekonomian dan Nilai-Nilai Nasionalisme
  • Budaya Global: Budaya Tato Masyarakat Suku Mentawai
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Jl. Bojong Sereh No.668
Bandung 40376 Jawa Barat - INDONESIA