logo anne ahira
Close x

AnneAhira.com    Sosial & Budaya    Budaya    Budaya Melayu

Kebudayaan Melayu yang Semakin Terkikis


Ilustrasi kebudayaan melayu

Berbicara mengenai kebudayaan melayu, kita akan berkiblat pada pada provinsi Riau dan kepulauannya karena konon kabarnya di sanalah pusat kerajaan Melayu yang sesungguhnya. Orang Riau adalah suku bangsa melayu yang mendiami belahan barat nusantara kita.

Mereka adalah orang-orang yang bangga dengan budayanya terutama tarian-tarian, atau seni berpantun yang mereka tularkan pada khazanah sastra nusantara yang menjadi kekayaan sastra Indonesia. Namun sayang, masyarakat Riau kurang peduli dengan kebudayaan yang bersifat materi, seperti cagar budaya dan situs peninggalan kerajaan yang tidak dirawat dengan baik.

Padahal, situs terbesar kerajaan Melayu ada di provinsi Riau ini. Berita terakhir menyebutkan situs ini sekarang dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Pemerintah daerah sendiri seolah sudah tidak peduli dengan warisan budaya masa silam.

Berbagai peninggalan masa lampau banyak di temukan di kepulauan Riau. Salah satu kerajaan yang pernah berjaya di sana adalah kerajaan Lingga dengan pusat pemerintahan di pulau Penyengat. Peninggalkan benda budaya tersebut berupa bangunan masjid, benteng, dan makam raja-raja Riau Lingga. Namun sayang, peninggalan ini kurang terawat, seolah dibiarkan mati dimakan zaman.

Kebudayaan Melayu – Seperangkat Aturan Hidup Budaya Melayu

Kebudayaan merupakan hasil cipta dan karsa manusia dalam sebuah kelompok masyarakat. Kebudayaan ini sifatnya mengikat anggotanya dalam kehidupannya sehari-hari, terutama dalam menjalani aturan hidup. Kebudayaan melayu merupakan salah satu kebudayaan terbesar yang hidup di Indonesia. Salah satu daerah yang menjadi keanggotaan kebudayaan ini adalah di daerah Riau.

Kebudayaan melayu sebenarnya tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Sulawesi. Sekilas, kebudayaan ini tidak berbeda dengan kebudayaan melayu yang berkembang di negara tetangga kita Malaysia, karena memang berasal dari satu rumpun. Perkembangan kebudayaan ini sangat pesat melalui aturan hidup dan adat-istiadatnya yang khas.

Dalam sebuah budaya memuat seperangkat aturan hidup yang mengatur kehidupan anggota masyarakatnya, termasuk dengan kebudayaan melayu. Seperangkat aturan hidup ini yang menjadi landasan baik landasan berpikir, dan landasan berperilaku dalam kehidupan masyarakatnya. Dengan cara menjadikan seperangkat aturan hidup ini sebagai landasan berpikir, bersikap dan berperilaku menjadikan kebudayaan melayu bisa bertahan.

Ciri khas seperangkat aturan hidup yang digunakan dalam sebuah budaya adalah bahasa. Kebudayaan melayu terkenal dengan bahasanya yang khas. Bahkan bahasa Indonesia yang kita gunakan saat ini berasal dari bahasa Melayu. Dengan kata lain, bahasa Melayu menjadi akar dari bahasa Indonesia. Disebagian wilayah yang menganut budaya melayu masih menggunakan bahasa Melayu yang sangat kental. Hal ini jarang kita temui bila masyarakat suku melayu berada dalam wilayah budaya lain.

Pada umumnya dalam sebuah budaya beberapa seperangkat aturan hidup itu mengatur beberapa tahap kehidupan masyarakatnya, tidak terkecuali dengan melayu. Pada dasarnya setiap budaya memiliki tahapan kehidupan dalam budaya berupa kelahiran, pandangan hidup, perkawinan, upacara adat, sampai kematian. Semua tahapan hidup itu diatur dalam sebuah kebudayaan. Setiap tahapan kehidupan dalam sebuah kebudayaan diatur oleh seperangkat aturan dalam budaya tersebut.

Kita tentu masih bisa melihat bagaimana seperangkat aturan tersebut diberlakukan dalam setiap tahapan kehidupan masayarakatnya. Sebagai contoh dalam tahap kelahiran, ada serangkat aturan budaya yang harus dilakukan yaitu prosesi potong rambut bayi dan berdabung. Aturan adat tersebut masih diberlakukan oleh masyarakat melayu. Demikian halnya dengan tahapan  kehidupan pada saat akan diberlangsungkannya pernikahan. Ada beberapa aturan adat yang harus ditaati, seperti adat berzanzi dan sebagainya.

Jadi sudah jelas bagaimana pengaruh sebuah kebudayaan terhadap kehidupan masyarakatnya. Bahwa kita tidak bisa lepas dari seperangkat aturan hidup yang diatur dalam budaya kita, termasuk dengan kebudayaan melayu. Seperangkat aturan hidup yang akan menjadi landasan dalam memahami dunia dan memaknai dunia dalam sudut pandang budaya yang bersangkutan. Dengan kata lain, seperangkat aturan hidup tersebut mengikat kehidupan masyarakatnya.

Kebudayan Melayu - Pudarnya Pelestarian Budaya

Usaha-usaha pelestarian memang diadakan ala kadarnya, namun tetap saja selalu terbentur masalah dana, sehingga usaha pelestarian pun tidak maksimal. Memang diperlukan dana yang tidak sedikit untuk memelihara lahan seluas 20 hektar. Namun segala sesuatu kita harus dikembalikan pada niat. Jika ada kecintaan terhadap budaya sendiri, dana sebesar apa pun pasti dianggarkan karena pepatah Melayu sendiri mengucapkan, jika ada kemauan pasti di sana ada jalan.

Nah, situs kerajaan Lingga pun tidak akan menjadi dunia yang hilang jika dirawat dengan baik dan dijadikan objek wisata. Sekarang coba tanyakan pada orang awam, di pulau Jawa atau di Sumatera sendiri adakah yang tahu kerajaan Lingga. Saya yakin jawabannya tidak tahu. Padahal, kerajaan Lingga adalah kerajaan yang cukup besar yang menyimpan sejarah Melayu kuno.

Begitu pun dengan karya-karya sastra peninggalan pujangga Melayu yang terabaikan di perpustakaan Nasional Provinsi Riau. Padahal, orang Melayu boleh berbangga karena masyarakatnya di masa lalu mahir dalam menulis naskah, terutama karya sastra. Naskah-naskah Melayu sangat terkenal penyebarannya di nusantara, bahkan banyak disukai suku bangsa lain karena kandungan isinya yang sarat dengan nasihat dan makna.

Sebut saja nama pujangga Riau yang terkenal, Raja Ali. Beliau adalah pujangga yang pernah hidup pada awal abad ke-18. Beliau berasal dari pulau Penyengat, yaitu pusat pemerintahan kerajaan Lingga. Beliau menulis paparan sejarah sejarah Melayu dan Bugis yang saling mempengaruhi selama dua abad. Begitu pentingnya paparan sejarah yang dibuat oleh Raja Ali ini, sehingga dilakukan semacam pembuatan dokumen untuk menjaga tradisi dan kebudayaan melayu dalam bentuk paparan sejarah.

Karya tulis yang lain pada awal abad ke-18 adalah karya sastra berupa hikayat dan pantun yang sedang naik daun pada masa itu. Hampir semua suku bangsa di nusantara belajar tentang pantun dan hikayat. Namun sekarang, budaya tersebut telah terkikis zaman, terutama kebudayan dalam bentuk materi yang sudah dilupakan orang, bahkan oleh pemilik budayanya sendiri yaitu orang Melayu.

Kini naskah-naskah kuno cerita Melayu hanya sebagai tumpukan buku usang penghuni perpustakan tanpa tersentuh tangan-tangan ajaib yang ingin membahasakan mereka kembali. Orang-orang Riau yang kini lebih hedonis dan kapitalis, merasa sudah tidak penting belajar cerita lama. Kini adalah zaman modern. Belajar teknologi dan memperkaya diri sendiri adalah budaya yang harus diutamakan.

Kebudayaan Melayu – Pewarisan Budaya di Tengah Modernisasi

Tidak bisa dipungkiri jika pengaruh kebudayaan lain juga berpengaruh terhadap keutuhan kebudayaan masyarakat tertentu, termasuk dengan kebudayaan melayu ini. Upaya pencatatan seprangkat aturan hidup dan adat-istiadat saja rasanya tidak akan cukup mengingat begitu kuatnya arus globalisasi. Kita juga tidak bisa menampik jika perkembangan teknologi juga memiliki peran besar terhadap keutuhan sebuah budaya.

Di satu sisi kita patut untuk menjaga kelestarian budaya kita, namun di sisi lain kita tidak bisa menampik perkembangan teknologi yang harus diakui banyak memberikan kemudahan dalam kehidupan kita. Namun, bukan berarti seperangkat aturan hidup dalam budaya kita bisa diabaikan begitu saja. Kita juga harus ingat bahwa perkembangan teknologi itu juga tidak selamanya membawa pengaruh positif dalam kehidupan masyarakat, terutama kebudayaan lokal.

Kita bisa melihat banyak kasus di mana kebudayaan yang sudah tergerus dengan perkembangan teknologi, meninggalkan tradisinya, seperti misalnya suku Asmat yang sekarag sudah menggunakan pakaian dan tidak menggunakan pakaian adat mereka. Di satu sisi kita melihat apa yang dianut oleh suku tersebut tidak sesuai dengan aturan secara global, namun sebuah budaya yang lahir dari cipta karsa manusia tidak bisa kita hilangkan begitu saja.

Kebudayaan melayu saat ini pun juga tidak berbeda jauh kondisinya dengan suku Asmat tadi. Misalnya untuk penggunaan bahasa melayu saja, saat ini masyarakat melayu khususnya yang menjadi perantau sudah jarang menggunakan bahasa asli mereka. Masukkan arus informasi yang menggunakan media internet yang sangat luas itu juga sedikit demi sedikit mempengaruhi cara pandang mereka. Jika hal ini dibiarkan tanpa adanya filter yang baik dari penganut kebudayaan, bukan tidak mungkin kebudayaan tersebut akan membentuk kebudayaan baru dan mengabaikan adat tradisi leluhur mereka.

Hal ini tentu saja tidak kita inginkan, terutama bagi masyarakat kebudayaan melayu. Bagaimanapun, tradisi kebudayaan tidak bisa kita hilangkan begitu saja hanya karena takut dikatakan tidak modern. Banyak kebudayaan lain yang bisa mengimbangi arus perkembangang teknologi, tetapi masih mempertahakan adat tradisi mereka dalam semua tahapan kehidupannya.

Kebudayaan yang mengatur kehidupan kita sealam ini tidak bisa diabaikan begitu saja. Terlebih lagi dalam menghadapi arus globalisasi dan modernisasi yang akan terus menerpa dalam kehidupan masyarakat. Jangan sampai kita melupakan adat tradisi leluhur yang lebih dahulu membentuk karakter kepribadian kita.

Tolong di SHARE :
Tweet
Artikel Terkait
  • Tari Payung – Seni Tari Klasik Ranah Minang
  • Simbol, Makna, dan Pengertian Pakaian Adat
  • Sejarah Melayu: Dari Unyil hingga ke Upin Ipin
  • Mengenal Pakaian Adat Melayu Riau
  • Berbalas Pantun tentang Batik
  • Mengenal Seni Budaya Melayu
  • Mengenal Kebudayaan Tulisan Arab Melayu
  • Baju Daerah Riau yang Meriah
  • Perihal kebudayaan Malaysia dan Indonesia
  • Melestarikan Warisan Budaya Melayu
  • Masyarakat Melayu dalam Indon-Malay
  • Pakaian Melayu sebagai Identitas Budaya
Anne Ahira - Asian Brain on Facebook


Beranda | Privacy

Kantor Pusat :

Komp. Buah Batu Regency Blok A2 No.9
Bandung Jawa Barat - INDONESIA